Di pintu kedatangan bandara El Tari, Kupang, Minggu 4 Agustus 2024, sekitar pukul 16.00 WITA, Agustinus Rikarno menyambut kedatangan saya dan Rudi Rustiadi (asisten saya sebagai Duta Baca Indonesia). Kami datang dari Larantuka. Pada Juli – Agustus 2024, kami Safari Literasi di Flores Timur bersama Maksimus Masan Kian dari PGRI dan Zaeni Boli dari Forum TBM.
###
Apa yang kamu bayangkan tentang Indonesia Timur? Secara perseorangan, di era 80-an kita banyak mengenal tokoh literasi seperti Gerson Poyk, JS Badudu, dan Goris Keraf yang menulis buku. Sekarang kita mengenal komika Abdurrahim Arsyad asal Larantuka dan Ephi asal Kupang.
Beriringan dengan dunia hiburan komedi tadi, saya mengenal Gusti – sapaan akrabnya, sejak 2022. Saat itu saya Safari Literasi Duta Baca Indonesia di Jawa-Bali-NTB-NTT (Januari-April 2022). Gusti bergabung di Flores Timur. Saat itulah saya mengenalnya sebagai pejuang literasi dari timur. Dia ibarat cahaya literasi dari tmur. Kami menyebarkan semangat membaca dan menulis di Larantuka, Adonara, hingga Lembata.



Gusti pernah digembleng jadi frater atau calon pastor. Frater merupakan panggilan bagi laki-laki beragama Katolik yang memutuskan untuk mengabdikan hidupnya hanya kepada Tuhan dan tinggal di dalam Seminari hingga akhir hidupnya.
“Tapi setelah lima belas tahun, saya memilih mengundurkan diri. Ini keputusan penting dalam hidup saya. Di seminari, saya banyak mendapatkan ilmu untuk saya terapkan di dalam kehidupan.”
Gusti yang lahir di Regho Manggarai, Flores pada 27 Agustus 1984 kemudian menamatkan S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero – Maumere, 2007-2011. Jika sedang jadi nara sumber, kata dan kalimatnya penuh makna laksana filsuf.
“Saya ingin maju. Saya ingin Nusa Tenggara Timur tetap merawat semangat literasi para pendahulunya seperti Gerson Poyk, Goris Keraf, JS Badudu,” katanya di Kota Kupang, siang yang gerah.
Jiwa kepemimpinannya selalu muncul setiap saya seminar atau road show ke sekolah-sekolah. Ternyata dia ditempa mulai 2003 – 2004 sebagai Ketua Umum Siswa Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Berlanjut ke 2008 – 2010 sebagai Ketua Seksi Publikasi Senat STFK Ledalero.



###
Saya sebetulnya tidak kaget, ketika dari buah pikirannya lahir karya-karya tulisnya. Itu sudah tampak setiap dia bicara yang selalu dilatarbelakangi referensi buku.
“Jika tidak menulis buku, peradaban mati,” kata Gusti.
Saya hitung ada 12 buku ditulisnya, yaitu : Sejenak Bersama Sang Guru (2016), Keabadian Cinta (kumcer, 2017), Cecak : Cerita Cakrawala (2017), dan Panduan Menulis Artikel Ilmiah (2018).

Pada 2018 Guti menulis buku berjudul Feminisme Kahlil Gibran (2018). “Kahlil Gibran penulis favorit saya. Gaya tulisannya unik dan renyah. Tema yang diangkat sangat kontekstual, jujur dan membela kaum tertindas. Semisal yang tertulis dalam buku ‘Jiwa-jiwa Pemberontak’. Dia membela kamu yang tertindas.”
Setelah itu lahir lagi buku Narasi Rindu (kumcer bersama para Sastrawan NTT, 2018), Jangan Menghina Guruku Lagi (2019), Hanya Pikiran Yang Tidak Pernah Tua (2019), Secangkir Kopi Positif (2020), Guru Mabar Berkreasi Di Tengah Badai Covid 19 (esai bersama PGRI Manggarai Barat, 2020), Pelangi Senja (Kumcer, 2022), dan Bangun Pagi Itu Keren (2023).
“Sekarang saya lebih senang memfasilitasi orang-orang untuk menulis buku,” Gusti membeberkan impiannya. Bersama saya, Gusti mendatangi sekolah-sekolah SD hingga SMA di Kupang, bahkan pada 2023 kami bermukim sebulan di Pulau Rote hanya untuk mengajari anak-anak sekolah dan guru menulis.

Ternyata bakat menulisnya ditempa pada 2007 – 2011 sebagai Wakil Ketua Komunitas Kelompok Menulis di Koran (KMK) Ledalero-Maumere. Gusti juga pada 2008 – 2011 mendirikan Buletin Rumah Bambu Ledalero. Pernah menjabat Ketua Seksi Publikasi Senat STFK Ledalero (2008 – 2010), Wakil ketua komunitas Kelompok Menulis di Koran (KMK) Ledalero (2007 – 2011), Wakil Ketua Komunitas arung Sastra Ledalero (2008-2010), anggota kelompok Teater Aletheia Ledalero (2008 – 2010). Pada 2008 – 2011 medirikan Buletin Rumah Bambu Ledalero.
Naluri jurnalistiknya terus diasah sebagai penyiar Radio Sonia FM Maumere (2008-2010), Jurnalis & Penyiar Radio Tirilolok Swara Verbum Kupang (2010-2012), Kepala Perwakilan Tabloid Buser Kriminal Wilayah NTT (2012-2013), dan Presenter acara Mimbar Katolik di TVRI Kupang (2013-2017). Sekarang Penulis & Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT.
###

Bersama Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusti tidak hanya bergerak di dunia tulis menulis saja, tapi dia mendirikan taman bacaan masyarakat. Dia mengajari anak-anak lingkungannya di Desa Noelbaki – Kabupaten Kupang – NTT. Saya penah diajak dan berkegiatannya di taman bacaannya Akademi Cakrawala NTT. Persis seperti di Rumah Dunia, komunitas literasi yang saya dirikan di kota Serang-Banten.
Gagasan-gagasannya tentang literasi membawanya jadi anggota Komite Kolaborasi Pendidikan NTT sejak 2019 hingga sekarang. Juga sebagai Fasilitator Literasi Wilayah Bali-Nusa Tenggara, dipercaya sebagai Resource Persoan Program Inovasi Fase 2 di Sumba Timur dan Bergabung dalam Tim Penyusun Grand Design dan Peta Jalan Pendidikan di Provinsi NTT.
“Hidup saya untuk literasi. Bukan hanya muridnya saja, tapi guru-gurunya juga harus dilatih untuk menulis,” kata Gusti yang sejak 2013 hingga sekarang Tutor/Pendamping Menulis (jurnalistik) & karya ilmiah untuk guru, mahasiswa & siswa/i dalam lingkup wilayah NTT.
Gusti ibarat cahaya literasi di timur. Saya sebagai Duta BacaIndonesia periode 2021-2025 juga selalu merasa hangat terkena cipratan cahaya literasinya, bahkan ketika sedang berada di Banten, kampung halaman saya, jarak Kupang yang jauh tidak meredupkan cahaya literasinya. (*)
- Gol A Gong, Kupang, 6 Agustus 2024



