“Dahulu perpustakaan di SMP Yapis Manokwari juga seperti perpustakaan sekolah Bapak Ibu sekarang, tempatnya tidak menarik, tapi berkat kerjasama dewan guru untuk memajukan perpustakaan sekolah, sehingga sekarang SMP Yapis merupakan sekolah pertama di Manokwari yang memiliki perpustakaan berakreditasi A,” pancing Naharuddin dihadapan sepuluh orang peserta calon fasilitator perpustakaan yang berasal dari berbagai daerah di Papua Barat.

Menurut Naharuddin, langkah pertama untuk bisa mengusulkan perpustakaan terakreditasi adalah dengan membenahi gedung yang sudah ada, setelah gedung siap baru bentuk tim yang akan mengelola.

“Membentuk tim pengelola perpustakaan itu penting, karena mengelola perpustakaan butuh disiplin ilmu, sehingga saya dulu mendorong guru untuk ikut pelatihan tentang pengelolaan perpustakaan yang diselenggarakan oleh Perpusnas. Sekarang perpustakaan SMP Yapis sudah berbasis IT dan menerapkan aplikasi dalam peminjaman,”ujar Naharuddin, kepala SMP Yapis yang juga ketua PGRI Kab.Manokwari.

Banyak cara untuk menambah koleksi buku di sekolah. Pengelola jangan hanya mengandalkan dana BOS, tapi sekolah harus melakukan cara kreatif, misalnya membuka donasi buku seperti yang pernah dilakukan SMP Yapis, hasil dari donasi tersebut sangat membantu menambah koleksi perpustakaan sekolah. “Sekarang Perpustakaan SMP Yapis memiliki 1.900 lebih buku,” kenang Naharuddin.

Keberadaan Perpustakaan SMP Yapis yang sudah mengantongi akreditasi dari Perpusnas juga memacu sekolah lain meningkatkan kualitas layanan perpustakaan mereka, sekarang sudah ada enam perpustakaan sekolah di Manokwari yang sudah terakreditasi. “Saya mendorong sekolah lain untuk menjadikan sekolahnya terakreditasi, karena perpustakaan adalah cerminan dan tolak ukur citra daerah, peserta TOT Perpustakaan ini adalah ujung tombak,” tutup Naharuddin.




