Oleh Jack Alawi
Akhir bulan November 2025 lalu saya mengunjungi teman di Bogor. Saya berangkat dari Serang ke Bogor menggunakan kereta api. Saya membeli tiket kereta api Serang-Rangkasbitung di Aplikasi KAI Acces dan membeli tiket Rangkasbitung ke Bogor di Aplikasi Go-Jek.
Cara beli tiketnya cukup mudah, saya download aplikasi KAI Acces untuk tiket Serang-Rangkasbitung. Terus log-in, atau daftar jika belum punya akun. Pilih rute dan tanggal, terus isi biodata diri. Lalu bayar pake qris, e-wallet, atau transfer bank. Setelah itu kita dapat tiketnya.


Untuk beli tiket KRL di aplikasi Go-Jek tinggal buka aplikasinya, pilih GoTransit, terus pilih beli tiket Commuter Line. Pilih stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan, terus tinggal bayar. Saya saat itu bayar pakai GoPay.
Saya naik kereta pukul 6 pagi, setelah perjalanan sekitar satu jam, kereta sampai di Stasiun Rangkasbitung. Saya sempatkan sarapan dan minum kopi di warung sekitar stasiun. Pukul 8 saya naik kereta KRL tujuan Stasiun Tanah Abang, perjalanannya sekitar 2 jam. Sesampainya di Stasiun Tanah Abang, saya langsung naik kereta lagi menuju Bogor.
Perjalanan menggunakan kereta dari Serang ke Bogor ini bagi saya menarik. Terlebih lagi, beberapa tahun lalu saya sering menggunakan transportasi kereta api untuk ke Jakarta.
Kenangan Naik Kereta Api Tahun 2000-an
Pada tahun 2000 an, saya sering sekali ke Jakarta naik kereta api. Saat itu penumpangnya selalu padat karena tidak ada batasan tiket, toilet kotor, dan pedagang silih berganti menawarkan jualannya. Semua hal itu membuat perjalanan jadi tidak nyaman.
Pengap dan bau keringat membuat saya lebih memilih naik ke atas gerbong kereta. Saya tidak sendirian di atas gerbong kereta, banyak penumpang lain yang juga memilih untuk duduk di sana. Saya agak yakin alasannya sama seperti saya.
Pengalaman naik kereta di atas gerbong ini saya akui saat itu membuat saya senang. Keindahan memandang sekitar jalur kereta itu jadi kebahagiaan yang selalu saya sukai. Hembusan angin pun membuat saya lebih nyaman daripada berdesakan dengan penumpang lain di dalam gerbong kereta.


Saat itu saya menghiraukan bahaya yang bisa saja sewaktu-waktu menimpa saya. Seperti jatuh dari kereta, terkena dahan pohon, sampai bisa jadi terkena kabel listrik. Tapi kini saya tidak perlu lagi memacu adrenalin duduk di atas gerbong, tidak perlu menantang resiko akan terjadinya hal yang tidak diinginkan ketika duduk di atas gerbong kereta.
Bukan cuma karena aturan yang melarangnya, tapi juga menggunakan transportasi kereta api saat ini jauh lebih baik dan nyaman. Juga ongkosnya murah, perjalanan saya dari Serang ke Bogor tidak sampai menghabiskan uang 30 ribu rupiah.

Kereta api KRL di Jabodetabek ini bersih, wangi, juga sejuk. Sekarang tidak ada lagi berdesakan dengan cucuran keringat dan bau badan. Walaupun di jam padat penumpang seperti saat waktu berangkat dan pulang kerja, masih banyak penumpang yang berdiri berdesakan. Tapi karena AC yang cukup memadai, jadi tidak ada bau badan dan keringat yang berlebihan.
Lebih nyaman lagi karena pengguna kereta api KRL di sekitar Jabodetabek ini sadar dengan pentingnya kenyamanan bersama. Mereka duduk atau berdiri tanpa membuat keributan dan tidak bertingkah laku yang aneh. Kalaupun ada yang ngobrol, mereka masih menyesuaikan diri dengan tidak bicara keras-keras.
Saya kira transportasi kereta api kita khususnya daerah Jabodetabek saat ini sudah sangat baik. Tidak kalah jauh dengan MRT Singapura, hanya perlu diakui MRT Singapura stasiun-stasiunnya lebih modern. Bulan Desember ini gerbong khusus petani dan pedagang juga sudah beroperasi di rute Rangkasbitung-Merak. Semoga ini bisa berdampak besar untuk peningkatan penghasilan pedagang kecil dan petani.


Kini stasiun-stasiun yang sedang berbenah juga sudah mulai jadi, stasiun baru Tanah Abang dan sebagian Stasiun Rangkasbitung sudah mulai digunakan. Semoga penambahan kereta yang beroperasi bisa semakin banyak agar pengguna transportasi kereta api semakin nyaman dan agar pengguna transportasi lain di Jabodetabek dan sekitarnya bisa lebih banyak yang menggunakan transportasi yang murah dan nyaman ini.
Tentang Penulis

Jack Alawi adalah seorang guru dan Tour Guide Tapaki Travel

ESAI tayang 2 minggu sekali, setiap hari Kamis. Upayakan tulisannya bukan sekadar mengkritik, tapi juga memberikan solusi. Jika ada pernyataan tentang suatu hal, maka harus ada pembuktiannya agar tidak jadi hoax atau fitnah. Panjang tulisan 700 hingga 1000 kata. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor WA, foto-foto yang mendukung esaimu, juga foto penulisnya. Ada honor Rp 100 ribu. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Esai.


