Fiksi Mini: Di Studio Karya Gol A Gong

Ajeng mematut diri di cermin. Ia mengambil kapas sepotong dan menuangkan toner sedikit ke atasnya. Diusapnya kapas basah itu ke kelopak mata perlahan.

“Siska sama Boss, gimana kelanjutannya?”

“Boss sama Siska, ngerilah, Mbak!” Mei, make up artist , masih sibuk memasukkan aneka botol kosmetik ke koper warna pink menyala.

“Makanya gue jaga jarak sama Boss!”  

“Tapi karir Mbak nggak akan naik! Selamanya jadi anchor ramalan cuaca!”

Ajeng pura-pura merengut. Ia menepuk-nepuk keningnya sekali lagi dengan kapas tadi, lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Mei, gue pulang dulu, ya!” pamit Ajeng sambil menyambar masker di meja.

“Hati-hati, Covid masih merajalela!”

Tiba-tiba pintu terbuka dari luar.  Floor director berdiri menghalangi jalan.

“Beti! Pala lu peyang!” teriak Angie, karena kaget.

Mei terkekeh geli.

“Maaf, Mbak,” Beti to the point. “Urgent ini! Boss marah-marah, anchor Breaking News sakit, sekarang lagi di IGD. Boss minta Mbak Ajeng gantiin.”

“Ih, bodo. Gue harus pulang, anak gue udah nelepon mulu,” sahut Ajeng mengerling ke Mei. Dia tahu ini akal-akalan si boss.

“Masak Mbak ngurusin hujan dan panas melulu! Ini kesempatan, lho!”

“Minta sama anchor lain deh, gue capek, pingin pulang!” Ajeng melotot.

“Nggak akan ada kesempatan kedua, Mbak!” Beti terus mencecar.

“Ajeng!” Terdengar suara bariton dari arah belakang Beti. Paul!

Ajeng menarik napas kesal. Ia membalas pandangan Paul si lelaki perlente yang berkacak pinggang sambil tersenyum.

Floor director di samping Ajeng mundur, memilih menyingkir sambil mulutnya mengeluarkan bunyi, “Ok, ya!”

“Kenapa harus gue?” protes Ajeng. Dia mengakui Paul memiliki pesona dahsat bagi semua single parent. Sekali terperangkap, sulit keluar lagi.

“Karena cuma kamu yang mampu,” balas Paul.

“Gue minta kenaikan gaji, tunjangan buat anak, tunjangan buat hiburan gue!” protes Ajeng lagi.

“Oke!” Paul tersenyum dan kembali masuk ke ruangannya.

Ajeng menghempaskan diri ke kursi make up.

“Hati-hati, ya, Mbak,” Mei menatapnya di cermin. Dia sudah siap dengan beauty blender dan wadah foundation di kedua tangan.

“Sepuluh menit, dan jangan terlalu tebal!”  

Ajeng diam selama dirias dan tak peduli dengan sekian kalinya floor director memeriksa kesiapan dirinya.

“Mbak Ajeng, dua menit lagi ke studio, ya!” Beti melongok ke ruang make up.

“Iyaa, lagi pasang bulu mata! Awas kalo lu main buka pintu lagi!” sembur Mei galak.

Beti si floor director tertawa senang.

Sebentar kemudian Ajeng sudah siap di depan kamera. Bumper in ditayangkan. Kamera studio zoom in ke wajah Ajeng yang menatap prompter dan melirik kamera. Ia merasa ada yang aneh.  

Breaking News malam ini menyorot kemenangan… Anjriiit!  Bulu mata gueh ilang satuuu!”

“Cut!”

Tiba-tiba terjadi keributan di luar studio. Kemudian muncul anchor utama yang biasa membawakan program Breaking News.

“Siska! Katanya lu di IGD?”

“Siapa yang bilang?”

“Paul!”

“Karena gue udah nggak mau ngelayani si Paul! Dasar brengsek! Emangnya gue budak nafsu!”

“Eh, gila! Jangan-jangan gue juga mau dia jadiin budak nafsu kayak lu! Emangnya ini zaman kolonial!”

“Mbak Angie! Audio masih on!” teriak floor director.

Angie dan Siska mendongak, melihat ke kaca control room. Paul bertolak pinggang sambil tersenyum.

*) Serang 6 November 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==