Berbagi Pengalaman  Belajar Postdramatik di Yogyakarta Kepada Publik Flores Timur

Secara sederhana, postdramatik  bisa diartikan  sebagai  teater setelah teater, yang mana bentuk dan model kerja serta karyanya berbeda dari model kerja teater  realisme yang masih banyak  dipakai. Kerja-kerja postdramatik  paling tidak dalam upaya presentasi  mencoba melibatkan  penonton  tidak hanya sebagai penonton  tapi publik yang berpikir  tentang  makna serta maksud dari  pertunjukan  postdramatik  tersebut .

Jadi postdramatik  secara tidak langsung berguna untuk menjadi sebuah tontonan  yang tidak hanya menghibur tapi memiliki  daya kritis dalam penciptaan. Namun ia tak berdiri  sendiri, tapi bagaimana para pelakon  maupun  penonton  turut merasakan rasa sakit dari cerita yang  coba ditampilkan.

Dalam postdramatik  yang  dipresentasikan  dalam Workshop Dramaturgi Postdramatik  di Yogyakarta  beberapa  waktu  lalu, ada penonton yang  bertanya pada Kai Tuchmann sebagai Mentor  dalam Workshop tersebut, “Sejauh apa tingkat keberhasilan  dari presentasi  para peserta  workshop?”

Menurut  Kai Tuchmann, “Soal tingkat keberhasilan  dari pertunjukan  postdramatik  dikembalikan  pada publik yang merasakan  sendiri bagaimana  pertunjukan  tersebut bisa dirasakan,  bagaimana  keterlibatan  publik secara luas dalam  pementasan tersebut.”

Dalam berbagi pengalaman  belajar yang dipandu langsung  oleh Yan Surachman, Ketua Komunitas  Jejak Zaman,  Vera Korohama dan Iwan sangat antusias  mendengarkan paparan saya. Tidak terasa magrib menjelang. Kami tutup dengan janji  menggelar agenda acara selanjutnya  di tempat  yang berbeda.

Iklan:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==