Janji Mas Kawin Keliling Dunia

Ketika saya melamar Tias dan menikah pada 9 September 1996 (berarti tahun 2021 ini perayaan kawin perak), saya memberinya mas kawin selain seperangkat alat salat dan cincin emas, juga berjanji akan membawanya keliling dunia. Tentu dengan catatan jika ada rezeki.

Dua puluh lima tahun kemudian saya baru membawanya ke 10 negara; Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, India, UEA, Saudi Arabia, Qatar, Hong Kong, dan Korea. Semetar itu saya suda ke 20 negara.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Hong Kong Surprised

Saat melamar Tias Tatanka saya berjanji memberinya mas kawin selain seperangkat alat salat dan cincin emas, juga keliling dunia. Sangat gombal. Tapi saya wujudkan pelan-pelan. Dibayarnya dicicil. Hingga sekarang sudah 10 negara yang Tias kunjungi.

Kali ini saya ingin bercerita perjalanan ke Hong Kong pada Februari 2017. Brtul-betul ala backpacker, low budget. Penerbangannya pun pukul 01:00 WIB, tiket promo dengan Air Asia.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Notes from Qatar

Mimpi apa semalam, tiba-tiba Dedi M Sugiharto alias Diday Tea bersama Komunitas Diaspora dan KBRI Qatar, mengundang saya dan Tias ke Qatar pada 2012. Bagi saya ini adalah sama saja dengan mencicil mas kawin keliling dunia saya kepada Tias. Diday adalah peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke 4 (2004). Dia bekerja di Qatar sejak 2008.

Tapi ada peristiwa menarik sebelum saya mendarat di Qatar. Pertama ketika kami berada di Mumbai. Pada hari yang ditentukan, kami ke bandara hendak terbang ke Dubai. Apa yang terjadi? Maskapai King Fisher India bangkrut. Tiket hangus. Ketika minta ganti, mustahil. Sedangkan kami sudah harus memberi pelatihan keesokan harinya.

Bersama Dubes Indonesia untuk Qatar, KBRI Doha, 2012.
Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Di Pedalaman Thailand Utara

Ini foto thaun 1990. Belum ada internet. Belum menggunakan Google maps. Di belantara Thailand Utara. Saya ingat naik bus bersama traveler mancanegara dari chiang May ke Chiang Rai, tujuannya ke Laos. Tiba-tiba saya berteriak, “Stop!” Bus berhenti.

Saya turun dari bus. Ada jalan tanah menuju perbukitan. Bismillah, saya jalan kaki seperti di Baduy, Banten Selatan. Melewati bukit, persawahan, mirip sekali seperti di lokasi film Rambo yang diperankan Sylverter Stalone.

Saya ingat tiba di sebuah desa menjelang maghrib. Semua orang memandang saya. Mereka memegangi tangan kiri saya yang buntung. Saya menggambar peta ASEAN di tanah. Saya jelaskan lokasi tempat tinggal saya. Mereka kagum.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Pesan Bapak: Bertualanglah…

Pesan Bapak, “Kalau kita menyelenggarakan pameran lukisan, pasti berharap orang banyak datang. Atau membngun rumah, kita undang orang-orang agar datang melihat ryumah kita. Begitu juga Tuhan yang menciptakan semesta raya ini. Tentu Tuhan pun ingin ciptaannya dilihat kita. Maka, pergilah dari rumah, bertualnalah. Kamu jangan seperti katak dalam tempurung.”

Pesan Bapak yang lain, “Bertebaranlah di muka bumi. Datangi seluruh penjuru bumi. Temui saudara-saudaramu dari berbagai suku bangsa. Beri mereka senyuman. Tebarkan bahasa perdamaian.” Bapk kini sudah 13 tahun meninggalkanku, menghadap-Nya. Tepatnya 15 Desember 2007 Bapak wafat. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Jika traveling ke Singapura, Cobain Sholat Subuh di Masjid Abdol Gafoor Little India

Apa yang akan Anda lakukan jika sedang traveling? Tentu kuliner, shoping, city tour, dan menikmati kulinernya. Jika semua itu sudah kita lakukan? Apa lagi? Biasanya saya menikmati cita rasa seninya dan kehidupan beragamanya. Nah, jangan jauh-jauh dulu, traveling ke Singapura dulu, deh. Jangan anggap traveling ke Singapura itu mahal, ya. Malah leih murah daripada traveling ke Bali atau Papua.

Biasanya setiap traveling, saya memaksakan diri harus sholat subuh di masjid kota itu. Ternyata di Singapura yang sering kita anggap liberal, kehidupan beragamanya indah dan tenang. Di depan setiap masjid, selalu ada hotel. Mau yagn kelas backpackers hotel (Rp. 250 ribu) juga ada. Di Singapura saya sudah sholat di hampir semua masjidnya. Di Masjid Sultan (1826) Kampung Bugis, Masjid Fatimah (1846) di kawasan Geylang, Masjid Jamie atau Chulia (1826) di China Town, Masjid Angolian (Little India),

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5