Serunya Wisata Murah ke Sanggar Agung Temple Surabaya

Oleh Ike Susanti

Saya menempuh perjalanan yang cukup jauh dari rumah di Sukodono, Sidoarjo, menuju Kota Surabaya. Mengendarai motor, saya melibas jarak kisaran 30 km untuk sampai ke tujuan wisata hari ini: Sanggar Agung Temple di Kenjeran Park.

Meski Surabaya terkenal cukup panas, kawasan wisata yang berlokasi di Jalan Sukolilo No. 100 ini terasa cukup rindang dengan berbagai pohon besar dan jalanan yang sepi.

Untuk masuk ke sini, tiketnya cukup terjangkau, yakni Rp10.000/motor untuk hari biasa (Senin-Kamis) dan sedikit naik saat akhir pekan. Bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan pribadi, tersedia kereta kelinci seharga Rp10.000 yang siap mengantar hingga depan area temple.

Sesampainya di lokasi, Rozi, salah seorang juru parkir menyapa, “Parkir motor tarif Rp3.000 sedangkan mobil Rp5.000.” Area parkir ini sangat hidup dan dipadati penjual kuliner kaki lima. Aroma lontong kupang, lontong balap, dan sate kerang langsung menyergap.

Salah satu yang paling ramai hingga memicu antrean adalah dua pedagang kue “lekker”. Kue tipis dan renyah dengan taburan keju pisang ini dijual Rp15.000 per paket. Selain kuliner, terlihat juga penjual burung pipit yang menawarkan dagangannya seharga Rp2.000 per ekor.

Saya mulai memasuki gapura temple di sisi kanan. Seorang satpam yang berjaga membalas sapaan saya dengan anggukan dan senyum ramah. Area dalamnya memiliki pelataran cukup luas dan terparkir beberapa motor. Terlihat juga badut bertopeng yang siap diajak berfoto.

Di sebelah kanan, berjajar tempat duduk bagi pengunjung. Kami memanfaatkannya untuk bersantai sejenak. Kue lekker yang tadi dibeli langsung kami santap berdua. Rasanya nikmat, mengeluarkan bunyi “kriuk-kriuk” karena ukurannya setipis kerupuk.

Sambil mengunyah, saya melirik ke sisi luar pagar. Terhampar pemandangan hutan bakau dengan pepohonan yang terendam air pantai berlumpur. Puas menikmati kue, kami beranjak ke tengah area untuk mengamati suasana. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Sebagai informasi, Sanggar Agung buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 20.00 WIB.

Hutan bakau yang mengelilingi area Temple

Umat yang hendak sembahyang mulai berdatangan membawa persembahan, seperti dua buah nanas dan hio (dupa). Jalan masuk umat melalui pintu depan bangunan, sedangkan pengunjung diarahkan ke pintu samping kiri sesuai penunjuk arah di tembok.

Pengunjung umum bisa melihat tata cara peribadatan umat Buddha, Khonghucu, dan Tao dari luar karena dinding bangunan menggunakan kaca.

Karena bukan umat yang beribadah, kami berjalan masuk lewat samping sambil mengamati suasana. Di depan gedung sembahyang, terdapat kolam ikan hias kecil yang memanjakan mata. Kami terus melangkah, melewati wastafel tempat mencuci buah dan toilet pria, hingga tiba di pelataran luas terbuka di belakang tempat ibadah.

Di sini, terdapat panggung pertunjukan kecil dengan kursi plastik yang berjajar dan sebagian lagi tampak ditumpuk. Berjalan lebih jauh ke sisi kanan gedung, berdiri sebuah patung megah.

“Ini Patung Dewa Kwan Kong. Dewa yang dipuja sebagai dewa perang, keadilan, kesetiaan, dan kekayaan,” ucap Hendrik, salah satu umat di sana.

Terlihat umat yang masuk terlebih dahulu tadi menyajikan dua buah nanas di atas meja persembahan di sisi kanan dan kiri. Tak jauh dari altar, terdapat tumpukan meja kayu.

Patung Dewa Kwan Kong

Di ujung pelataran Sanggar Agung, berdiri patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter yang menghadap ke laut. Patung ini diapit oleh Longtio, Sancai, Empat Maharaja Langit, dan sepasang naga surgawi setinggi 6 meter.

Konon, Dewi Kwan Im terkenal karena belas kasihnya dalam menolong orang yang kesusahan, memberi kesembuhan, dan melancarkan usaha. Banyak pengunjung menggunakan spot ini untuk berfoto, tidak terkecuali saya.

Deretan patung tersebut menjulang tinggi dengan latar belakang pantai yang indah, meski airnya sedang surut. Saat berjalan mendekati bibir pantai, terlihat beberapa burung bangau terbang rendah. Di air yang surut itu pula, tampak ikan-ikan kecil berenang dan kepiting yang berjalan-jalan.

Di area ini, terlihat umat beribadah dengan menancapkan hio di kaleng-kaleng yang tersebar di tepi pantai. Ada juga umat yang menaburkan satu kresek besar bunga mawar ke laut untuk “nyekar” atau mengirim doa bagi leluhur yang dikremasi.

Selain itu, beberapa umat tampak membawa burung pipit di dalam sangkar untuk ritual Fangshen, yaitu melepas makhluk hidup ke habitat asli demi menciptakan karma baik.

Puas berkeliling, saya sempat mampir ke toilet wanita yang berada di sisi gedung utama (terpisah dengan toilet pria). Setelah itu, kami beranjak keluar gedung menuju lokasi peribadatan berikutnya yang dipisahkan oleh jalan raya dan deretan kendaraan parkir.

Brama 4 rupa berlapis emas salah satu pemegang rekor MURI

Memasuki area di kiri jalan, kami menaiki beberapa anak tangga menuju tempat peribadatan yang tampak megah dengan pagar setinggi kira-kira satu meter.

Di sini terdapat Patung Brahma Empat Rupa (Four-Faced Brahma) yang berlapis emas 22 karat. Keempat wajahnya menghadap empat sisi mata angin yang melambangkan kesehatan, jodoh, rezeki, dan keselamatan. Patung yang diresmikan pada 9 November 2004 ini juga memegang rekor MURI sebagai salah satu patung Buddha terbesar di Indonesia.

Di depan masing-masing wajah Brahma, terdapat patung Gajah Putih yang kakinya menapaki bunga teratai. Gajah putih ini bermakna kejayaan, keberuntungan, kekuasaan, dan kemuliaan.

Tak jauh dari situ, terdapat Dewa Ganesha yang terkenal dalam agama Hindu sebagai dewa pengetahuan, kecerdasan, pelindung, penolak bala, dan kebijaksanaan.

“Area ini rutin dibersihkan setiap hari. Pengurus juga membeli kalung dari luar negeri yang dipakai Ganesha dan Brahma 4 Rupa,” ujar Samsiah, seorang petugas kebersihan di lokasi.

Saat berada di area ini, pengunjung perlu berhati-hati karena ada penjual keripik keliling—seorang nenek—yang menjajakan paket dua bungkus keripik seharga Rp15.000 dengan cara sedikit memaksa.

Puas berjalan-jalan dan waktu menunjukkan pukul 13.00, saatnya menikmati kuliner khas Lontong Kupang yang berjajar di sepanjang jalan. Namun, ada hal yang perlu dicermati soal harga.

Spanduk lusuh yang tertera menuliskan harga Rp10.000, namun saat membayar kami dikenakan Rp12.500 per porsi dan es teh Rp5.000 per gelas.

“Itu tulisan lama,” ungkap Murti, penjual yang melayani kami. Hendaknya pembeli menanyakan dahulu harga menu di sekitaran tempat wisata agar tidak kaget.

Acara jalan-jalan kali ini usai. Kami berdua pulang ke rumah dengan mengendarai motor. Awan sudah mulai gelap dan berisiko segera turun hujan, sehingga tepat pukul 14.00 kami beranjak keluar dari lokasi Kenjeran Park.

TRAVELING tayang 2 minggu sekali setiap Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==