14 Januari 2025:
Aku berdiri di Jiefangbei, Chongqing. Pedestarian cukup besar. Penguasa di sini betul-betul ingin membahagiakan warganya. Orang-orang membuat content, berswa-foto. Lalu-lalang tertawa-tawa sambil minum soft drink dan menjilati es krim.
Jifangbei atau “Monumen Pembebasan” dibangun 1947 untuk memperingati kemenangan Cina dalam Perang Sino-Jepang. Awalnya bernama “Spiritual Fortress” untuk menginspirasi rakyat Cina dalam perjuangan melawan penjajahan Jepang.

Aku jadi ingat drama di kampung halamanku, bagaimana agama dibawa ke ruang publik. Suatu hari tahun 2007, putra kedua kami berteriak, “Pah, patung kita hilang?”
Saat itu mobil yang aku setiri hendak masuk pintu tol Serang Timur, mengikuti family gathering dengan RCTI tempatku bekerja. Patung keluarga sejahtera; ayah dan ibu yang sedang menuntun anak lelaki dan perempuan berdiri di sana. Nabila (8) dan Gabriel (7) menganggap itu adalah mereka. Tiba-tiba patung itu lenyap!


Aku langsung membelokkan mobil, keliling kota Serang. Patung Sultan Ageng Tirtayasa sedang naik kuda juga raib. Betapa sedihnya aku. Jika kita ke alun-alun Magelang, di sana ada patung Pangeran Diponegoro naik kuda dan tangannya menuding Belanda!
Kemudian bersama Toto St Radik – penyair kelahiran Singarajan Pontang, mencari tahu ke DPRD Kabupaten Serang. Ternyata itu adalah cara agar LPJ Bupati diterima oleh DPRD!Patung-patung itu mereka anggap berhala! Kami meminta agar semua patung dilenyapkan, karena masih ada beberapa patung yang berdiri seperti Monumen Daerah di alun-alun dan patung harimau. Tapi tidak dilakukan. Begitulah para politisi kita, tebal mukanya.


Kini aku bersama Jordy-Natasha di Jifangbei.
Gedung-gedung megah menuding langit dan mengurung. Fashion berserakan di sini. Era digital menjadikan tempat ini jadi pusat bisnis dan hiburan paling populer di Chongqing, dengan banyak toko, restoran, dan hotel di sekitarnya, menyebar ke seluruh dunia. Alfin Tofler (The Third Wave, 1980) sudah meramal ini.
Gol A Gong
Traveler, Author
*) Chongqing, pukul 07:30



