Trans Banten Harus Berlari Mengejar Ketertinggalan

Oleh Naufal Nabilludin

Tiga tahun lalu, di Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Serang yang ke-15, saya menulis esai soal betapa tertinggalnya transportasi massal di Kota Serang. Mulai dari angkot yang jelek dan rute yang tidak jelas, hingga ketiadaan bus rapid transit modern seperti di kota-kota lainnya.

Kemudian, pada tahun 2024, saya berkesempatan magang di Kota Bandung selama lima bulan. Saat itu, saya banyak menggunakan Bus Trans Metro Pasundan yang saat ini berubah nama menjadi Trans Metro Jabar.

Saya merasakan langsung kenyamanan menggunakan bus yang disubsidi pemerintah ini. Saat itu, tarif regulernya hanya Rp4.900. Penumpang juga bisa mendaftarkan diri untuk mendapatkan tarif khusus bagi mahasiswa, pelajar, lansia (berusia 60 tahun ke atas), dan penyandang disabilitas. Tarif khusus hanya Rp2.000. Karena saat itu status saya adalah mahasiswa, saya mendaftar untuk mendapatkan tarif khusus.

Trans Metro Pasundan Jawa Barat Koridor 5

Sedangkan di daerah saya, Bus Trans semacam itu di Banten belum ada saat itu. Hanya ada pemberitaan soal rencananya, tetapi bus itu belum juga mengaspal.

Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan ibu kota yang transportasi massalnya terbaik di Indonesia, seharusnya membuat Banten lebih cepat beradaptasi dengan kemajuan transportasi massal. Tetapi, kenyataannya tidak demikian. Transjakarta pertama kali mengaspal tahun 2004. Dua puluh tahun kemudian, di Banten belum ada Trans Banten. Itu menjadi kegelisahan saya saat itu.

“Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi transportasi Jakarta hari ini, butuh berapa tahun pemerintah Banten supaya bisa menyamai transportasi yang ada di Jakarta? 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, atau mustahil?” Itulah pertanyaan saya saat itu.

Harapan Baru Trans Banten

Kini, kegelisahan itu menemukan secercah harapan. Di Hari Ulang Tahun (HUT) Banten yang ke-25, 4 Oktober 2025, Trans Banten resmi diluncurkan. Ada rasa bangga dan haru, Banten akhirnya memiliki bus Trans. Rute perdananya adalah Koridor 3 dari Terminal Pakupatan ke Untirta Sindangsari, dengan dua bus yang beroperasi dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00, dengan keberangkatan satu jam sekali.

Dalam video yang dirilis Pemprov Banten, terlihat Pak Andra Soni dan Pak Dimyati meresmikan sekaligus mencoba menaiki Trans Banten. Dalam video itu, saya kaget: bus yang digunakan oleh Trans Banten berbeda dengan Transjakarta dan bus Trans di kota-kota lain. Kapasitasnya 37 kursi penumpang dengan formasi 2-2. Bus ini berbeda dengan bus Trans yang biasanya dipakai di kota lain, yang kursinya menyamping dan dilengkapi gantungan untuk penumpang berdiri. Untuk memastikannya, saya akhirnya mencoba langsung Trans Banten ini.

Mencoba Trans Banten

Kemarin, 5 November 2025, saya mencoba Trans Banten untuk pertama kalinya. Saya naik dari Kampus Untirta Pakupatan menuju Kampus Sindangsari. Sekitar pukul 09.30 saya sampai. Ternyata, sudah banyak mahasiswa yang menunggu Trans Banten di depan gerbang kampus. Sekitar pukul 10.03, bus 1 Trans Banten berhenti di depan Untirta Pakupatan.

Kesan pertama yang saya dapat dari bus Trans ini adalah berbeda dengan yang ada di video Pemprov Banten. Bus Trans Banten ini sepertinya bukan bus baru. Hal itu terlihat jelas pada interiornya. Bahkan, ada satu video di akun Instagram yang sempat mempertanyakan apakah bus ini bekas Transjakarta?

Terlepas dari apakah bus ini bekas atau bukan, menaiki bus ini cukup nyaman. AC-nya dingin walaupun penumpang penuh, dan bus masih bisa berjalan dengan normal.

Kedua, ketika naik, ternyata tidak harus tap e-money seperti yang ada dalam video Pemprov Banten. Penumpang langsung naik saja. Padahal, saya sudah menyiapkan e-money. Menurut saya, tapping e-money penting dilakukan untuk pembiasaan, meskipun ini masih tahap uji coba dan gratis sampai akhir tahun, jika memang nantinya bus ini akan menggunakan e-money.

Ketiga adalah soal rute. Ketika naik pertama kali di Untirta Pakupatan menuju KSB, saya pikir bus ini akan lewat Bundaran Ciceri, ke Kebon Jahe, terus melewati Jalan Serang-Pandeglang menuju ke Untirta Sindangsari. Dengan dua bus yang tersedia, awalnya saya berpikir satu bus akan lewat KP3B dan satu bus akan lewat dalam kota. Ternyata tidak begitu. Semua bus lewat rute yang sama, pulang pergi. Jadi, setelah ke KSB, bus akan berputar lagi ke Pakupatan dan lanjut melewati Bogeg menuju ke arah Untirta Sindangsari.

Keempat, Trans Banten ini belum terkoneksi dengan aplikasi Mitra Darat yang mengintegrasikan bus Trans secara nasional. Melalui aplikasi ini, penumpang bisa melihat langsung posisi bus secara real-time. Sudah satu bulan setelah resmi diluncurkan, tetapi saat ini tidak ada pemberitaan soal Trans Banten yang terkoneksi dengan aplikasi Mitra Darat. Hal ini penting dilakukan oleh Pemerintah Banten yang harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan.

Saran saya, penting untuk membuat media sosial khusus mengenai informasi Trans Banten. Ini bisa menjadi strategi promosi sekaligus menjadi media informasi yang bisa diakses oleh masyarakat. Ini adalah hal kecil yang mudah, tetapi penting di masa sekarang.

Trans Banten atau Trans Kampus?

Banyak yang berkomentar bahwa Trans Banten ini seperti bus kampus, karena memang melewati kampus-kampus di Banten, seperti Untirta, Uniba, Poltekes, Unbaja, dan UIN Banten. Dan ketika saya naik, 90 persen penumpangnya adalah mahasiswa. Jadi, Trans Banten ini masih terkesan menjadi bus kampus dan belum banyak melayani masyarakat secara luas, serta tempat-tempat penting seperti pasar, sekolah, dll.

Pak Andra Soni mengatakan bahwa Trans Banten tidak akan melewati rute yang sudah ada transportasinya. Itu sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik lagi jika konektivitas dan integrasi semua moda transportasi dipikirkan.

Bus Trans ini bukan yang pertama di Banten; di daerah-daerah lain, layanan serupa sudah lama ada. Konflik dengan moda transportasi konvensional sering kali terjadi di beberapa kota. Banten harus belajar dari kota-kota tersebut. Akan selalu ada konflik dalam setiap proses modernisasi, dan perlu dipikirkan pula solusi yang komprehensif. Misalnya, angkot bisa menjadi bagian dari modernisasi ini. Pemerintah bisa membayar operator angkot untuk menjadi feeder resmi Trans Banten, seperti pada skema JakLingko di Jakarta.

Walaupun rasanya Banten masih jauh dari titik itu, tetapi ini harus menjadi rencana pemerintah ke depan untuk benar-benar memodernisasi seluruh transportasi massal di Banten.

Saat ini, melalui Peraturan Daerah Provinsi Banten No. 1 Tahun 2025 tentang RPJMD 2025-2029, pemerintah merencanakan lima koridor rute Trans Banten, yaitu: Terminal Pakupatan – Untirta Sindangsari, Terminal Cipocok – Terminal Kalijaga Rangkasbitung, Banten Lama – Baros, Terminal Pakupatan – PCI Cilegon, dan Terminal Pakupatan – Cikande.

Tentu ini menggembirakan, tetapi Pemerintah Banten harus sadar bahwa Trans Banten sangat tertinggal dengan bus Trans di daerah lain. Lima koridor yang sudah direncanakan harus segera direalisasikan dalam waktu dekat ini.

Kita boleh berbahagia dengan kehadiran Trans Banten pada HUT Provinsi Banten. Tetapi, Pemerintahan Andra Soni dan Dimyati harus bekerja ekstra keras mengejar ketertinggalan dalam hal transportasi publik. Bukan lagi berjalan, tetapi harus berlari mengejar ketertinggalan, sebab transportasi massal modern seperti Trans Banten adalah hak warga, bukan kemewahan.

Pemerintah Banten harus membuktikan bahwa mereka mampu bergerak cepat, terukur, dan ambisius untuk menjadikan Banten provinsi yang layak huni, terhubung, dan tidak lagi dicap sebagai yang paling tertinggal transportasi massalnya di Jawa.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==