Di sebuah desa kecil di lereng pegunungan Jawa, hiduplah seorang pemuda bernama Andi. Ia dikenal cerdas dan rajin, namun sering terburu-buru dalam mengambil keputusan. Suatu hari, Andi ditawari oleh seorang pedagang kota untuk menjual seluruh hasil panen kopinya sekaligus, dengan iming-iming uang besar secara langsung. Tanpa berpikir panjang, Andi menyetujuinya. Ia merasa uang tersebut bisa langsung digunakan untuk membangun rumah impiannya.
Namun beberapa hari kemudian, datanglah Pak Lurah bersama koperasi desa. Mereka menawarkan harga yang jauh lebih tinggi untuk hasil panen kopi, asalkan Andi bersedia menunggu beberapa minggu untuk proses penjualan secara kolektif. Andi pun menyesal karena sudah menjual hasil panennya terlalu cepat kepada pedagang yang ternyata menipu banyak petani.

Di balai desa, Pak Lurah berkata sambil tersenyum, “Andi, dalam hidup ini kita harus seperti makan nasi. Dikunyah dulu, baru ditelan. Biar tidak tersedak.”
Sejak saat itu, Andi belajar untuk tidak tergesa-gesa. Ia mulai banyak bertanya, berdiskusi dengan sesepuh desa, dan mempertimbangkan segala hal sebelum membuat keputusan.
Peribahasa “kunyah dulu baru ditelan” menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun agar tak mudah tergoda dan lebih bijak dalam menjalani hidup.
Tim GoKreaf/Chat GPT



