Apa yang dikatakan Fred betul. Terasa sekali kota misionarisnya. Di mana-mana gereja dan gedungnya tua-tua. Tapi itu bukan berarti Larantuka menolak Islam. Masjid ada di pusat kota, saya bahkan salat di sana. Toleransi beragamanya luar biasa. Saya membayangkan natalan di Larantuka meriah. Kata Fred, “Seperti di Portugis!” Sayang belum ada kesempatan.

Membayangkan Natalan di Kota Tua Larantuka pasti indah. Saya mengenal Hironimus, Maksimus, Zaeni, dan banyak lagi. Mereka ramah dan sangat baik menjamu kami yang muslim. Di sebuah gereja, kami diingatkan agar jangan makan babi. Sangat indah hidup berdampingan.

Larantuka, kota kecil menghadap laut yang tak bisa aku lupakan. Suatu saat aku akan datang lagi ke sini bersama istri. Berjalan di Taman Herman Fernandes, mercusuar, dan menimakti suasana kota tua bersama penduduknya yang ramah dan baik hati.



