Oleh: Alma Lysianne
Perjalanan ini berawal dari rasa ingin tahu. rasa yang menuntun saya, seorang remaja dari Solo, untuk menapaki jejak budaya yang hidup berabad-abad di Pulau Bali. Ubud memang sudah terkenal dengan nuansa seninya, namun saya penasaran pada ritual suci yang sering disebut “melukat”. Konon, airnya bisa membersihkan hati, menenangkan pikiran, dan merawat tubuh dari energi negatif.
Saya memutuskan untuk menuju Pura Tirta Empul, yang terletak di Tampaksiring, sekitar 40 menit dari Ubud. Tiket masuknya terjangkau, sekitar Rp 75 ribu. Dari Denpasar, saya menempuh perjalanan dengan taksi online seharga Rp 300 ribu sekali jalan. Begitu memasuki kawasan pura, suasana magis langsung menyergap. bau dupa menenangkan, gemericik air suci yang menenangkan jiwa, dan barisan payung kuning yang meneduhkan arca-arca suci.
Gerbang candi bentar di area petirtaan Tirta Empul, dihiasi jalur air suci yang mengalir abadi, menyambut siapa saja yang ingin membersihkan hati.
Sebagai non-Hindu, saya sempat ragu. apakah saya boleh ikut? Seorang pemandu pura meyakinkan saya bahwa banyak wisatawan lintas agama mencoba melukat sebagai bentuk penghormatan budaya. Saya pun berpakaian sopan dengan kain kamen dan selendang kuning yang dipinjamkan. Tidak ada syarat rumit. hanya niat baik, kesopanan, dan rasa hormat.
Langkah kaki saya bergetar saat menapaki kolam utama. Airnya jernih, terasa sejuk di telapak kaki. Suara burung dan gamelan Bali dari kejauhan seolah menjadi nyanyian penyambut tamu. Saya bergabung dengan puluhan orang lain, berbaris di bawah pancuran air. Setiap pancuran memiliki nama, doa, dan maksudnya masing-masing. Ada untuk memohon rezeki, kesehatan, ketenangan hati, bahkan untuk menolak bala.
Saya mencelupkan kepala di bawah salah satu pancuran. Rasanya menakjubkan. Airnya menghantam ubun-ubun, mengalir di wajah, lalu menetes ke dada. seakan mencuci beban dan penat yang tak pernah sempat diungkapkan. Mungkin ini yang orang sebut healing, tetapi terasa lebih dalam, lebih jujur.
Selesai berendam, seorang pemangku (pendeta) menepuk bahu saya, tersenyum, lalu memberikan setitik bija (beras putih) di dahi. Saya menunduk hormat. Walaupun saya Katolik, tidak ada satu pun yang memaksa untuk berdoa sesuai ajaran Hindu. Semua diterima sebagai bentuk toleransi budaya.
Setelahnya, saya duduk di bale-bale kayu, menatap air kolam yang berkilau di bawah matahari. Perasaan damai meresap. Pikiran saya kembali pada banyak teman di Solo yang sering merasa tertekan oleh sekolah, keluarga, atau tuntutan prestasi. Saya membayangkan seandainya semua orang punya kesempatan semudah ini untuk membasuh luka batin, mungkin kita tidak akan mudah marah, benci, atau saling menjatuhkan.
Melukat di Tirta Empul membuat saya mengerti bahwa budaya bisa menjadi jembatan, bukan sekat. Saya tetap Katolik, saya tetap berdoa sesuai iman saya, tetapi saya ikut merasakan khusyuk dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan di pura ini.
Saya mengamati anak-anak Bali yang datang bersama orang tua mereka. Mereka tampak begitu tulus, menyiramkan air ke kepala sambil berdoa lirih. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa malu. Hanya rasa syukur. Saya sempat berbincang dengan seorang ibu yang rutin melukat setiap bulan purnama. Katanya, air suci ini menenangkan hatinya saat hidup terasa berat. Saya pun paham: air bisa menenangkan siapa saja, entah dalam ritual agama mana pun.
Selesai melukat, perut lapar memanggil. Saya mencoba ayam betutu di warung lokal dekat parkiran, seporsi hanya Rp 45 ribu dengan nasi hangat dan sambal matah. Segelas es daluman (sejenis cincau hijau Bali) menyejukkan tenggorokan, sekitar Rp 10 ribu.
Untuk penginapan, saya memilih Anumana Hotel Ubud, lokasinya strategis dekat Monkey Forest dan suasana sangat nyaman, dengan kolam renang bergaya tropis dan balkon pribadi. Harga per malamnya mulai sekitar Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung musim dan tipe kamar.
Kalau mau lebih hemat, homestay tradisional di sekitar Tampaksiring juga tersedia dengan tarif mulai Rp 200 ribu semalam.
Estimasi biaya trip ini (3 hari 2 malam, Solo–Bali):
Tiket pesawat Solo–Denpasar PP: Rp 1,8 juta
Transport Denpasar–Tirta Empul PP: Rp 600 ribu
Penginapan 2 malam (Anumana Hotel,Deluxe room): Rp 2.800.000
Kuliner & jajan: Rp 300 ribu
Tiket pura + kain sarung: Rp 95 ribu
Oleh-oleh: Rp 345 ribu
Total kira-kira Rp 5,9 jutaan. Biaya pengalaman di Tirta Empul bisa sangat bervariasi tergantung pilihan transportasi, akomodasi, dan aktivitas tambahan, termasuk donasi sukarela serta wisata lain di sekitarnya.
Malam harinya, saya kembali ke kamar di Anumana Hotel Ubud. Dari balkon kamar yang menghadap kolam renang berhiaskan air mancur anggun, saya mendengar suara jangkrik bersahut-sahutan. Langit di atas Ubud masih bertabur bintang. Dalam hati, saya bersyukur sudah menyaksikan sendiri bagaimana air suci di Tirta Empul mengajarkan manusia untuk rendah hati. bahwa siapapun kita, air tetap memeluk, membersihkan, dan menguatkan.
Esok paginya, sebelum pulang ke Solo, saya sempat duduk lagi di teras kamar Anumana Hotel. Matahari menembus dedaunan, menimbulkan bias keemasan di atas kolam. Di bawah, beberapa tamu asing tampak bercengkerama sambil berenang santai. Saya menghirup udara pagi dalam-dalam, mencoba mengingat semua detail perjalanan ini. percikan air suci di kepala, senyum para pemangku, dan hangatnya masyarakat Bali yang terbuka menyambut siapapun.
Di Ubud, perasaan spiritual bukan hanya milik satu agama, tetapi milik siapa saja yang mau membuka hati. Saya melihat bagaimana budaya Bali menanamkan nilai-nilai kesederhanaan sekaligus penghormatan terhadap alam. Di pura, tak ada keributan, tak ada suara berlebihan, semua orang berbicara pelan dan menundukkan kepala sebagai bentuk penghargaan. Hal-hal kecil seperti ini membuat saya sadar betapa indahnya hidup dalam toleransi dan saling menghargai, meski berbeda keyakinan.
Saya juga belajar banyak dari ritual melukat ini. Bagi masyarakat Hindu Bali, air bukan sekadar unsur alam, tetapi simbol pembersihan lahir batin. Bahkan wisatawan seperti saya pun boleh ikut merasakan khasiatnya. selama tetap sopan, menghargai aturan pura, dan bersikap hormat. Momen menundukkan kepala di bawah pancuran adalah pengingat sederhana bahwa semua manusia pasti pernah berbuat salah, dan berhak mendapat kesempatan untuk membersihkan diri.
Kalau kamu tertarik mencoba, pastikan membawa baju ganti dan kain kamen (atau bisa sewa di sana). Datang pagi hari jauh lebih sepi, sehingga kamu bisa menikmati suasana dengan lebih khusyuk. Jangan lupa juga membawa uang kecil untuk donasi sukarela, karena pura ini tetap memerlukan biaya pemeliharaan.
Perjalanan ini bagi saya bukan sekadar liburan, tetapi pengalaman belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati. Ada rasa lega ketika semua penat dan stres, seolah dilarutkan air pancuran. Saya pulang dengan hati yang lebih lapang, seolah disadarkan kembali bahwa segala pencapaian, ambisi, dan kebanggaan kita pada akhirnya akan hanyut juga oleh waktu. yang tersisa hanya ketulusan dan rasa syukur.
Saya pulang dengan sedikit basah di hati. bukan air fisik semata, tetapi rasa sejuk yang lahir dari budaya Bali. Ubud dan Tirta Empul, keduanya menyentuh bagian terdalam dalam diri saya, seakan berbisik, “kemanapun kamu pergi, rawatlah hatimu.
Perjalanan ini tidak membuat saya berpindah keyakinan. Saya tetap memegang doa-doa Katolik saya, tetapi pulang dengan penghargaan baru pada budaya orang lain. Melukat memberi saya pelajaran bahwa air tidak membeda-bedakan siapa yang datang. Air hanya mau membersihkan, merangkul, dan memeluk.
Kadang kita butuh cara sederhana untuk merasa bersih kembali. Tidak harus mahal, tidak harus jauh cukup setulus air, yang mengalir tanpa pamrih.
Menutup catatan perjalanan ini, saya ingin berbagi satu pesan: kadang kita mengejar ketenangan di tempat jauh, padahal kedamaian sejati lahir dari kemampuan memaafkan diri sendiri. Tirta Empul hanya salah satu jembatan untuk sampai ke sana. Jika suatu saat kamu merasa penat, cobalah menghampiri air, entah sungai, laut, atau air suci di pura. dan biarkan dirimu terbasuh. Karena air selalu tahu caranya menguatkan kita, tanpa menuntut balas apa pun.
Tentang Penulis:
Alma Lysianne adalah pelajar SMA Katolik di Surakarta. Ia gemar menulis, membaca budaya Nusantara, dan menelusuri jejak spiritual di berbagai tempat. Bagi Alma, menulis adalah cara menyapa hati pembaca dengan empati dan rasa ingin tahu. Alma percaya bahwa keberagaman adalah kekayaan yang perlu dijaga dan diceritakan terus-menerus. Saat ini ia aktif menulis di sela kesibukan sekolahnya.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


