Wah, unik juga. Di antara sesaknya rumah yang berdempetan, menara air yang batanya tidak diplester berdiri menjulang. Ada halaman seukuran lapangan badminton, seolah jadi halaman sebuah masjid. Menara air ini kalau sepintas jadi seperti menara masjid. Saya beruntung bisa berfoto dengan latar belakang menara air. Rudi Rustiadi sebagai mat kodak.

“Kalau ada perayaan hari besar, di sini ramai. Istimewa, ya,di kawasan padat masih ada ruang terbuka,” kata Yudi. Lalu dia menunjuk ke sisi timur. Ada pohon jambu batu. “Tadinya pohon pisang. Tapi kemudian masyarakat menebang, karena orang-orang suka lihat pocong.”

Kapan Menara Air ini berdiri? Kata Yudi, “Antara tahun 1917-1920.” Yudi bercerita lagi, “Saya membayangkan dulu, sebelum sepadat ini, menara air ini pasti terhubung ke Balai Yasa, stasiun kereta api Manggarai.” Sekarang memang seolah terhimpit. Selain rumah penduduk, juga bangunan SMPN 33.

Hingga hari ini masih berfungsi. Dulu airnya menyedot sodetan kali Ciliwung. Sekarang mengebor di areal SMPN 33. Jadi, masih berfungsi. Pipa-pipanya ditanam di tanah. PT Kereta Api Indonesia sendiri mengamankan menara air sebagai warisan cagar budaya perkeretaapian seperti halnya stasiun tua lainnya di Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. (*)



