Oleh: Aii Aayy
Hari Jumat sepertinya selalu menjadi hari penemuan inspirasi untuk menyambut weekend. Saat itu, aku, Lisda, dan Kurniawan—teman kuliahku—sedang asyik bernostalgia mengenang masa kuliah melalui pesan WhatsApp.
“Main ke Jakarta aja yuk nanti.”
Tiba-tiba, Kurniawan menawarkan ide. Akhirnya, kami memutuskan untuk berkomunikasi melalui pesan grup setelah sekian lama hanya saling menjadi penikmat story.
Aku bergegas membuka KAI Access dan melakukan riset kecil-kecilan melalui media sosial. Imajinasiku tertuju pada destinasi yang bernuansa klasik; aku membayangkan bangunan-bangunan tua dan museum.
“Poporongos” itu nama grup kami. Kami berdiskusi, diawali dengan bertukar jadwal. Lisda mulai menawarkan tanggal, aku menyetujuinya. Sayangnya, Kurniawan ada jadwal lain. Tidak apa-apa, semoga di waktu lain kami bisa trip ke destinasi lain.
“Kota Tua.” Aku mencoba menawarkan destinasi ini kepada Lisda. Ia menyetujuinya. Aku melanjutkan riset dan menyusun mini itinerary karena kami hanya akan travelling satu hari saja. Aku mulai mencari rute KRL, jadwal, dan rekomendasi wisata di sekitar Kota Tua Jakarta.

Aku menjelaskan rute perjalanan KRL kepada Lisda. “Lis, kita ke Kotu full naik KRL saja ya. Kamu ada rekomendasi wisata yang mau dikunjungi di Kotu?” tanyaku melalui pesan pribadi WhatsApp.
“Kita ke Lighting Art yuk. Tempatnya kalau dilihat dari konten-konten sih deket banget, di deretan bangunan Kafe Batavia dan Museum Wayang,” jawab Lisda dengan semangat.
Aku menyetujui sambil mencari beberapa opsi lain untuk antisipasi jika kami berubah pikiran saat di sana. Rencana keberangkatanku esok hari, Sabtu pagi, dimulai dari Stasiun Cilegon dengan keberangkatan pukul 08.07 WIB.
Perjalanan Menggunakan KRL
Setelah selesai membantu pekerjaan rumah, aku bersiap-siap untuk berangkat ke Stasiun Cilegon. Perjalanan ke Stasiun Rangkasbitung sekitar 90 menit menggunakan kereta lokal ekonomi. Karena weekend, suasana kereta cukup ramai. Setelah tiba di Stasiun Rangkasbitung, aku berjalan menuju peron KRL tujuan akhir Tanah Abang.
Aku dan Lisda bertemu di Stasiun Cisauk. Kami menunggu kedatangan kereta berikutnya menuju Stasiun Tanah Abang. Meski perjalanan sederhana dan rute cukup familiar, rasanya bersyukur sekali karena masih diberikan kesempatan untuk berjumpa setelah sekian lama fokus pada kehidupan masing-masing.
Kami asyik bercengkerama hingga tak terasa perjalanan sudah hampir dua jam dan tiba di Stasiun Tanah Abang. Di sana, kami beristirahat dan salat sambil menunggu kereta transit tujuan Stasiun Kampung Bandan datang.

Perjalanan dari Stasiun Tanah Abang menuju Kampung Bandan sekitar 18 menit. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Stasiun Kampung Bandan dan Stasiun Jakarta Kota.
Perjalanan dilanjutkan dengan rute Stasiun Kampung Bandan menuju Stasiun Jakarta Kota sekitar tujuh menit. Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota, kami menuju pintu keluar di sebelah kanan, arah ke wisata Kota Tua.
Eksplorasi diawali dengan mencicipi kuliner di sekitar Kota Tua. Kami memesan dua porsi mi ayam dengan harga Rp20.000 per porsi dan menyantapnya di pinggir jalan sambil menikmati suasana riuh orang-orang yang bertamasya bersama keluarga.
Festival Budaya di Kota Tua

Setelah menikmati mi ayam, kami berjalan menuju bangunan utama Kota Tua. Suasana sangat ramai karena ternyata sedang digelar acara Festival Budaya. Sebelum menuju Lighting Art, kami menyempatkan diri untuk berfoto dan melihat beberapa pameran serta penampilan di acara itu.
“Lumayan ya, Lis, jadi berasa nonton konser dadakan dan gratisan,” ucapku kepada Lisda.

Aku menikmati suasana sore itu, mengamati aktivitas ribuan manusia dan menonton beberapa pertunjukan musik. Sekitar pukul 17.00 WIB, setelah puas berfoto, kami berjalan mengikuti arah Google Maps menuju Lighting Art, yang ternyata letaknya hanya bersebelahan dengan bangunan Rumah Akar tempat kami berfoto. Aku dan Lisda tertawa konyol.
“Maklum lah ya, sesama cewek masih amatir baca map,” ucap Lisda sambil mengejekku.
Memasuki Dunia Cahaya: Lighting Art
Setelah menemukan bangunan yang bertuliskan “Rumah Hantu, Lighting Art”, aku dan Lisda membaca poster-poster yang terpajang di sekitar pintu masuk. Petugas mengarahkan kami untuk masuk terlebih dahulu dan melihat-lihat pilihan wahana di dalam sana. Pilihan kami tetap pada tujuan utama, Lighting Art dengan satu wahana. Tiket masuknya Rp45.000 untuk satu orang dewasa dan Rp40.000 untuk anak-anak. Pembelian tiket hanya bisa dilakukan di loket saja.

Sebelum masuk, kami diberikan arahan agar tetap nyaman dan aman karena setiap sudut menggunakan aliran listrik. Untuk mengakses spot-spot foto di dalam wahana, kami dipanggil secara bergantian. Setiap pengunjung masuk bersama rombongannya, dan barang bawaan bisa dititipkan di loker bagian depan sehingga kami bisa nyaman saat berfoto.
Spot pertama, kami disambut dengan taman tulip. Cahaya berwarna-warni pada bunga tulip yang tersebar di bagian dinding kaca dan lorong akses jalan, lengkap dengan sound yang segar, memberikan sensasi seperti sedang berada di taman tulip Belanda. Melihat cahaya-cahaya yang estetik rasanya seperti sedang di dunia fantasi, dan kami terus berjalan menyusuri keindahan di setiap sudutnya.


Menurutku, Lighting Art worth it untuk dikunjungi ketika sedang berlibur ke Kota Tua Jakarta. Jaraknya dekat, dan kita bisa sepuasnya menikmati setiap spot. Lighting Art ini menyuguhkan ruang-ruang estetik dengan seni cahaya yang kekinian dan sudut yang instagramable—cocok untuk semua usia.
Keindahan cahaya lampu yang bervariasi sangat indah diabadikan dalam sebuah gambar. Di sini tersedia kurang lebih 20 ruangan dengan desain dan tema cahaya yang berbeda-beda. Beberapa spot favoritku adalah cahaya lampion, moonlight space, dan cahaya aliran air. Aku dan Lisda menghabiskan waktu sekitar 90 menit di dalam wahana.


Tidak hanya wahana ini saja, tersedia pilihan lain seperti Magic Art 3D dan Rumah Hantu. Jika kalian sedang berada di Kota Tua Jakarta, salah satu place to go yang wajib dikunjungi adalah Lighting Art. Bisa ajak teman, keluarga, atau pasangan.
Total budget perjalanan menuju Lighting Art dari Stasiun Cilegon hanya sekitar Rp76.000—sangat ekonomis tetapi memuaskan. Yuk, segera rencanakan travelling-mu!

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


