Oleh: Diasti Sukma Ekasanti
Akhir pekan datang kembali menandakan tiba waktunya untuk rehat sejenak dari rutinitas harian. Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat saya meneruskan studi, menawarkan beragam opsi aktivitas dan tempat untuk menghabiskan waktu libur. Setelah sempat menjelajahi pusat Kota Yogyakarta–jantung provinsi ini, hingga kawasan di utara dan selatan kota tersebut, datanglah saatnya untuk mengunjungi sisi lain dari kota wisata ini.
Julukan kota wisata memang tidak main-main disandangnya. Dari waktu ke waktu, banyak objek wisata bermunculan dan seketika menjadi trending di media sosial. Objek wisata sejenis ini biasanya ramai dikunjungi oleh para wisatawan pada awal mula pembukaannya dan berangsur meredup hingga dapat berinovasi dan menarik minat wisatawan kembali. Salah satu objek wisata tersebut yaitu Obelix Village yang merupakan objek wisata buatan berkonsep amusement park.
Obelix Village beroperasi dari pukul 08.00 (hari Sabtu, Minggu, Senin, dan Selasa) atau pukul 10.00 (hari Rabu, Kamis, dan Jumat) hingga pukul 21.00. Objek wisata ini beralamat di Jalan Kenangan, Krandon, Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Universitas Gadjah Mada, Obelix Village dapat ditempuh dengan menyusuri Jalan Magelang selama kurang lebih 20 hingga 30 menit.
Titik lokasi objek wisata ini sudah dapat diakses dengan Google Maps sehingga para wisatawan dapat mencapainya dengan mudah. Begitu memasuki kawasan objek wisata, wisatawan akan diarahkan melewati tempat parkir yang cukup luas dan dapat menampung kendaraan roda dua, roda empat, dan bahkan bus wisata.
Setelah melewati tempat parkir, wisatawan akan diarahkan melewati gerbang utama dengan loket tiket di samping kirinya. Di kawasan objek wisata ini, atraksi yang ditawarkan cukup banyak, seperti: Mini Zoo, Secret River Deck, Flower Garden, dan Mini Farm. Selain itu, terdapat juga wahana permainan Paintball & Gel Blaster yang ditawarkan untuk wisatawan.
Kawasan Obelix Village juga dilengkapi dengan amenitas, seperti: restoran, coffee shop, dan toko oleh-oleh (Pulen & Kopi Ponti, Lalawuh Garden, Petit Paris Boulangerie, dan Bakpia Juwara Satoe). Amenitas di objek wisata ini terpusat di area taman tengah, yaitu area yang pasti dilewati oleh wisatawan setelah melalui gerbang utama.

Harga tiket yang dipatok untuk masing-masing atraksi juga beragam. Wisatawan yang ingin melihat-lihat Mini Zoo tidak perlu membayar biaya tiket, alias gratis. Walaupun begitu, terdapat biaya makanan hewan sebesar Rp15.000,00 yang dibebankan bagi wisatawan yang ingin memberi makan binatang di kebun binatang mini ini.
Binatang-binatang di sini juga sangat beragam, terdapat kuda, kambing, rusa, kelinci, hamster, ular, iguana, merpati, bebek, menthok, angsa, ayam, kalkun, kura-kura, dan lain sebagainya. Hewan-hewan itu pun terlihat sudah terbiasa dengan kedatangan manusia karena dengan santainya tetap beraktivitas walaupun wisatawan datang mengerumuninya. Selain memberi makan, wisatawan yang datang juga datang mengelus-elus hewan-hewan itu maupun sekadar memantau gerak-geriknya sembari duduk di tempat duduk yang disediakan.

Di tengah asyiknya menelusuri kebun binatang mini itu, saya dan teman saya menemukan sebuah tangga yang mengarah ke sebuah sungai. Tangga itu terhubung dengan wahana Secret River Deck, yaitu deck kayu yang dapat menjadi opsi tempat singgah bagi wisatawan untuk menikmati suara aliran air yang menabrak batu-batu besar di sepanjang sungai tersebut.
Tempat tersebut juga dilengkapi dengan tempat duduk sehingga cocok untuk menjadi tempat istirahat sejenak sambil mengobrol santai. Kombinasi material kayu dan aliran air sungai membuat suasana di tempat tersebut menjadi alami. Walaupun demikian, kombinasi keduanya juga membuat tempat tersebut terasa sangat lembab sehingga memunculkan kekhawatiran akan kedatangan binatang lain yang tidak dipamerkan di kebun binatang mini ini dan menyukai kelembaban, misalnya ular, terlebih lagi karena tempat tersebut berkonsep terbuka.

Setelah menjelajahi Mini Zoo dan Secret River Deck, kami tiba kembali di taman tengah. Karena kami datang cukup pagi, yaitu sekitar pukul 09.30, tidak ada kedai kecil yang buka saat itu. Baru setelah berjalan-jalan selama kurang lebih satu jam, terlihat ada kedai roti yang telah buka. Kami pun memesan roti dengan topping es krim coklat seharga Rp13.000,00 untuk meredakan rasa lapar sebelum berpindah tempat untuk makan siang. Namun, kami perlu menunggu pesanan kami disiapkan selama 15 menit sebab kedai tersebut baru saja dibuka.
Cuaca seketika berubah menjadi gerimis sehingga mau tidak mau kami harus berteduh di dinning area Lalawuh Garden. Bangunan restoran tersebut bergaya tradisional Jawa berbentuk joglo. Terdapat dua bangunan yang disatukan dengan “jembatan” di atas kolam ikan. Satu bangunan berkonsep tertutup dan dengan gaya interior yang lebih modern dan kebarat-baratan, sedangan bangunan lainnya berkonsep semi terbuka.
Kami duduk di dinning area bangunan depan, yaitu bangunan semi terbuka. Saat kami duduk di sana, kami dapat mengamati pemandangan taman tengah yang sangat asri dan dikelilingi oleh persawahan. Sayangnya, karena dekat dengan kolam ikan, aroma amis khas ikan tercium dengan jelas, terutama ketika angin berembus ke arah kami.
Sepanjang perjalanan kami menelusuri objek wisata ini, bahkan saat kami menyantap roti-es krim, kami ditemani oleh seekor kucing hitam yang seringkali berjalan mondar-mandir, layaknya seorang penguasa teritori ini. Walaupun kami tidak keberatan dengan kedatangannya, pramusaji di restoran ini tetap sigap menjaga kenyamanan pelanggannya dengan berusaha mengusir kucing tersebut, meskipun tak berselang lama ia pun datang kembali.

Secara keseluruhan, objek wisata ini cukup unik dan cocok untuk menjadi pilihan bagi wisatawan keluarga yang berkunjung bersama anak-anak. Walaupun berkonsep natural sebab memadukan lanskap alami dan satwa kebun binatang, lingkungan objek wisata ini tetap perlu dibersihkan dan dirawat dengan rutin untuk menjamin kenyamanan dan keamanan pengunjung, baik secara visual, aroma, maupun perasaan pengunjung secara keseluruhan.
Beralih dari Obelix Village, kami berangkat menuju Ayam Rampah 67 Palagan. Restoran ini beralamat di Jalan Gondang Legi, Tegal Weru, Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya, restoran ini bernama Sindang Wangi. Kami berpikir perubahan nama restoran ini ditujukan untuk memperluas target pasar hingga ke kaum muda, khususnya Gen Alpha yang menciptakan slang “six-seven”.
Terlepas dari namanya, kami memutuskan makan siang ke restoran ini sebab dekat dengan objek wisata sebelumnya dan penasaran dengan salah satu menu andalah mereka, yaitu ayam goreng rampah. Satu paket ayam goreng rampah dengan harga Rp35.000,00 sudah termasuk satu ayam goreng rampah, nasi, bayam crispy, bawang goreng pedas, serundeng, sambah, dan es teh.

Setelah memesan makanan, kami perlu menunggu terlebih dahulu sebab restoran tersebut juga baru saja dibuka pada pukul 13.00. Walaupun baru dibuka, restoran tersebut sudah cukup ramai oleh pengunjung yang didominasi oleh pengunjung keluarga dengan anak-anak. Sembari mengobrol, menunggu makanan tiba tidak terasa membosankan sebab bangunan restoran ini menawarkan pemandangan persawahan melalui konsepnya yang semi terbuka dan dengan gaya bangunan tradisional Jawa khas perdesaan yang menyatu dengan lingkungan di sekitarnya.
Walaupun cuaca sudah mulai panas lagi, konsep bangunan semi terbuka membuat suasana di restoran ini cukup sejuk. Bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke daerah Palagan dan mencari tempat makan dengan konsep perdesaan, restoran ini dapat menjadi opsi yang tepat. Restoran ini beroperasi hingga pukul 23.00 dan dapat diakses dengan mudah, tentunya dengan bantuan Google Maps.
Tentang Penulis:
Diasti Sukma Ekasanti adalah seorang penulis yang berfokus pada isu-isu arsitektur dan pariwisata. Ia mulai giat menulis sejak berkuliah di Program Studi Arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media daring maupun majalah. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menginspirasi pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


