Aku keluar hotel. Jalanan Urumqy basah. Salju turun pelan-pelan. Aku susuri kota yang masih gelap. Padahal sudah pukul 09:00. Aku ingin melihat kehidupan pagi di sini. Terasa berjalan lambat.
Aku jadi ingat puluhan tahun lalu. Di sebuah hostel Kathmandu, Nepal, 1991, saya berlari keluar karena melihat sosok tinggi dan besar berwarna putih, seolah mau mencabut nyawaku. Peristiwa itu berulang di Bandung pada 1993.
Ketika kuceritakan kepada Bapak-Emak, jawaban mereka membuatku termenung lama.


“Kamu pernah punya nadzar yang belum jalankan?”
Aku teringat ketika masih di SMA, 1980-82. Aku pernah bertransaksi dengan Tuhan. “Ya Allah, sukseskan aku jadi penulis. Nanti akan aku bangun gelanggang remaja seperti Ali Sadikin buat di Jakarta. Akan aku mudahkan anak-anak muda Banten atau mungkin Indonesia yang ingin belajar jurnalistik, sastra, dan film.”
Saat itu nasibku buruk sekali jika ingin belajar 3 disiplin ilmu itu. Banten yang hanya 2 jam dari Jakarta, tidak menjadikan kota itu maju. Mistisisme, primordial, patriarki, jawara, santet, masih kuat. Tak ada toko buku, apalagi diskusi-diskusi yang membangun dialektika.
Aku harus ke Jakarta atau Bandung untuk urusan itu. Aku kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung, 1982, untuk mendapatkan ilmunya – walaupun kemudian aku tinggalkan pada 1985.
Akhirnya aku putuskan berhenti sebagai traveler atau backpacker. Aku ke Jakarta pada 1995. Dibantu Hilman Lupus, aku bekerja di Indosiar sebagai script writer. Pindah ke RCTI jadi senior Creative pada 1996 dan menikah dengan Tias Tatanka.


Bersama Tias, Toto ST Radik, Rus Revolta, Abdi Suhud, Si Uzi, dan Abdul Malik, melaksanakan nadzar yang tertunda, membangun Komunitas Rumah Dunia pada 1998. Ini cara memindahkan dunia ke rumah lewat jurnalistik, sastra, dan film.
Setelah pensiun sebagai traveler atau backpacker sejak 1993, aku melihat Komunitas Rumah Dunia berjalan dengan baik ditangani para sahabat dan relawan, pada 2012 mengajak Tias traveling di 7 negara selama 50 hari. Juga keempat anak; Nabila, Gabriel, Jordy, dan Natasha di Asean, Sumatera, Kalimantan, Jawa-Bali.
Aku juga menggabungkan kegiatan literasiku sebagai Ketua Umum PP Forum Taman Bacaan Masyarakat (mitra Kemdikbud, 2010-2015) dan Duta Baca Indonesia (produk Perpustakaan Nasional RI, 2021-2025) dengan hobi travelingku. Programku tidak jauh dari itu; Gempa Literasi dan Safari Literasi. Aku keliling Indonesia sambil memberikan pelatihan menulis.
Kini setelah selesai sebagai Duta Baca Indonesia, Desember 2025 memulai Literacy Journey 12 Negara bersama Jordy-Natasha.


Thailand, Laos, Vietnam, dan China sudah kami lalui. Di ibu kota kelima negara itu, saya memberikan pelatihan menulis cerita anak dan travel writing. Di Bangkok bekerja sama dengan SIP Publishing. Di Vientiane bersama KBRI dan Diaspora. Di Hanoi dengan KBRI. Di Beijing dengan KBRI dan Perhimpunan Mahasiswa Tiongkok atau Permit.
Minggu, 25 Januari 2026, kami akan menggunakan kereta menuju kota perbatasan Huoergusoi. Nanti besok, Minggu 25 Januari 2026, meluncur ke Huoergusoi, perbatasan China Kazakhtan. Dari Urumqy pukul 22:00. Tiba keesokan harinya pukul 09:00 di Huoergusoi. Bisa langsung shared-taksi dari Stasiun Kereta Huoergusoi ke terminal bus, ongkosnya 15 yuan/orang. Jaraknya tidak jauh. Dari terminal bus bisa langsung ke Alamaty Kazhakstan. Semoga di pos perbatasan berjalan lancar.
24 Januari 2026:
Gol A Gong
Traveler, Author



