Pengantar: Fiksi mini versi Gol A Gong adalah cerita pendek antara 300 – 500 kata, 1 lokasi, dan twist ending (plot twist). Jika pun pindah lokasi, itu hanya ada dalam dialog. Di fiksi mini berjudul “Blackmail” lokasinya indoor, yaitu di ruang tamu Pak RT. Tokohnya aku (anak konglomerat yang menyamar jadi mahasiswa biasa), Santi (anak Pak RT), Ridwan (teman tokoh aku). Selamat membaca dan rasakan twist endingnya (cerita yang diplintir).

BLACKMAIL
Fiksi Mini Gol A Gong
Aku duduk di ruang tengah rumah Pak RT. Santi dipeluk ibunya sambil menangis. Ayah Santi dan Pak RT di sebelah kananku; kedua matanya melotot kepadaku.
“Akui saja! Kamu hendak merkosa Santi kan!” Pak RT membentakku.
“Santi yang masuk ke kamar kosku. Dia berteriak dan merobek sendiri bajunya.” Aku menjelaskan.
Santi terisak-isak. “Arman ngirim WA. Ada oleh-oleh dari kampung buat saya. Anak-anak kos masih pada liburan di kampung. Jadi sepi. Pas di kamar, dia ngajak begituan. Saya nggak mau. Saya mau diperkosa. Saya ditampar.” Santi menunjukkan luka memar di pipi.
Ya, aku menamparnya tadi, karena Santi memeluk dan menciumiku. Tapi, tidak ada saksi dan bukti.
“Sebetulnya tadi Ridwan datang ke kamar kosanku. Ridwan pulang, Santi datang. Tapi mereka sempat ketemu di pintu,” aku masih membela diri. Ridwan sahabatku di kampus.
Terdengar suara motor di luar. Aku hapal suara knalpotnya. Itu Ridwan. Kok, dia bisa tahu aku di sini? Tapi, aku gembira dia datang ke sini. Semoga bisa membantuku.
“Sudah dicetak fotonya?” tiba-tiba ayah Santi menyerbu Ridwan, yang baru muncul di pintu ruang tamu.
Ridwan mengeluarkan sebuah amplop dari tas punggungnya.
“Ridwan!” Aku juga bangkit, meminta penjelasan. “Ada apa ini?”
Ridwan menunduk; dia tidak berani menatapku.
“Sudah cukup buktinya, Pak RT!” Ayah Santi menunjukkan foto-foto yang dibawa Ridwan. Pak RT langsung kembali ke kursinya. Dia lempar beberapa lembar foto ke meja.
Aku dan Pak RT berebut melihat foto-foto itu. Santi masih menangis dipelukan ibunya.
Aku kecewa melihat foto-foto yang diambil dari jendela kamar kosanku oleh Ridwan. Sungguh tidak aku duga, ternyata Ridwan bersekongkol. Jika melihat foto itu, memang terbangun imej aku hendak melucuti pakaian Santi dengan paksa. Padahal peristiwanya: aku menghalangi Santi yang sedang melucuti sendiri pakaiannya. Posisiku membelakangi jendela, sehingga Santi bisa leluasa memainkan perannya.

“Pilih! Kamu nikahi anak saya atau ditelanjangi lalu diarak keliling kampung, atau dilaporkan ke polisi!” usul ayah Santi.
“Bagaimana kalau denda saja?” Pak RT mengusulkan.
“Denda? Uang, maksudnya?”
“Iya! Seratus juta!” ibu Santi menyerobot.
“Aku bukan orang kaya. Lagian, aku tidak melakukannya! Ini pemerasan!”
“Ah! Jangan belagu! Kamu ini anak konglomerat yang pura-pura jadi mahasiswa miskin! Ayo! Kalau ayahmu tahu, hancur reputasi ayahmu!”
Ah! Dasar bodoh! Walaupun aku tidak melakukannya, berabe juga kalau papa-mama tahu. Selama 2 semester aku kuliah di sini, tidak ada yang tahu jati diriku sesungguhnya. Aku memilih nge-kos di rumah petak, berbaur dengan mahasiswa lainnya. Aku juga mengubah penampilanku dengan memelihara kumis, berkacamata, dan gondrong. Tapi di era medsos ini, memang sulit menyembunyikan identitas.
“Walaupun itu sama artinya dengan memeras?” protesku.
“Ah! Seratus juta buat ayahmu tidak ada artinya! Anggap saja sedekah!””
Akhirnya dengan sangat menyesal, aku keluarkan HP paling canggih dari saku celanaku. “Sejak tadi handphoneku on. Hati-hati…” Aku tersenyum menang sekaligus iba.
Terdengar suara sirine mobil patroli polisi. Sepanjang percakapan tadi, aku online ke nomor pamanku, yang jadi Kapolres. Dia sejak kecil hingga jadi Kapolres disupport Papa.
Sirine mobil patroli semakin keras. Semua orang di ruang tamu rumah Pak RT panik. Aku bangkit dan pergi meninggalkan mereka. Jangan coba-coba mempermainkan aku!
*) Museum Literasi Gol A Gong, 5 Januari 2024



