Aku menatap sekelilingku dengan perasaan tidak keruan. Setelah gagal membangun bisnis ayam geprek di Jakarta, ibu menyarankanku pulang dan menikah dengan pria yang dipilihkan oleh pamanku di Yogyakarta. Laki-laki kaya dan baik hati kata mereka—Mas Dhanu, namanya. Yang sekarang ini sedang memegang tanganku erat, tetapi matanya fokus memandangi para tamunya yang masih sibuk bersenda gurau di acara pernikahan kami.
Para tamu Mas Dhanu ini semua dari kalangan elit. Pakaian yang mereka kenakan terlihat mewah dan cara mereka berbicara juga sangat anggun. Berbeda sekali dengan tamuku. Ibuku bilang, aku tidak usah mengundang banyak orang karena Mas Dhanu yang mengatur dan membayar semua biaya pernikahan.
Aku kira, Mas Dhanu akan menyulap rumahnya yang luas ini menjadi pelaminan yang megah. Namun ternyata, pernikahan kami dilakukan secara sederhana dan acaranya hanya makan-makan, seperti saat sedang lebaran. Bahkan, ibuku saja sudah pulang ke rumahnya karena harus jaga mbah yang seminggu lalu jatuh di kamar mandi.
“Terjamin nanti hidupmu sama Dhanu, Nduk.” Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan ibuku. Semoga ucapan ibu adalah benar adanya.
“Mas kenal semua dengan tamunya?” tanyaku memulai pembicaraan.
Mas Dhanu menggeleng pelan, “Teman-teman ibu,” jawabnya seraya tersenyum kecil.
Aku manggut-manggut. “Mereka semua pasti sayang sama ibu ya, Mas? Mereka sempat bergantian menjenguk ibu di kamar.”
“Iya,” jawabnya pelan.
“Ibu, ndak apa-apa sendirian di kamar, Mas?”
“Ndak apa, Dik Sarah,” jawabnya meyakinkanku.
Aku baru dua kali melihat ibunya Mas Dhanu. Bu Melati namanya. Parasnya yang cantik itu menurun ke Mas Dhanu. Bu Melati yang dikenal baik oleh warga sekitar kami, mendadak jatuh sakit tahun lalu. Paman bilang, sakitnya tidak diketahui apa. Beliau mendadak tertidur, layaknya orang yang koma. Mas Dhanu pun pernah cerita, beberapa teman Bu Melati menawarkan diri untuk merawat beliau saat Mas Dhanu harus bekerja. Jadi, dia tidak pernah kesulitan merawat ibunya.
Tiba-tiba, para tamu Mas Dhanu mendekat ke arah kami. “Dhanu, Sarah, kami pulang dulu, ya. Sudah mau jam 6 sore,” ujarnya.
“Matur nuwun sanget, Bu,” ucap Mas Dhanu pelan.
Akhirnya kami bisa beristirahat, batinku.
“Kita bersihkan semuanya besok saja. Saya mau keluar sebentar. Kamu boleh ya, jaga ibu?” pintanya.
Aku tersenyum mendengarnya. “Mas, ibu kan … orangtua aku juga sekarang,” jawabku.
Mas Dhanu pun segera ganti baju dan pergi keluar. Walaupun dia bilang bahwa membereskan rumah ini besok saja. Namun, tetap saja tanganku gatal ingin sekali mencuci piring kotor. Akhirnya, kulakukan yang aku mampu saja.
“Errrrgh ….”
Tiba-tiba aku mendengar suara erangan dari kamar ibu. Aku langsung mematikan keran air dan meninggalkan pekerjaanku untuk melihat keadaan ibu.

“Bu …,” panggilku pelan seraya mengetuk pintu kamarnya.
“Errrrgh …,” erangnya lagi yang membuatku memutuskan untuk membuka pintu ibu perlahan-lahan. Kamar ibu sangatlah gelap. Apa mungkin Mas Dhanu lupa menyalakan lampu?
“Bu,” panggilku lagi.
“A-aku … luwe*, Nak,” ucap ibu yang terdengar seperti merintih. Tiba-tiba, aku melihat sosok besar melata di dinding. Aku segera mengambil gawaiku dari saku celana dan menyalakan senternya.
Sosok yang melata di dinding itu ternyata … ibu mertuaku.
“A-aku … luwe, Nak,” ucapnya lagi sambil menjulurkan lidahnya yang panjang dan kedua bola mata putihnya langsung menghitam.
oOo
*Luwe: Lapar./Ilustrasi ChatGPT


TENTANG PENULIS: Andini Yudita Sari adalah penulis dan pengelola komunitas kesehatan. Hobi membaca novel romance dan fantasy, namun jurnal sains lah yang lebih sering membuatnya begadang. Kalau tidak lagi sibuk dengan tulisan dan komunitas, Andini lebih suka main dengan kucing untuk melepas penat. Dunia menulis dan sains selalu menjadi passion utamanya. Ia senang berbagi ilmu dan terus berkembang. Salah satu mimpi terbesarnya adalah meningkatkan minat baca, baik untuk fiksi maupun non-fiksi, dengan cara yang menyenangkan.

FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis.




