Oleh: Rowan
Angin malam begitu terasa di tubuh, ke mana aku akan menutup mata dan merebahkan badan? Pertanyaan itu muncul setelah jam memasuki pukul 22.00 WIB dan masuknya aku di kota Bandung.
Awalnya ingin di Masjid, tapi aku harus menyegarkan diri untuk perjalanan besok. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memesan sebuah kamar melalui aplikasi online. Syukurlah, semua berjalan lancar, aku punya tujuan untuk mengistirahatkan diri.
Aku merasa bangga diri, perjalanan dari Jakarta terbilang tidak mudah, dengan google maps dan motor beat keluaran 2011 aku melaju menembus enam jam perjalanan. Istirahat yang cukup amat penting dalam melakukan sebuah perjalanan jauh.


Apalagi, besok aku akan mendaki. Stamina yang prima akan sangat dibutuhkan dan jangan pernah meremahkan sebuah pendakian, apalagi ini adalah pendakian pertamaku. Malam ini haruslah maksimal mengambil waktu rehat. Tak lupa, aku mengabari temanku dalam pendakian ini agar dia meneleponku terus-menerus menjelang subuh, khawatir akan aku yang suka melewatkan alarm-ku.
Alarmku mulai berbunyi. Pukul 04.30 WIB, aku sudah duduk di tempat tidur. Mengumpulkan nyawa. Adzan subuh saling bersahutan dan Bandung terasa dingin pagi ini. Aku memaksakan langkah menuju kamar mandi yang showernya rusak. Untungnya, ada kran air yang menyala di dalamnya. Aku mandi. Menyegarkan diri.


Setelah itu, memasukkan segala sesuatu yang kubawa ke dalam carrier, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu menuju musholla yang tak jauh dari rumah tempatku tidur. Aku menuju ke tempat temanku pukul 05.00 WIB. Butuh waktu 30 menit dari tempatku menginap. Ditambah dengan ini pertama kali aku menyusuri Bandung, prediksiku akan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit. “Yang penting sampai“, sahut batinku.
Akhirnya aku sampai menjelang pukul 06.00 WIB, beberapa kali salah masuk gang, akhirnya bertemu juga. Cipamokolan, Bandung. Ini adalah daerah rumah temanku berada. Namanya Sindi Aulia, aku menyingkatnya jadi Sindul, tapi, sepertinya dia tidak suka dengan akronim itu, jadilah aku memanggilnya Sindi.
Dia sudah beberapa kali mendaki gunung, salah satunya adalah Gunung Ciremai, Atap tertinggi di Jawa Barat. Tapi, aku dengan Sindi tidak akan menuju ke sana. Setelah berbasa-basi dengannya, kami packing barang kebutuhan untuk di sana. Kompor, bangku lipat, cemilan, tripod, air mineral dan barang lainnya memenuhi carrier-ku. Kami siap berangkat.
Bismillah menjadi kalimat pertama kami menuju tempat pendakian. Apa nama gunungnya? Gunung ini katanya dijuluki sebagai Merbabunya Bandung. Bukan tanpa alasan, karena menurut yang sudah mendaki, keindahan sabana yang ada di gunung ini menyerupai keindahan sabana yang ada di Merbabu. ‘sekali mendaki, merasakan dua vibes’, kata bantinku.
Sindi juga baru pertama kali mendaki gunung ini, jadi aku dan Sindi sama-sama pendakian pertama di gunung ini. Nama gunungnya adalah Gunung Pangradinan dengan ketinggian 1.236 mdpl dan berada di Desa Cikancung, Bandung. Kami menggunakan kecanggihan teknologi dalam menghitung jarak, sekitar 1 jam perjalanan dari tempat kami berangkat. Karena baru pertama kali menuju ke sana kurasa wajar jika sedikit lebih lama.
Jalanan Bandung masih lengang, kami dua kali salah jalan. Menemukan juga banyak orang yang berpakaian olahraga menuju suatu tempat. Kurasa itu adalah alun-alun atau lapangan sepak bola. Entahlah, aku tidak terlalu tahu. Ingin menanyakan kepada Sindi tapi urung, karena aku kurang suka mengobrol di motor, karena kadang beberapa pertanyaan harus diulang, begitupun dengan jawaban, kalimat ‘HAH!?’ biasa menghiasi obrolan di motor.
Kami juga melewati beberapa jalan yang masih dalam perbaikan, menemukan pemandangan indah kala pagi dan berhenti untuk mengabadikannya, tepatnya Sindi yang mengabadikannya. Jari-jemarinya terbiasa mengambil momen indah dan membuat menjadi lebih indah sebelum akhirnya masuk di ruang-ruang sosial medianya.


Pukul 08.00 WIB akhirnya kami sampai di parkiran Gunung Pangradinan. Kami diberikan tiket masuk dengan nomor urutan 201, ya, boleh jadi kami memang orang yang ke-201 dalam pendakian hari ini. Per-orang dikenakan biaya masuk 10.000 dan parkir motor 20.000.
Kami juga diberikan air mineral berukuran 600 ml dibarengi dengan pemberian tiket masuk. Sebelum mendaki kami melantunkan doa dan diakhiri dengan kalimat, ‘berdoa tidak akan pernah selesai’ ini kupelajari dari tayangan youtube Atap Negeri Fiersa Besari.
Sebetulnya kami terbilang kesiangan, tidak sesuai dengan apa yang direncanakan beberapa minggu lalu. Tapi, yasudahlah. Sangat bersyukur bisa sampai di sini. Ini adalah pendakian pertamaku secara sadar kalau aku mendaki. Sebelumnya, aku pernah mendaki, tapi aku tidak sadar kalau aku mendaki. Aku sangat takjub, padahal aku masih beberapa langkah dalam pendakian, gunung-gunung terlihat megah dan kokoh, persawahan penduduk juga terlihat, ada juga lapangan sepak bola tarkam.

Banyak sekali pendaki yang aku temui, dari yang sama dengan kami (menuju puncak), ada juga yang turun dari puncak. Aku bertemu dari orang tua, dewasa, sepantaran, bahkan ada loh anak-anak kecil yang digandeng orang tuanya mendaki.
Jalanan pendakian berbatu kerikil kecil-kecil, sangat menyakitkan jika kamu melewatinya dengan sepatu yang tipis, apalagi kamu tidak memakai sepatu. Kami sesekali berhenti untuk melepas lelah dan mengabaikan momen. Lebih-lebih Sindi, sudah kukatakan di atas ya. Dia banyak mengabadikan momen di pendakian. Menyenangkan sekali.
Pendakian di Gunung Pangradinan terbilang bagus untuk pemula. Karena memang track-nya yang tidak terlalu jauh dan masih cukup baik untuk dilewati. Hanya aja, namanya pendakian, pasti jalanan terus menanjak.

Kami membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke puncaknya. Sesampainya di puncak, aku lebih takjub lagi, yang pertama takjub pada diriku sendiri. Hehe, tidak mengapa, kan? Menyenangkan sekali, seakan rasa letih ketika mendaki, hilang saat sampai di puncaknya.
Selanjutnya, aku takjub dengan pemadangan di atas puncak. Begitu indah mempesona. Pesona Sindi kalah dengan pesona puncak Gunung Pangradinan. Hehe.
Kami menuju tempat yang membelakangi matahari. Membuka carrier bag. Kami mengambil kompor untuk memasak air agar panas setelah itu menyeduh pop mie. Sayangnya, saat Sindi memindahkan posisi kompor, bumbu pop mie-nya jatuh, lalu ia berkata (yang seakan bertaruh), ‘pasti pop mie-nya kurang asin’, aku baru saja menyelesaikan membuka semua bumbu ke dalam pop mie menatap Sindi dengan tatapan sedikit sedih. ‘Tuh kan, bener, kurang asin.’ Kali ini aku menatapnya gemas.


Setelah itu, kami banyak mengabadikan momen di puncak Gunung Pangradinan. Saling meminta tolong untuk foto sendirian. Beneran sendirian. Cekrek-cekrek. Sampai-sampai memori HP Sindi kepenuhan. Selanjutnya, kami membersihkan ‘kawasan’ kami. Memasukkan sampah pada sebuah plastik dan ikut membawanya turun.
Sebelum turun, kami menyempatkan diri untuk menuju puncak di sebelahnya. Ya, Gunung Pangradinan memiliki dua puncak, keduanya memiliki jarak yang tidak jauh. Kami mengabadikan momen lagi, kali ini lebih cepat dan sedikit, karena matahari sudah mulai menunjukkan keperkasaannya.

‘Aku akan kembali lagi ke sini, tapi aku akan ngecamp, agar aku bisa menyaksikan city light dari atas ini.’ Kata Sindi. Aku tidak menanggapi, hanya tersenyum senang. Menyenangkan sekali membunuh waktu bersamanya.
Kami turun dari Puncak Pangradinan kurang lebih pukul 10.30 WIB. Soal turun, aku akui Sindi sangat sat-set, langkah zig-zagnya seakan sudah professional. Ini seriusan. Aku tertinggal cukup jauh ketika turun. Menyebalkan.
Bahkan dengan congkak aku bilang, ‘Ayo balapan turun’ lalu aku menertawakan diri sendiri ketika tertampar oleh hasilnya. Aku masih kesulitan dalam membentuk langkah zig-zag dengan tenaga yang tidak maksimal, carrier bag di punggung, dan sepatu gunung yang kebesaran. Kami akhirnya sampai kembali ke Parkiran.

Aku duduk di dekat parkiran, Sindi menuju kamar mandi. Naik atau turun? Untuk pendakian ini, naik lebih mudah bagiku dibanding turun. Setelah itu, kami menuju ke tempat Sindi. Di bawah terik matahari yang sudah mencapai puncaknya, kami melewati jalanan kota Bandung, berhenti dulu ke SPBU dan Alfamart untuk mengisi bahan bakar dan mengambil uang. Sebelum sampai ke tempat Sindi, kami mampir ke tempat makan bakso mie ayam.
Mienya lembut, sangat nyaman saat di makan, cocok di lidahku, tapi, Sindi berkomentar, ‘bumbunya kemanisan’. Aku mengangguk. Ya, aku mengakuinya, aku suka manis. Tapi, manis pada bumbu mie ayam rasa-rasanya sedikit aneh. Hehe.
Kami melanjutkan perjalan menuju Cipamokolan. Tinggal belasan menit lagi dari tempat makan ini, jalanan terbilang sedikit macet, panas juga begitu berasa. Jujur, panas ini tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Atau memang seluruh cuaca panas itu sama? Entahlah. Akhirnya kami sampai di tempat Sindi. Aku duduk selonjoran.
Sambil membuka carrier bag. Mengeluarkan barang-barang Sindi untuk dikembalikan dan memasukkan barang-barangku agar tak diakui milik Sindi. Hehe. Aku beristirahat sejenak. Lalu berpamitan dengan Sindi yang kebetulan juga ingin melanjutkan ke kantor kerjanya, ada pertemuan mendadak. Padahal ini hari Minggu.
Aku ingin menyampaikan hasil kontemplasi dari puncak Gunung Pangradinan,
“Kita itu sangat kecil. Dibandingkan dengan alam ciptaan Tuhan yang lainnya. Maka, seyogiannya janganlah kita menjadi angkuh dan sombong, merasa diri paling besar hingga seenaknya merendahkan orang lain. Bukan, bukan itu. Kita diciptakan bukan untuk itu. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan dan menyebarkan cinta kasih kepada makhluk. Dengan melakukan yang demikian, maka kelak kita akan dikumpulkan Tuhan di dalam surga-Nya.”
Bionarasi Penulis:
Namaku Robi Setiawan. Aku memliki nama pena, yaitu Rowan. Salam kenal semua. Aku kelahiran Jakarta yang menempuh pendidikan S1 di Banten. Aku masih seorang mahasiswa. Ahiya, aku memiliki buku loh, judulnya “Selangkah Demi Selangkah”. Tidak banyak yang bisa kuceritakan di sini, kunjungi Instagramku ya: @rowan_2403. Terima kasih

Traveling: Tayang setiap hari Jumat. Kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honorarium Rp100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling


