“Foto dulu, ya,” kataku. Saya paling senang berfoto dengan landmark unik. Tugu Pena ini sangat ikonik. Di kampungku, Kota Serang-Banten, tidak ada landmark seperti ini. Kecuali di Banten Lama dengan menara masjidnya yang ikonik.

“Orang-orang menyebutnya ‘simpang tentara pelajar’ atau ‘simpang pulpen’ atau ‘simpang Darussalam’. Bahkan semua orang di Banda Aceh menyebutnya Simpang Mesra,” Dr. Nazarudin Musa yang juga petinggi di UIN Ar-Raniry Aceh. “Tugu ini sebagai lambang kota pendidikan,” kata Nazarrudin. menjelaskan sambil tersenyum.


Ceritanya begini. Ada mobil angkutan kota yang digemari mahasiswa. Tugu Pena, eh, simpang mesra ini sangat strategis, karena bisa menjngay Banda Aceh, Kampus Darussalam, dan dermaga Malahayati Besar. Nh, jika mobil angkutan itu melintas di sini, pasti akan membelok dengan tajam.
“Nah, cewek-cewek yang naik itu, pasti akan tubuhnya akan doyong. Makan dia secara reflek akan berpegangan kepada penumpan yang duduk di sebelahnya supaya tidak jatuh. Disebutlah ‘simpang mesra’ karena peristiwa itu sangat romantis,” Dr. Nazarudin tertawa.

Kalau ke Banda Aceh, cobain saja naik angkutan kota. Nanti pas di tugu pena itu, jangan lupa pegangan ke penumpang di sebelahnya dengan mesra, ya. Tapi lihat-lihat dulu. Kalau bapak-bapak atau ibu-ibu, ya, jangan ya dek jangan.
Gol A Gong



