Secara sederhana, postdramatik bisa diartikan sebagai teater setelah teater, yang mana bentuk dan model kerja serta karyanya berbeda dari model kerja teater realisme yang masih banyak dipakai. Kerja-kerja postdramatik paling tidak dalam upaya presentasi mencoba melibatkan penonton tidak hanya sebagai penonton tapi publik yang berpikir tentang makna serta maksud dari pertunjukan postdramatik tersebut .
Jadi postdramatik secara tidak langsung berguna untuk menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya menghibur tapi memiliki daya kritis dalam penciptaan. Namun ia tak berdiri sendiri, tapi bagaimana para pelakon maupun penonton turut merasakan rasa sakit dari cerita yang coba ditampilkan.

Dalam postdramatik yang dipresentasikan dalam Workshop Dramaturgi Postdramatik di Yogyakarta beberapa waktu lalu, ada penonton yang bertanya pada Kai Tuchmann sebagai Mentor dalam Workshop tersebut, “Sejauh apa tingkat keberhasilan dari presentasi para peserta workshop?”
Menurut Kai Tuchmann, “Soal tingkat keberhasilan dari pertunjukan postdramatik dikembalikan pada publik yang merasakan sendiri bagaimana pertunjukan tersebut bisa dirasakan, bagaimana keterlibatan publik secara luas dalam pementasan tersebut.”

Dalam berbagi pengalaman belajar yang dipandu langsung oleh Yan Surachman, Ketua Komunitas Jejak Zaman, Vera Korohama dan Iwan sangat antusias mendengarkan paparan saya. Tidak terasa magrib menjelang. Kami tutup dengan janji menggelar agenda acara selanjutnya di tempat yang berbeda.

Iklan:


