Oleh: Zaeni Boli
Sebagai presiden, Prabowo Subianto mengeluarkan kebijakan yang dirasa tidak populis dan seolah-olah tidak berpihak pada masyarakat. Namun, hal ini mungkin diambil karena keuangan negara sedang morat-marit dan membutuhkan efisiensi.
Dari kebijakan ini pula, akan ada dampak yang dirasakan, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) tenaga kontrak hingga perampingan anggaran perjalanan dinas. Konon, langkah ini juga bertujuan untuk mempersempit ruang terjadinya korupsi.
Kita tidak akan terlalu membahas kebijakan tersebut, tetapi lebih fokus pada peluang dan tantangan akibat efisiensi anggaran terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia ke depannya. Salah satu fenomena yang muncul adalah banyaknya generasi muda yang merasa hopeless (putus harapan) dan memilih untuk bekerja di luar negeri karena dianggap lebih menjanjikan kesejahteraan.
Dengan demikian, Indonesia kehilangan tenaga kerja produktif yang potensial. Namun, hal ini bisa dimaklumi karena realitas dunia kerja di Indonesia memang belum cukup menjanjikan kesejahteraan bagi para pekerja. Belum lagi, pemerintah berencana menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen, yang semakin membebani masyarakat.

Namun, perlu diingat bahwa kondisi semacam ini bukan pertama kali dialami Indonesia. Jauh sebelum ini, pada masa Presiden Sukarno dan era Orde Baru, Indonesia pernah mengalami krisis. Begitu pula pada akhir kepemimpinan Presiden Suharto, ketika krisis moneter melanda. Namun, bangsa ini selalu mampu keluar dari “lubang jarum” permasalahan ekonomi.
Salah satu kekuatan ekonomi yang terus bertahan adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di tengah tekanan kesulitan ekonomi, masyarakat kecil justru saling menopang agar tetap bertahan. Sayangnya, ketika ekonomi mulai stabil, perusahaan-perusahaan besar kapitalis merebut lahan usaha tersebut, mengakibatkan kebangkrutan bagi usaha kecil. Ini menjadi dilema tersendiri bagi ekonomi kecil.
Meski begitu, kita harus tetap yakin bahwa bangsa ini mampu keluar dari kesulitan dan menjadi negara yang besar melalui kerja keras yang diusahakan sendiri. Bangsa yang besar bukan hanya pandai berjoget, tetapi juga mampu berpikir dan mencari solusi atas permasalahan yang menimpa negeri ini.



