Puisi Esai Gen Z: Harga Sebuah Kreativitas Karya Fikram Eka Putra

Puisi esai ini berangkat dari kisah nyata yang menimpa Amsal Christy Sitepu, seorang videografer dan Direktur CV Promiseland. Pada rentang waktu 2020 hingga 2022, Amsal menawarkan jasa pembuatan video profil desa ke puluhan desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kasus ini menjadi sorotan tajam, terutama bagi generasi muda yang banyak terjun ke ekonomi kreatif, karena memperlihatkan betapa rentannya posisi freelancer dan pekerja seni di hadapan hukum negara yang kaku.

Kejanggalan paling nyata dalam kasus ini adalah temuan auditor Inspektorat Kabupaten Karo. Dalam menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembuatan video, auditor menetapkan nilai Rp0 (Nol Rupiah) untuk komponen esensial seperti “Ide dan Konsep”, “Clip-on/Microphone”, “Editing/Cutting”, hingga “Dubbing”. Birokrasi gagal memahami bahwa dalam industri kreatif (audiovisual), hal-hal intangible (tak berwujud) seperti ide, penyutradaraan, dan penyuntingan gambar justru merupakan nyawa utama dan komponen berbiaya paling tinggi dari sebuah karya. Menghargai proses kreatif dengan angka nol sama saja dengan menistakan profesi pekerja seni.

Ketidakadilan semakin mencolok di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Medan. Amsal Sitepu dituntut hukuman 2 tahun penjara, denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan, dan pidana tambahan membayar uang pengganti Rp202 juta. Di sisi lain, para Kepala Desa yang bertindak sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)—pihak yang memiliki kewenangan menyetujui harga dan mengeluarkan uang negara—hanya dijadikan saksi dalam persidangan ini. Realitas ini memberikan chilling effect (efek jeri) yang luar biasa bagi pelaku industri kreatif muda untuk bekerjasama dengan institusi pemerintahan di masa mendatang.

Link: https://news.detik.com/berita/d-8421584/kejagung-jelaskan-perkara-videografer-amsal-sitepu-didakwa-korupsi

***

Di bawah lindap pelita yang menggigil didekap sepi, 
Sepasang mata terjaga, memintal pendar cahaya menjadi detak nadi. 
Bukanlah sutra yang ia sulam di atas sajadah malam, 
Melainkan paras jelita sebuah desa di pangkuan Sinabung yang bungkam. 
Ia dekap embus angin, ia rekam lanskap luka menjadi rapsodi, 
Berharap gema keindahannya menembus pekatnya ufuk bumi.

Namun, apalah arti setitik bara di pelukan gletser yang mati? 
Tuan-tuan berjas luks hadir membawa neraca yang telah lama buta, 
Menakar peluh karsa dengan bandul besi yang tak punya rasa. 
Di atas lembar berstempel garuda, nyawa seni direnggut dan dipancung tanpa sisa. 
Segala kantuk yang ditebus, otak yang berdarah, dan lara yang disatukan, 
Luruh menguap laksana embun yang dijilat kemarau panjang: 
Sebuah nol yang hampa, untuk imajinasi yang diremukkan.

Rotasi semesta seolah terhenti, tersedak empedu realita. 
Sejak masa manakah mahakarya diobral layaknya rongsokan hina? 
Sejak kapankah jiwa pencipta disembelih di atas altar birokrasi yang fana?

***

Bukankah kesepakatan adalah waltz dua jiwa yang berpadu tulus? 
Secarik asa disemai, ditanam bak benih di ladang yang lapang. 
“Inilah tebusannya, Tuan. Tiga puluh juta demi memahat abadi dalam bingkai kenang.” 
Dua karsa bertaut dalam jabat, senyum merekah di bibir sang tuan pemilik kuasa.

Tak ada belati yang menempel di urat nadi, 
Tak ada bisik paksaan yang mencekik dari balik tirai sunyi. 
Hanya ikrar seorang pengukir cahaya untuk mengangkat tanah kelahirannya. 
Mahakarya pun rampung, mahar tertunaikan tanpa cacat sepeser jua. 
Gelas-gelas bersulang, merayakan tarian waktu yang berhasil ditaklukkan.

Namun, oh, malangnya nasib… panggung sandiwara ini belum benar-benar dipadamkan. 
Tirai kedua yang lebih legam baru saja dikerek menutupi langit terang.

***

Nahas, angin senja mengembuskan aroma anyir dari balik tembok beton kota.
Datanglah para pengetuk palu dengan mistar patah di tangan, 
Berlagak congkak, mencoba menakar palung samudra dengan jengkal kebodohan. 
“Terlampau mahal!” hardik mereka, serupa guntur yang merobek dada langit. 
“Udara tak berbanderol, ilham tak bertubuh, harganya lebih hina dari rontokan debu!”

Beda angka disulap menjadi hantu purba bernama kerugian negara. 
Tuduhan dilesatkan layaknya panah berlumur tuba, 
Mengutuk sang penenun cahaya menjadi parasit penghisap darah jelata.

Oh, kewarasan merintih pilu di dasar lorong nalar yang gulita. 
Andai mahar itu sedari awal dirasa mencekik leher dan merobek dada, 
Mengapa pinangan itu tak ditepis saja di ambang pintu? 
Mengapa pena menari membubuhkan restu, jika di akhir cerita senimanlah yang tertikam sembilu?

***

Dewi keadilan menyenandungkan kidung sumbang di ruang pesakitan yang membeku. 
Sang tuan pemegang kunci brankas duduk nyaman di atas takhta saksi, 
Kulitnya tak tersentuh jelaga, angkuh berlindung di balik benteng birokrasi. 
Sementara sang pengukir mimpi, yang jemarinya melepuh merangkai keindahan, 
Diseret paksa, dibelenggu lara menuju liang sempit berlapis besi.

Dua kalender yang pekat menanti si perajut karsa, 
Menebus dosa khayal yang tak pernah sudi ia goreskan di atas kanvas jiwa.
Sebab di tanah kelahirannya, mata hukum telah lama rabun membaca rupa seni, 
Sebab neraca keadilan hanya sudi menari di atas nisan angka-angka yang mati.

Bila cipta, rasa, dan karsa hanya dianggap debu hampa yang beterbangan, 
Maka biarlah rahim peradaban di negeri ini kering dan mandul tertelan zaman. 
Biarkanlah keindahan terkubur sepi di bawah nisan tumpukan nota, 
Mati tercekik oleh palu godam kebodohan, perlahan… dalam duka yang paling purba.

Tentang Penulis:

Penulis adalah Kolomnis dan penulis lepas di berbagai media cetak dan digital, tulisan-tulisan penulis banyak berfokus pada isu sosial dan politik. Penulis merupakan alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang dan saat ini menjalani pendidikan magister di universitas yang sama.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==