Oleh: Naufal Nabilludin
Hari ini, aku memulai perjalanan menuju timur. Pagi yang hening itu, di bawah sinar matahari yang malu-malu muncul aku berpamitan kepada orangtuaku. Doa mereka mengiringi langkahku. Aku merasa ringan sekaligus berat; ringan karena antusias, berat karena rindu yang mulai terasa bahkan sebelum jarak memisahkan kami.
Perjalanan ini dimulai dari Balaraja menuju Stasiun Pasar Senen, kemudian ke Stasiun Surabaya Pasar Turi. Aku menaiki kereta Airlangga, duduk di gerbong ekonomi paling depan dengan nomor kursi 19E. Kursi di dekat jendela—tempat favoritku.

Dari sini, aku bisa melihat pemandangan yang berubah-ubah: sawah hijau yang membentang, perkampungan kecil dengan anak-anak berlarian, hingga gedung-gedung yang sesekali melintas cepat. Aku merasa seperti sedang menonton dunia, meski sebenarnya akulah yang bergerak.
Perjalanan ini akan memakan waktu 12 jam—cukup lama untuk merenung, memikirkan apa arti perjalanan ini bagiku.

Sesampainya di Stasiun Surabaya Pasar Turi, aku akan bertemu Fauzi, teman sekamarku saat program pertukaran mahasiswa di Gorontalo dulu. Ada rasa hangat saat memikirkan pertemuan ini.
Aku membayangkan kami akan duduk di ruang tamu rumahnya, berbagi cerita lama, mungkin juga berbagi tawa. Di rumahnya aku akan menghabiskan tiga malam, sebelum melanjutkan langkah ke Lombok untuk program Jelajah Bumi Pertiwi (JBP)#4 bersama Sisi Indonesia.

Jelajah Bumi Pertiwi #4 Lombok
Rombongan JBP akan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Pelabuhan Lembar di Lombok. Kapal KM Egon akan menjadi saksi perjalanan laut kami selama kurang lebih 23 jam.
Aku membayangkan debur ombak yang mengiringi perjalanan, langit malam yang bertabur bintang, dan percakapan santai dengan teman-teman baru. Entah apa yang menanti di sepanjang pelayaran itu, tapi aku siap mengarungi waktu dan menemukan makna di setiap detiknya.

Di Lombok, kami akan mengabdi di Desa Bilok Petung, Sembalun, selama sepekan penuh, 20-26 Januari 2025. Desa ini terletak di kaki Gunung Rinjani. Aroma tanah setelah hujan, kabut yang turun pelan-pelan, dan suara riuh anak-anak desa yang menyambut kedatangan kami.
Di sana, kami akan hidup bersama masyarakat, belajar dari mereka, dan semoga bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk mereka.
Perpus Lembah Hijau
Namun perjalananku tidak selesai di sana. Ketika teman-teman JBP pulang, aku akan melanjutkan langkahku ke Perpustakaan Lembah Hijau di Lombok Timur. Di sana, aku akan bertemu Kak Lalu Abdul Fatah, seorang penulis dan pegiat literasi. Selama dua sampai tiga hari, aku akan belajar darinya, berbagi pengalaman, dan barangkali membawa pulang sudut pandang baru tentang dunia menulis dan membaca.

Setelah itu, aku berencana untuk menjelajah Lombok dan Bali, tapi perjalanan ini sifatnya kondisional. Aku ingin memberi ruang bagi kejutan-kejutan kecil yang sering muncul ketika kita membiarkan diri tersesat di tempat baru. Dan akhirnya, ketika waktunya tiba, aku akan pulang.
Pulang, bagiku, bukan hanya tentang kembali ke rumah. Ini adalah perjalanan untuk memahami arti rindu dan rumah itu sendiri. Untuk membawa pulang cerita, pengalaman, dan pelajaran yang mungkin tidak bisa kutemukan di tempat lain.
Terimakasih Semuanya
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalananku. Kepada orangtuaku, yang selalu menyemangatiku meski mungkin ada kekhawatiran dalam hati mereka.
Kepada Mas Gong dan Bu Tias, terima kasih atas Rumah Dunia, tempat pertama yang membuatku percaya bahwa mimpi bisa tumbuh seperti pohon. Kepada teman-teman Relawan Rumah Dunia, kalian adalah keluarga kecil yang selalu mendorongku melangkah lebih jauh. Terimakasih aku ucapkan untuk Liefde yang selalu mendukung dan membantu banyak hal dalam perjalanan ini.

Kepada Baznas Provinsi Banten, Pak Arif, dan keluarga SKSS Baznas Banten, terima kasih atas dukungan yang tak henti-henti. Terima kasih juga kepada pihak-pihak yang mungkin tidak kusebutkan namanya, tetapi turut menjadi bagian dalam perjalanan ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan sebaik-baiknya balasan.
Hari ini adalah awal. Langkah pertama. Mungkin sederhana, tapi siapa yang tahu cerita apa yang menungguku di ujung timur nanti?
Semoga setiap jejak langkah ini bukan hanya mengantarku ke tempat baru, tapi juga membuka pintu-pintu makna yang selama ini tersembunyi. Dan ketika akhirnya aku pulang, aku ingin membawa bukan hanya cerita, tapi juga diriku yang telah tumbuh.




