Puisi Esai Gen Z: MBG: Istimewa, yang Lain Sekadar Ada Karya Ermira Nilansari Putri

Isu pengadaan motor listrik untuk MBG menjadi sorotan publik setelah muncul klaim jumlah mencapai 70.000 unit. Kepala BGN kemudian menegaskan bahwa angka tersebut tidak benar. Realisasi sebenarnya sekitar 21.801unit dari total rencana 25.000unit pada 2025 untuk mendukung operasional program.  Netizen +62 banyak yang menanyakan berkaitan dengan urgensi pengadaan motor listrik tersebut. Ditambah lagi pengadaan motor Listrik (jenis trail) bukankah sudah ada mobil MBG. Dimana letak urgensinya? Kebijakan ini menuai perdebatan karena dinilai kontras dengan kondisi kesejahteraan tenaga kesehatan dan guru, terutama di daerah pelosok, yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan dukungan.

Tautan:

https://nasional.kompas.com/read/2026/04/07/11150161/soal-70000-motor-listrik-mbg-kepala-bgn-tidak-benar-hanya-25000-motor-dan

https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20260407094819-603-1345001/heboh-motor-trail-listrik-disebut-untuk-operasional-mbg

disudut bingkai kacamata 
terlihat negeri yang katanya
akan memeluk semua anaknya
menggunakan tangan keadilan—
nyatanya aku hanya melihat pelukan
menghangat di satu sisi saja
bisa dikatakan “anak emas” penguasa 

sementara dipojok sana
mulai tersingkirkan,
terasingkan,
retak,
dan nyaris tak bernama.

MBG,
ohhh MBG 
namamu menggema dilorong gala premier 
terdengar nyaring sehingga bumantara pun tunduk
engkau dielu-elukan
laksana pahlawan super 
yang dijanjikan tak akan pernah tenggelam
sampai kapanpun itu
ujar penguasa diatas sana

25.000 motor listrik melintas dengan angkuh
tanpa suara—
Apa takut jika rakyat terbangun?
sehalus bisikan angin senja
seperti burung besi
yang mengantar harapan

namun,
harapan siapa yang diantar?
#bertanyadengannadasopan.

diseberang sana
ku menatap penuh duka
lorong rumah sakit yang ramai 
seorang nakes berusaha tegar berdiri 
menopang malam yang tak berujung
matanya terpantau cekung bagaikan sumur tua
yang mulai mengering ditelan janji manis sang penguasa 

ia berlari kesana-kemari 
hampir saja ia seolah sedang melakukan marathon
berlari lebih cepat dari detak jarum jam 
lebih lelah dari bumi yang terus berputar

namun kesejahteraan yang didapatkan—
kecil,
bagaikan serpihan atom,
yang tercecer di sudut kebijakan.

ku bersimpuh diatas tanah ibu pertiwi 
tak sanggup melihat pemandangan ini 
Sejak kapan negeri ini berubah begitu menyayat hati?
kulihat ruang kelas tanpa berselimut cat
seorang guru renta masih bersemangat menulis masa depan
menggenggam kapur yang hampir habis
berharap dapat mengukir senyum diwajah generasi bangsa 

beliau mengajar
bagaikan lilin yang rela tubuhnya habis terbakar
demi memberikan cahaya bagi orang lain

tapi upahnya
seperti bayangan senja
ada…
namun nyaris tak dianggap

MBG adalah”anak emas” di negeri ini

diberi anggaran yang tak masuk akal 
roda tanpa lelah mencaplok rintangan yang menghadang jalanmu 
motor listrikmu melaju
sungguh sangat “KEREN”
seperti kilat yang tak ingin padam
pasti ada saja gebrakan yang tak disangka 

sementara nakes
garda terdepan kita 
berjalan kaki di lorong tak berujung 
bagaikan bayang-bayang hantu 
yang tak pernah sampai tujuan

dan lihatlah guru—
garda terdepan kita
masih mengayuh hidupnya sendiri
tanpa baterai
tanpa sorotan
tanpa tepuk tangan
tanpa ada yang peduli 

ironi ini menjerit-jerit 
mengalahkan kerasnya gemuruh badai halilintar 
lebih pedih dari ribuan sayatan yang tak tampak

sejak kapan negeri ini menjelma menjadi panggung sandiwara 
di mana sebagian disorot lampu terang benderang 
sementara yang lain
dibiarkan tenggelam
dalam gelap yang pekat
tanpa temaram cahaya sama sekali 

MBG merupakan “anak emas” ujar para penguasa negeri 
dipeluk dengan erat
dihiasi jutaan pujian
diberi sayap listrik yang tak tahu apa gunanya 

sedangkan mereka
nakes dan guru
garda terdepan kita 
hanya berdiri di pinggir cerita
hanya berperan sebagai figuran yang tak akan diingat dan kemudian dilupakan perlahan 
dalam naskah besar bernama negara

timpang,
miring,
sehingga keadilan pun terlihat seperti ilusi

bagaikan pelangi tanpa warna “mejikuhibiniu”
bagaikan hujan tanpa ditemani turunnya butir air 
bagaikan janji manis yang hanya hidup di bibir pidato pencalonan 

aku berbisik menyampaikan pertanyaan pada angin malam:
Mengapa kasih sayang tidak dibagi dengan rata?
dari sini aku menyimpulkan:
sebenarnya negeri ini mampu mensejahterakan garda terdepan kita “guru dan nakes”
hanya saja mereka tidak mau
mereka memilih opsi lain yang …. 
#lebihbaik 
???

dan di ujung jalan berlubang 
motor listrik itu melaju dengan gagah
badan motor mengilap seolah-olah ingin memamerkan pada rakyat 
seperti simbol kemajuan
nyatanya?
sementara jauh di belakangnya
sayup-sayup terlihat jejak-jejak sunyi
dari telapak kaki yang lelah
dari hati yang rapuh
dari pengabdian puluhan tahun yang tak pernah cukup dihargai

MBG,
istimewa…
dan yang lain
hanya sekadar ada. 

Tentang penulis:

Ermira Nilansari Putri adalah perempuan yang betah berlama-lama di antara buku. Kadang menulis puisi, kadang hanya menikmati cerita orang lain. Sastra jadi tempat pulang ketika dunia terasa ramai.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==