Oleh Zaeni Boli
Orang-orang yang mau berpikir tentang daerah pasti tak banyak, apalagi memikirkan kesenian, belum lagi ruang-ruang yang dibentuk seniman sendiri. Seni pertunjukan teater atau drama bukan hanya sebuah ruang hiburan semata, tapi juga ruang berpikir dan membaca situasi serta kondisi yang ada di masyarakat, di hadapan publiknya yang berbeda-beda latar belakang.
Jika pemuka agama tak lagi didengarkan suaranya, jika pemangku kepentingan tak lagi punya jawaban atas keresahan masyarakat, maka teater mungkin bisa menjadi jembatan untuk berdialog.

Saya adalah seniman yang diundang khusus ke sebuah agenda internasional, pertemuan para seniman teater Asia Tenggara dan Jepang. Bahkan, dalam beberapa pertemuan hadir juga orang-orang dari Eropa. Ini adalah jejaring yang seharusnya saya maksimalkan. Saya tidak bilang saya orang pertama Flores Timur yang bisa hadir di forum hebat ini, tapi sebagai seniman saya sangat beruntung.

Inilah salah satu capaian tertinggi saya sebagai seniman—diundang dalam event internasional hanya untuk menonton, tanpa beban pentas, hanya menikmati dan belajar dari sajian hebat teman-teman seniman, bukan hanya dari Indonesia tapi Asia Tenggara. Kesempatan langka.
Selain saya, ada Emby yang turut hadir dalam agenda Djakarta Teater Platform sebagai runner. Untuk istilah ini, silakan cari artinya, biar kita belajar. Saya beruntung, Emby sebagai seniman muda Flores Timur mau belajar dalam acara seperti ini. Semoga lewat pengalaman kerja-kerja keproduksian, Emby bisa menularkan lagi pengalaman kerja di Djakarta Internasional Theater Platform ini.

Hal-hal hebat tak terbaca dan tak terpantau, sayang sekali, oleh pemerintah daerah kami. Andai pemerintah daerah peduli, sesungguhnya ini adalah sebuah peluang bahwa Flores Timur juga punya potensi yang sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan hadir, kita akan terhubung dan berjejaring, tidak hanya kelompok kecil kita saja, tapi untuk Flores Timur yang lebih baik.

Di sini saya belajar banyak bagaimana panitia mampu menghadirkan penonton dengan latar belakang yang berbeda-beda. Bayangkan, saya tidak bilang sepi pertunjukan teater di Larantuka jika dilakukan, katakanlah, oleh Bengkel Seni Milenial yang sudah berkarya 8 tahun. Tapi ya, jika berpentas di Larantuka, paling penonton itu-itu saja.
Ya, teman di saat senang itu banyak, tapi saat susah, ya begitulah. Pernah juga, sebagai produser pemula, saya mampu menghadirkan Teater Keliling tahun 2024, tapi hal yang sama juga terjadi. Padahal, andai saja publik sadar bahwa pertunjukan teater adalah sesuatu yang penting untuk kemajuan budaya, maka output-nya pasti akan lain.

Sampai hari ini, di banyak tempat di Flores Timur, kita masih banyak menormalisasi kekerasan, dan suara penolakan-penolakan kalah tenggelam dengan narasi-narasi kekerasan yang juga sebenarnya merusak. Terkadang kita seolah dilarang untuk berbeda, padahal hidup itu berwarna.

Ada banyak hal yang ingin saya sharing setelah pulang nanti dari menyaksikan Djakarta Internasional Theater Platform 2025—untuk publik dan penggiat seni maupun pejabat publik Flores Timur—biar kita sama-sama belajar dan saling terhubung, tidak saling mencurigai. Buat apa sih kesenian? Tidak buatmu? Kayak cuma buatmu bahagia bahwa jiwamu bisa diajak bercanda. Bukan sekadar mencari validasi atau nama semata.
Harapan seorang guru honorer dalam kapasitas sebagai penonton Djakarta Internasional Theater Platform.


