Tapi siapa sangka, awal mula Asqo menulis puisi sebenarnya hanya iseng belaka. Waktu itu, di kampusnya, di Universitas Banten Jaya (Unbaja), seorang dosen bernama Rahmat Heldy HS, yang juga merupakan seorang penulis sekaligus Duta Baca Banten, kerap memamerkan sejumlah buku yang ditulisnya pada mahasiswa. Lalu mengatakan kalau ingin jadi penulis, kejar daku.

“Aku iseng membuat beberapa puisi dan menunjukannya pada sang dosen. Ternyata tulisanku itu dinilai cukup baik, aku tiba-tiba merasa senang setiap kali orang mengatakan kalau tulisanku bagus. Sehingga aku terus menulis puisi sampai sekarang,” cerita pemilik nama lengkap Ahmad Asqolani ini, Sabtu (23/7/2022).

Akibat perkenalaannya dengan puisi yang mengasyikkan, Asqo kemudian memilih jalan puisi dan makin memperdalam ilmu puisi. Sejumlah buku puisi ia lahap. Sedikitnya ada beberapa buku puisi yang benar-benar mempengaruhi Asqo, pertama buku karya Chairil Anwar dan kedua Kahlil Gibran.

Lantas kenapa akhirnya seorang Asqo bisa jatuh cinta pada puisi?
“Karena aku menyukai teka-teki. Bagiku, menulis puisi adalah mengatakan sesuatu dengan cara berbeda jadi tidak gamblang, maknanya harus dicari,” kata lelaki lulusan S1 Unbaja yang mengambil jurusan PPKn ini.

Bagi Asqo, memilih jalan puisi karena ingin akrab dengan kata-kata, sehingga nantinya kalau menulis prosa bisa enak dibaca. Selain itu juga puisi itu singkat dan proses menulisnya cepat.

Bakat menulis puisi Asqo ternyata sudah terlihat sejak SMA. Pertama kali ia menulis puisi waktu SMA, disuruh guru Bahasa Indonesia. Puisi Asqo dinilai sang guru bagus. “Guru Bahasa Indonesa mengatakan kalau aku punya bakat. Tapi kalau mau serius harus meyakinan orang tua. Dulu aku enggak paham maksudnya apa, tapi sekarang aku sangat ngerti. Sedangkan puisi yang diterbitkan pertama kali di Tangsel Pos. Satu kolom puisiku semua,” papar Asqo yang sekarang menjadi salah satu pegawai Staf Non Revenue Water di PERUMDAM Kabupaten Serang ini.

Berkat ketekunannya mengakrabi dunia puisi atau dunia menulis, kini karya-karya Asqo sudah bermunculan baik di koran lokal, maupun nasional. Beberapa kali ia diundang dalam event sastra. Sekali waktu saya dan Asqo pernah satu pesawat pada acara pertemuan penyair di Padangpanjang.

“Aku masuk event sastra di beberapa daerah, hampir semua puisi yang aku kirim ke acara event pertemuan penyair aku lolos. Yang terakhir, puisi saya lolos di Bengkulu Writers Festival,” ungkap suami dari Giani Marisa ini.

Puisi Asqo pernah dimuat dalam event buku kumpulan puisi di Riau, Medan, Padangpanjang dan Bengkulu dalam rentang waktu 2017 hingga 2020.

Tidak hanya menulis puisi, Asqo juga ternyata mencoba menulis cerpen. Belakangan ini, cerpen Asqo tembus media nasional. Bagi Asqo menulis cerpen karena ingin mencoba hal baru.

“Saya memiliki target koran-koran nasional yang ketat sehingga yang dimuat baru dua: Benda Gaib di Media Indonesia tahun 2018 dan Pohon Kunang-kunang, 13 Cerita Bersambung di koran Tempo tahun 2022,” pungkasnya.



