Saya tidak tahu persis, apakah video Gus Miftah dan kawan-kawanya yang sedang berada di panggung tertawa mengolok-olok pedagang minuman di suatu kampanye Pilkada itu benar atau atau rekayasa.. Saya perhatikan betul setiap detiknya. Saya juga bertanya kepada anak saya yang kuliah di film. Kata anak saya, “Asli itu, Pah!”

Panggung memang menggiurkan. Pada akhirnya rocker juga manusia, eh, Gus Miftah juga manusia. Tapi ya itu tadi, harta-tahta-wanita itu menggoda penguasa. Menyalurkan hasrat kekuasaan lewat olok-olok terhadap orang yang lemah memang godaan yang terus saja hadir di pikiran kita. Itulah kenapa kita harus meluaskan cakrawala beroikir kita. Ketika kita duduk di kursi yang lebih tinggi, kita harus sadar diri semua mata tertuju pada kita. Ingat pesan Bapak, “Ceramah terbaikmu adalah perilakumu.”

Emak pernah berpesan kepada saya, “Jangan menertawakan orang yang sedang tertimpa musibah dan yang sedang mencari nafkah.” Emak meyarankan agar saya selalu menjaga persaudaraan, menyatukan kembali jika cerai-verai. Maka saya menulis puisi ini:

Puisi Gol A Gong
SAPU LIDI

Di setiap rumah ada sapu lidi
Semua berebut membersihkan diri
Satu lepas, semua mengumpulkan
Mengikatnya kembali
Kuat-kuat

Setiap sapu lidi anak-anak masa depan
Mereka tak boleh bercerai berai
Aku mengajari mereka waspada tiga hal
: tahta, harta, wanita

Satu lidi milikku telah dirampas tahta
Satu persatu menghamba hina pada lainnya
Aku tak punya hak lagi mengikatnya
Mereka telah menentukan pilihan

Sapu lidi ada di mana-mana
Kuharap semua mengikat erat talinya

*) Tanah Abang, 12/4/2013

Puisi yang saya tulis ini untuk instropeksi saya, juga merenungkan peran kita di “panggung” kehidupan, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, dan pentingnya tetap rendah hati meskipun kita mungkin mendapatkan pengakuan atau keberhasilan. 

Banyak cara untuk belajar, salah satunya belajar pada kehidupan. Luaskan cakrawala berpikir kita. Pepatah Minang sangat relevan dengan situasi negeri ini, “Alam takambang jadi guru.” Ya, kita bisa belajar pada siapa saja, pada apa saja, termasuk pada alam raya ini. Penutup tulisan ini, bacalah puisi saya ini:

Puisi Gol A Gong
PANGGUNG
: untuk Gus Miftah dan kawan-kawan

Di dunia ini ada panggung.
siapa saja yang datang belajar
harus berani naik ke panggung
mempertunjukkan sesuatu.

Orang hebat berdiri di panggung
dia berada di ketinggian
bisa melihat ke mana saja
memperbaiki yang salah
membenarkan yang semestinya

Panggung bisa membuat kita kecil
membuat kita besar
orang-orang melihat kagum

tapi panggung bisa membuat orang
lupa diri
jumawa

panggung yang kita bangun
roboh sendiri

*) Serang 4 Desember 2024

Selamat membangun panggung di kehidupan kita masing-masing. Semoga bukan panggung sandiwara.

Gol A Gong/ilustrasi ChatGPT 4o

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. […] majikan-jongos, pejabat-rakyat, ulama-jamaah atau yang hierarki lainnya. Ketika potongan video Gus Miftah yang sedang mencandai pedagang es teh asongan di sebuah acara menjadi viral karena mengatakan […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==