Puisi Esai Gen Z: Mati di Tangan Kekasih Karya Rofiatul Windariana

(Een Jumiati, 20 Tahun Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, meninggal karena dibunuh dan dibakar oleh pacarnya, Moh. Maulidi Al Izhaq pada Minggu 1 Desember 2024 )

oOo

Nafsu
Menjadikan
Kaki di kepala
Moral dibawah kaki
Iman tunduk pada birahi

Andai ada yang bilang
Andai ada pilihan
Aku tak ingin memilih menjadi perempuan
Karena meski Tuhan Maha Adil dan Maha Pengasih
Manusia bejat mengadili perempuan tanpa belas kasih.

1 Desember 2024,
Seorang perempuan Bernama Een Jumiati dibunuh dan Dibakar oleh kekasihnya. Di Desa Banjar, Kecamatan Galis, Bangkalan.
Ia dibakar hidup-hidup
Di lahan sepi, mati
Diakhiri bukan oleh takdir
Tapi oleh lelaki yang dulu pernah ia cintai.

Een Mati. Setelah mengaku hamil 2 bulan pada pacarnya, Mauilidi.
Golok menjadi jawaban yang lebih dulu menggorok lehernya, membacok tubuhnya.

Ketakutan menjadi awal dan ia tidak akan tau bahwa malam itu, Maulidi , sang Pelaku mengakhiri nyawanya seperti binatang, tidak manusiawi.

Jeritannya kala itu, tak pernah dibayangkan. Meski ada adu mulut, meski EEn sempat lari agar janinnya tak mati. Membunuh tetap bukan solusi. Namun justru, ia diakhiri

Tidak ada pembenaran bagi penghilangan nyawa.
Tidak ada yang lebih keji dari pembakaran hidup-hidup sosok manusia

Pelaku barangkali berpikir, membakar tubuh yang pernah dia kasihi dapat menghilangkan jejak kejahatan yang ia lakukan. Bensin dan kayu tidak mampu membakar bukti kekejian yang ia rencanakan. Tidak Dapat membumihanguskan kebejatan yang ia lakukan.

Kejahatan seperti bangkai yang akan selalu tercium. Bau hangus tubuh yang pernah memohon hidup juga menyebar malam itu.

Maulidi tak mampu berkelit. Bara api menjadi saksi.
Kekhilafan adalah kekhilafan
Pembunuhan tetap pembunuhan
Nyawa adalah nyawa

Een Jumiati, Mahasiswa asal Tulungagung. Sosok perempuan yang berada di perantauan, mengadu nasib berharap pulang membawa gelar. Kini kembali pulang dengan jasad tak lagi utuh.

Een Jumiati tak pernah menyangka ia akan berakhir bersama tumpukan kayu dan akan dihilangkan dalam ingatan manusia seperti asap.

Malam itu, tidak hanya nyawa yang hilang. Tidak hanya sosok Een yang tewas Tapi anak semata wayang orangtuanya yang dimimpikan memakai toga telah dibunuh mengenaskan

Anak tunggal yang ditimang dengan kasih, mati tanpa belas kasih.  Ibu sebagai pembantu rumah tangga dan Ayah sebagai buruh tani memimpikan buah hati yang dibesarkan dengan peluh dan doa menjadi sarjana muda dengan nasib yang lebih baik. 

Naasnya, mimpi ayah ibunya kini berakhir di liang kubur. Mati di tangan setan berkedok laki-laki yang tidak tau bagaimana ia dibesarkan, bagaimana ia tumbuh bersimbah peluh orangtuanya. Di lepas di perantauan dengan berat hati, kini berpulang dengan kondisi yang mengiris hati.

Kini Een Jumiati berakhir dalam ingatan. Ia disebut tidak di tengah aula Perhelatan wisuda. Namanya disebut dalam persidangan dan melalang dalam pemberitaan media.

Een barangkali sudah tenang

Tapi kami marah

Karena tubuh perempuan, bukan altar dendam

Demi apapun, tidak ada nyawa yang sepadan

22 Mei 2025

Nyawa dibalas nyawa

Maulidi yang menghabisi Pacarnya, Een Jumiati untuk lari dari jeruji kini kembali ke Jeruji

Kini harus menghadapi putusan hukuman mati.

Ia membabi buta malam itu, enggan bertanggung jawab. Dengan geram membunuh dan membakar EEn beserta janin 2 bulan dalam perutnya. Kini dipaksa tunduk dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Kepuasan ia membunuh dan membakar nyawa sepadan dengan sorak orang-orang mendengar putusan hakim dipersidangan.

Semua bersorak, demi Een, “Agar tak ada lagi Een yang lain.”

oOo

CATATAN KAKI:

https://surabaya.kompas.com/read/2025/05/22/150926078/bunuh-dan-bakar-mahasiswi-utm-pelaku-divonis-hukuman-mati

https://surabaya.kompas.com/read/2025/05/22/150926078/bunuh-dan-bakar-mahasiswi-utm-pelaku-divonis-hukuman-mati

https://www.detik.com/jatim/hukum-dan-kriminal/d-7667369/kronologi-mahasiswi-utm-dibunuh-lalu-dibakar-pacar-saat-hamil

https://www.tempo.co/hukum/kasus-jasad-mahasiswi-utm-dibakar-kampus-desak-polisi-jerat-tersangka-dengan-pasal-pembunuhan-berencana-1176701

oOo

TENTANG PENULIS: Rofiatul Windariana, Peremuan kelahiran 1997 asal Madura dan alumni UIN Sunan Kalijaga Ypgyakarta. Ia merupakan Founder Siniar.co, Simposium dan Co-Founder Panggung Perempuan. Ia juga memiliki minat dalam kajian filsafat, Studi Islam dan feminisme.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==