Ketika kehilangan seseorang, bukan berarti kita berhenti melangkah. Hidup harus tetap berjalan, dan kita harus mengikhlaskan yang telah pergi.
Melangkah di Tengah Duka: Catatan Detik Akhir Detik Awal Rumah Dunia

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Komunitas baca dan tulis

Ketika kehilangan seseorang, bukan berarti kita berhenti melangkah. Hidup harus tetap berjalan, dan kita harus mengikhlaskan yang telah pergi.

Salam sangat semangat dan meyakinkan kalau novel saya akan selamat sampai tujuan. Padahal saya tau dia belum tidur. Tapi matanya terus menyala, memeriksa bus dan nomor serinya. Hingga kemudian, “Itu busnya, Kang!” Alhamdulillah. Novel KML pun selamat. Salam pun istirahat. Selamat tidur, Abdul Salam.

Perjuangan Abdul Salam menjaga api literasi di Rumah Komunitas Rumah Dunia agar terus menyala sepanjang 2020-2024 patut kita acungi jempol. Bersama Diofani, isterinya, menghadapi Covid-19 antara 2020-2022, Rumah Dunia terus bertahan. Kita harus jaga dan terus nyalakan.

Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia, di tahun 2017 lalu adalah orang yang paling berjasa dalam penerbitan buku puisi tunggal pertama saya, “Hujan Kau Selalu Begitu”, mulai dari editor, pembuatan cover, diskusi ini itu, hingga buku diluncurkan dan di bedah di Rumah Dunia, Serang, Banten, dalam rangkaian perayaan Hari Buku Dunia.

Berduka adalah hal yang wajar, tetapi cara menutup luka adalah sesuatu yang harus diupayakan agar kita tidak tenggelam dalam kesedihan.

Kamu pernah kehilangan orang yang spesial? Begitulah kami merasakannya. Namanya Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia, meninggalkan kami dengan cinta yang nyalanya abadi di hati kami.a

Tugas saya dan teman-teman adalah membuat desain acara, termasuk dekorasi. Dengan dana yang terbatas, kami dituntut untuk memanfaatkan bahan yang sudah ada, seperti banner bekas dan kardus bekas.

Saya belum memiliki prestasi apa-apa di Rumah Dunia. Abdul Salam yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam komunitas Rumah Dunia.

Kemudian acara dilanjutkan dengan talk show dari beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) Baznas Provinsi Banten dan KIP Kuliah.

Abdul Salam — presiden Rumah Dunia telah berpulang ke Rahmatullah, ia yang seharusnya berdiri untuk memberikan sambutan di acara tersebut, namun panggung menjadi kosong kehilangan sosoknya.

Kini, bersama gerimis tanpa jarak dan waktu, aku hanya bisa melangitkan doa-doa terbaik, untukmu dan seluruh keluarga tercinta yang kehilanganmu, khususnya istri dan anak yang semoga diberikan ketabahan dan kesabaran atas takdir kepergianmu

Rumah Dunia kehilangan sosok penting, Abdul Salam, Presiden Rumah Dunia, yang wafat sehari sebelum acara ini berlangsung.

Bang Salam selalu menemukan persepektif baru saat diskusi dengan beliau, lebih dari pada itu, saya sangat jatuh cinta dan kagum dengan cara beliau menjalani dan memaknai hidup, Sederhana dan bermakna.

Kang Salam adalah orang yang energik, sederhana, optimis dan memiliki hasrat belajar yang tinggi. Begitu yg saya simpulkan selama bergaul dengan nya. Tahun 2014 adalah awal kami berkenalan. Saya tergabung dalam Kelas Menulis Komunitas Rumah Dunia mas Heri Harris Golagong dan sering menginap disana.

Sehari sebelum kepergian Abdul Salam, saya masih sempat memeluk tubuhnya di rumah sakit. Berkelebat wajah almarhumah ibu dan tetehku saat itu, masih terasa hangat tubuhmu yang sedikit menggigil minta dipeluk.

Saya tak pandai menulis puisi dan sudah lama juga tak menulis karya lainnya. Tapi hari ini saya ingin sekali menulis untuk Abdul Salam.

Sekarang, saya tak bisa lagi membalas kebaikan-kebaikannya, selain menambah nama almarhum Abdul Salam Bin almarhum H. Husni dalam daftar penerima hadiah fatihah dan yasin di keluarga saya. Sampai tidak sampai, saya yakin Tuhan lebih tau maksud hamba-Nya.