Oleh Ardian Je
Cinta adalah tema abadi dalam karya sastra, termasuk cerita pendek (cerpen). Hampir semua—atau mungkin memang semua?—sastrawan pernah menulis karya sastra dalam bentuk novel, cerpen, puisi, naskah drama atau lainnya, atau setidaknya memasukkan unsur cinta ke dalam karya mereka.
Apa pasal? Mungkin karena cinta adalah sesuatu yang sangat fundamental bagi manusia. Cinta adalah fitrah manusia. Dan semua manusia, bahkan semua makhluk hidup, pasti memilikinya dan mengalaminya.


Cinta, dalam aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merupakan sebuah adjektiva atau kata sifat (apakah tim penyusun KBBI yakin dengan hal ini, memasukkan kata cinta sebagai adjektiva?) yang bermakna (1) suka sekali; sayang benar; (2) kasih sekali; terpikat (antara lelaki dan perempuan); (3) ingin sekali; berharap sekali; rindu; (4) susah hati (khawatir); risau.
Sementara itu, Oxford Basic English Dictionary mengelompokkan kata love (cinta dalam bahasa Indonesia) ke dalam noun (nomina, kata benda) dan verb (verba, kata kerja). Love sebagai noun bermakna (1) the strong warm feeling you have when you like somebody or something very much; (2) a person, a thing or an activity that you love; (3) a word in the game of TENNIS that means zero. Love sebagai verb bermakna (1) to have a very strong warm feeling for somebody; (2) to like something very much.
Kata cinta itulah yang kemudian dicoba untuk diracik, dibahas, diwujudkan dan ditafsirkan oleh Armakalaya, seorang penulis dan guru Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Serang, dalam sebuah kumpulan cerpen yang berjudul Wanita Kabut (Gong Publishing, Juli 2025).

Ada 20 cerpen yang terangkum dalam kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis yang bernama (dan bergelar) lengkap Agus Helfi Rahman, S.Pd., M.Si ini. Semuanya tentang cinta dan segala macam hal yang melingkarinya. Saya curiga. Ketika ia menulis satu per satu cerpen ini, jangan-jangan ia sedang jatuh cinta! Kenapa saya bilang begitu? Karena setiap karya yang lahir adalah sangat mungkin bisa berangkat dari pengalaman pribadinya, kendati bisa pula berangkat dari pengalaman atau cerita orang lain ataupun hal lainnya.
Cinta macam apa yang diracik Armakalaya dalam cerita-ceritanya? Ialah cinta yang membangkitkan gairah hidup seseorang yang selama ini telah layu dan hampir mati, cinta yang mati dibunuh perselingkuhan, cinta yang menggambarkan kepedihan karena kehilangan orang yang dicintai, cinta palsu yang di-setting sebagai alat untuk pemuas berahi dan meraih ilmu kebatinan dan kecantikan yang abadi, cinta yang tumbuh secara tiba-tiba tanpa menilik waktu dan musim yang tepat, cinta yang memperlihatkan betapa kuat dan perihnya kesetiaan, cinta yang mengumbar nafsu yang kemudian menghancurkan kehidupan, cinta berbaju kepura-puraan, cinta yang selalu merasa kurang—ketidakpuasan terhadap pasangan, cinta yang diungkapkan, cinta segitiga antar-teman, cinta yang terpendam, cinta yang melahirkan rindu atau rindu yang melahirkan cinta, dan cinta untuk menguji seseorang.

Dari 20 cerita yang ditulis Armakalaya dalam kumpulan cerpen ini, cerpen berjudul Wanita Kabut—yang dijadikan judul buku—merupakan cerpen yang paling berhasil digarap saya kira. Ia berhasil meracik cerita cinta yang kompleks namun membekas dalam ingatan saya setidaknya.
Ia memadukan hubungan cinta yang kompleks antar-tokoh dan unsur tradisi magis berupa tenung atau pelet atau asihan—suatu hal klenik untuk menjerat hati dan pikiran seseorang agar selalu tertuju kepada orang tertentu—serta kepentingan ekonomi dan pemenuhan gairah berahi. Si pengirim tenung yang awalnya hanya disuruh gurunya melakukan itu untuk mendapatkan ilmu gaib dan kecantikan yang abadi malah benar-benar jatuh cinta dan “mengkhianati” gurunya dan jadilah ia wanita kabut.
Cerpen ini akan lebih menarik lagi apabila penggambaran sosok fisik si wanita kabut digambarkan dan dikembangkan. Apakah wanita kabut itu makhluk yang kasat mata atau bukan? Apakah ia bisa berkomunikasi dengan lelaki yang dicintainya atau tidak? Begitulah.
Hal ini terjadi pula pada cerpen-cerpen Armakalaya yang lainnya: potensi cerita seharusnya bisa dikembangkan lebih jauh dan lebih luas lagi. Sebagian besar cerita “diselesaikan” terlalu cepat, sehingga pembaca akan merasa cerita tiba-tiba harus berhenti begitu saja, padahal sedikit lagi akan mencapai klimaks dan orgasme cerita bagi kedua pihak antara cerita dan pembaca.

Dalam cerpen yang berjudul Amara dan Amira, krisis eksistensial yang dialami tokoh Arka yang berprofesi sebagai penulis dan pemikir seharusnya bisa dikembangkan lebih jauh lagi, lebih dalam lagi; bagaimana ia merasa kehilangan sang kekasih Amara—seberapa frustasi ia? Dan lagi, ketika ia mulai bangkit dan berkarya dan karyanya diterima masyarkat—itu seperti hal yang sangat berlebihan, jika kita berkaca pada realitas sosial yang ada di sekitar kita—sekalipun itu adalah cerita fiksi. Di kota mana sebenarnya si tokoh utama hidup? Apakah animo literasi di kota itu sampai segitunya sehingga karyanya diterima masyarakat?
Logika cerita semacam itu juga muncul di beberapa cerpen yang lain, seperti guru yang mendapatkan skorsing selama tiga bulan karena tidak fokus kerja, lantaran ia melakukan skandal perselingkuhan—apakah itu tidak terlalu lama dan memberatkan? (cerpen Aleena); Sulaeman yang di-PHK dan jatuh miskin sebagai dampak negatif pandemi COVID-19 tapi masih bisa berkumur dengan mouthwash (cerpen Cemburu).
Hal lain yang jadi catatan saya adalah kemunculan tokoh bernama Arya si penulis (dan beberapa kali Jenny si guru yang mengajar di Bali) dalam beberapa cerita, yaitu Aleena; Lovey, Dovey, Jenny; Rockaholic; Serendipity, dan Okta. Kenapa tokoh Arya muncul dalam banyak cerita? Seberapa besar cinta Armakalaya sebagai penulis kepada Arya tokoh rekaannya? Atau jangan-jangan, Arya adalah pengejawantahan diri Armakalaya sendiri? Ambil saja dua huruf pertama dan dua huruf terakhir dari nama Armakalaya, maka hasilnya Adalah Arya!

Selain itu, ada juga cerita yang tercantum ke dalam kumpulan ini, namun belum memenuhi syarat sebagai cerita pendek. Mereka masih berbentuk sebuah surat, esai atau gumam, seperti cerita berjudul Bu; J’En; dan Tunggu Bunda di Surgamu. Unsur-unsur instrinsik seperti konflik, tokoh, alur, latar tempat dan waktu harus terpenuhi dalam sebuah cerita, meski tak selamanya harus seperti itu. Namun pada dasarnya cerpen sebisa mungkin harus memberikan ledakan di hati dan pikiran pembaca dalam sekali baca.
Namun, secara umum, Armakalaya dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Wanita Kabut ini sudah meracik cerita cinta yang variatif dan membawa pesannya masing-masing kepada pembaca. Dari buku ini kita banyak belajar bahwa cinta memiliki cakupan yang sangat luas, tidak hanya kepada seorang kekasih atau pasangan, melainkan juga kepada anggota keluarga, hobi dan lainnya. Kecintaan kita pada sesuatu bisa saja membuahkan sesuatu yang terasa manis dan indah atau pahit dan penuh luka. Dari cinta itu pulalah kita menemukan pelajaran penting sebagai manusia.
Rumah Baca Bojonegara, Sabtu, 28 Februari 2026 07:55 WIB
Tentang Penulis:
Ardian Je adalah relawan di Rumah Dunia, Kota Serang, Banten. Ia juga merupakan pendiri Rumah Baca Bojonegara dan pendidik di SMP Unggulan Uswatun Hasanah Cilegon. Ia menulis puisi, esai, cerita anak dan lainnya. Ia adalah alumi program penulisan MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) kategori esai pada tahun 2019. Buku kumpulan esainya bertajuk Mendekatkan Siswa pada Buku (Gong Publishing, 2020). Kini ia tengah mencari penerbit untuk buku kumpulan esai politik-sosial-budayanya dan merampungkan buku kumpulan esai khusus di bidang bahasa. Ia juga seorang nakama, sebutan untuk pencinta manga dan anime One Piece karya Eiichiro Oda.



