Tokoh Kita: Bernadus Tukan Pulang ke Larantuka Membawa 9 Dus Buku

Selama 5 hari di Larantuka yang eksotis, saya mendengar nama “Bernadus Tukan”, pegiat literasi senior di Flores Timur. Pada Minggu 4 Agustus 2024. Siang hari. Saya diantar Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI, menuju markas Simpasio Institute di tengah kota.

Seorang lelaki tua dengan bersemangat menyambut saya. Kami bersalaman.

“GolA Gong, Pak. Duta Baca Indonesia,” saya menyalami.

“Bernadus Tukan,” katanya menjabat erat tangan saya.

Lelaki yang lahir 23 November 1959 itu mengajak saya ke perpustakaannya. Sebuah bangunan kecil sekitar ukuran 4 X 6 meter. Ada rak membentuk huruf “L”, meja, dan kursi plastik. Kami duduk di sana.

“Saya meneruskan kuliah pada 1979 di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta,” kenangnya.

Hidup merantau di Yogyakarta membuatnya jadi kreatif. “Saya menulis puisi, cerpen, esai di koran-koran dan majalah untuk membiayai kuliah,” dengan bersemangat menceritakan masa perjuangannya menuntut ilmu.

“Sayangnya, ketika saya datang ke Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi sudah pulang ke Lombok. Saya tidak sempat belajar kepadanya di Malioboro. Hanya mendengar ceritanya saja,” dia mengingat-ingat.

Pada 1982, dia menyelesaikan kuliah. Orang tua, saudara, dan teman-teman menduga dia akan bertarung di Jakarta. Tapi dugaan itu ditepisnya.

###

Apa yang bisa diandalkan di Larantuka pada tahun 1980-an? Perpustakaan belum ada. Seolah tidak ada kehidupan, karena anak-anak mudanya merantau ke Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta, “Saya memutuskan pulang kampung ke Larantuka. Saya harus membangun kampung saya, terutama di bidang pendidikan. Saya pulang membawa oleh-oleh sembilan dus buku,” semangatnya masih membara.

Ya, siapa lagi yang akan membangun kampung halaman selain dirinya?

Lalu dia menceritakan alasannya kenapa harus pulang ke Maumere pada pada 1 September 1982.

“Flores Timur itu kekurangan fasilitas dan kaya kesunyian, tapi sejarah pendidikannya luar biasa,” suaranya pelan, ada raut kesedihan di wajahnya.

Dia membaca, bahwa pada 3 Desember 1862 berdiri sekolah formal pertama yang dibangun misionaris. Ada 23 murid laki-laki dan 1 putri raja.

“Jadi sebetulnya perempuan di Maumere sudah mendapatkan pedidikan yang setara dengan laki-laki pada 1862. Sedangkan RA Kartini pada 1879. Berarti perempuan Maumere lebih dulu maju. Maka saya sebagai anak Maumere yang mendapatkan pendidikan modern di Yogyakarta harus meneruskan semangat ini,” nada suaranya bergelora.

Ya, dia terinspirasi dari sejarah pendidikan kotanya. Lantas dengan 9 dus buku itu, dia mendirikan perpustakaan di rumahnya. Nama perpustakaannya SWADAYA pada 1982.

Penamaan perpustakaannya itu didasari pada semangatnya untuk mandiri. Dia menolak jadi pegawai negeri. Untuk membiayai perpustakaannya, dia bekerja jadi guru di SMAN Larantuka sepanjang 1972-84.

###

Kini upayanya mencerdaskan lewat perpustakaan berbuah. Putranya, Berto Tukan, jadi penulis prosa. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Simpasio Institute yang bergerak di dunia seni juga lahir dan menjadi wadah berekspresi anak-anak muda Maumere.

Saat saya di Maumere, selain safari literasi, juga menengok pembangunan gedung perpustakaan megah 2 lantai, yang pembiayaannya dari dana alokasi khusus (DAK) Perpustakaan Nasional RI.

“Pepustakaan itu bukan gudang. Dia harus menjadi pusat dimana literasi itu terjadi. Literasi itu tidak bisa dengan instruksi dan anjura, tapi kita harus menyiapkan kondusi yang kondusif. Bagaimana literasi itu terjadi dalam bentuk kegiatan,” pendapatnya tentang keberadaan perpustakaan megah, yang masih dalam tahap akhir pembangunan.

Begitulah kisah saya tentang orang-orang hebat yang membangun kmpung halamannya dengan kekuatan buku. (*)

TENTANG TOKOH KITA: TENTANG TOKOH KITA: Kita sering mengabaikan lingkungan di sekitar kita. Kadang tidak sadar, bahwa orang-orang yang sukses dan menginspirasi itu tetangga terdekat. Tokoh Kita mencoba menyuguhkan orang-orang yang sudah memberi kita inspirasi. Tokoh inspiratif kita bisa saja ayah-ibu dan saudara kita. Dia guru kita. Sahabat kita yang berprestasi di seni dan olahraga, siapa pernah tahu. Tukang bakso yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jadi sarjana. Silakan kirim ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Tokoh Kita. Sertakan foto sebanyak mungkin untuk mendukung tulisan. Panjang tulisan 1000-1500 kata. Belum ada honornya, masih mencari sponsor.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==