Oleh: Zaeni Boli
Jangan tanya rasanya. Bagi yang pernah terkena atau menginjak bulu babi, pasti tahu betul bagaimana rasanya. Bagi yang belum pernah, pengalaman itu biasanya disertai sedikit demam dan rasa tidak nyaman pada luka akibat terkena duri bulu babi. Pengalaman ini saya alami pada tahun 2021, ketika saya sedang dalam proses latihan dan pembuatan sebuah karya teater yang berlangsung di ruang terbuka, tepatnya di salah satu tempat sandar kapal nelayan yang sudah jarang digunakan di sudut kota Larantuka.

Entah sejak kapan hewan laut ini dinamai “bulu babi”. Tidak banyak artikel yang menjelaskan asal-usul namanya. Namun, meskipun dikenal meresahkan, bulu babi ternyata memiliki kandungan manfaat yang berguna bagi tubuh. Beberapa manfaat tersebut antara lain:
- Sumber protein tinggi yang mampu memperbaiki jaringan tubuh.
- Vitamin dan mineral yang mendukung sistem kekebalan tubuh.
- Asam lemak omega-3, baik untuk kesehatan jantung dan otak.
Selain manfaat di atas, tentu masih ada manfaat lainnya.
Namun, yang tak boleh dilupakan adalah meskipun bulu babi memiliki kandungan yang berguna, pemanfaatannya sebagai sumber makanan harus dilakukan dengan hati-hati. Hal ini karena duri bulu babi mengandung racun.
Bagi yang terkena atau menginjaknya, salah satu cara untuk mengurangi dampaknya adalah dengan menggunakan kemiri yang dibakar, kemudian dioleskan pada luka, atau menggosok luka dengan rambut sebagai pertolongan pertama. Selain itu, ada pula mitos yang menyebutkan bahwa air seni orang dewasa dapat digunakan untuk meredakan rasa sakit akibat bulu babi. Meski demikian, kebenaran metode ini belum bisa dikonfirmasi secara ilmiah.
Demikianlah sedikit kenangan saya tentang bulu babi. Sebagai sebuah imbauan, meskipun pantai itu indah, tetaplah berhati-hati agar tidak salah menginjak bulu babi saat menikmati keindahan laut. Perlu diketahui, bulu babi biasanya ditemukan di perairan yang tercemar. Dengan kata lain, kehadiran bulu babi bisa menjadi tanda bahwa kondisi laut tersebut tidak bersih.



