Banjir dahsyat yang melanda Bekasi, Jawa Barat, baru-baru ini menjadi pengingat betapa lingkungan yang rusak membawa dampak besar bagi kehidupan kita. Salah satu penyebab utama adalah alih fungsi lahan di kawasan Puncak, Bogor.
Hutan yang dulunya hijau dan berfungsi sebagai daerah resapan air, kini berubah menjadi tempat wisata dan kawasan komersial. Akibatnya, air hujan yang seharusnya terserap ke dalam tanah malah mengalir deras, menyebabkan banjir di daerah hilir.
Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi, tak kuasa menahan tangis ketika melihat sendiri bagaimana kawasan hulu yang dulu hijau kini gersang.
“Bagi orang Sunda dan orang Jawa, gunung itu sesuatu yang sakral, gunung itu sesuatu yang dihormati,” katanya. Ia mengingatkan bahwa bagi masyarakat Sunda dan Jawa, gunung adalah sesuatu yang sakral, sesuatu yang dihormati.
Namun, demi kepentingan komersial, hutan di pegunungan ditebang sembarangan, tanpa memikirkan dampaknya bagi alam dan kehidupan manusia.
Ajaran leluhur kita sebenarnya telah lama menanamkan kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan alam. Masyarakat Baduy, misalnya, memiliki filosofi hidup yang begitu dalam:
“Gunung teu meunang dilebur; Lebak teu meunang diruksak; Pendek teu meunang disambung; Lojong teu meunang dipotong.”
Artinya, gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak, sesuatu yang pendek tidak boleh disambung, dan sesuatu yang panjang tidak boleh dipotong. Pesan ini mengandung makna mendalam bahwa alam harus dijaga sesuai kodratnya. Jika kita merusaknya, maka kita sendiri yang akan menanggung akibatnya.
Tidak hanya ajaran leluhur, Islam pun menegaskan pentingnya menjaga lingkungan. Sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, Islam mengajarkan bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa bumi telah diciptakan dalam keseimbangan yang sempurna. Jika manusia merusaknya, maka bencana yang datang adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah yang lain:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Pesan-pesan ini sangat relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Kerusakan alam bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat dari keserakahan manusia yang hanya memikirkan keuntungan sesaat tanpa peduli pada keseimbangan ekosistem.
Namun, belum terlambat untuk berubah. Kita bisa mulai dengan langkah-langkah kecil yang memiliki dampak besar jika dilakukan bersama. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon sembarangan, menanam lebih banyak pohon, serta menjaga sungai dan laut dari pencemaran adalah beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan.
Di bulan suci Ramadan ini, saatnya kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu dari keserakahan. Keserakahan yang merusak alam, mengalihfungsikan hutan demi keuntungan pribadi, dan mengeksploitasi sumber daya tanpa memikirkan dampaknya.
Ramadan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih peduli—bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam yang telah Allah titipkan kepada kita.
Mari jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau mengurangi penggunaan plastik, bisa menjadi langkah awal menuju lingkungan yang lebih lestari.
Jika kita menjaga alam, alam pun akan menjaga kita.