Dulu, saya adalah anak bungsu yang belajar dari para senior. Sekarang, saya berada di posisi mereka, mencoba melakukan hal yang sama untuk relawan baru.
Dejavu dan Haru di Detik Akhir Detik Awal Rumah Dunia 2024

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Komunitas baca dan tulis

Dulu, saya adalah anak bungsu yang belajar dari para senior. Sekarang, saya berada di posisi mereka, mencoba melakukan hal yang sama untuk relawan baru.

Aku memberanikan diri untuk membuat sebuah film pertamaku yang selama hampir 3 tahun belum berani membuat film hasil ide dan garapan diri sendiri

Momen yang paling diingat bagi saya tentang Bang Salam, saat menang lomba video pendek juara 3 se-Kota Serang. Beliau tampak semangat mendorong saya untuk naik ke podium.

Terima kasih, Bang. Bang Salam sudah mengajarkan banyak hal. Maaf juga kalau selama jadi relawan belum sepenuhnya mampu jadi seperti yang Bang Salam harapkan.

Terimakasih banyak om Salam, atas semua ilmu yang telah diberikan kepada aku. Tanpamu, aku tidak akan bisa jadi seorang mahasiswa film. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga kebaikan beliau bisa menjadi jalan menuju pintu surga

Hal lain yang harus kita lakukan bersama di Rumah Dunia sepanjang 2025-20230 adalah mendorong kembali terciptanya berbagai buku dan karya tulis di Rumah Dunia seperti di periode awal. Di momen-momen seperti Hari Ulang Tahun Rumah Dunia, Hari Buku, Hari Puisi, dan perayaan yang berkaitan dengan buku dan literasi, saya berharap ada buku yang ditulis oleh keluarga besar Rumah Dunia.

Sayang sekali aku hanya bisa membantu mereka sebentar. Aku tidak mengikuti ini secara full, padahal acara (DADA) merupakan acara yang begitu seru

Bang Salam, di hari kau disalatkan, aku melihat istrimu Dio dan buah hatimu Ozora berdiri di pelataran Masjid, menunggu jamaah lain selesai membacakan doa untukmu. Air Mataku tak bisa kubendung, aku tak bisa berbuat apa-apa, kukecup kening Ozora, anak tampan yang akan meneruskan perjuangan ayahnya di Rumah Dunia.

Kalaupun aku diminta untuk bersaksi, aku tidak sanggup. Aku juga bingung kesaksian atas peristiwa dan kenangan mana yang harus kuceritakan. Tidak ada peristiwa istimewa saat kita bersama. Aku pernah pergi ke laut bersamamu, aku pernah pergi ke hutan, ke bukit, ke pulau juga ke pasar juga bersamamu. Semuanya tidak ada yang istimewa, semuanya sangat istimewa.

Salah satu kenangan paling membekas adalah kebiasaan Abdul Salam menolong orang lemah. Ia pernah memborong dagangan seorang pedagang tua yang sepi pembeli, lalu membagikan dagangan itu kepada kami. Ketika saya bertanya mengapa ia melakukannya, ia hanya menjawab, “Biar bapak/ibunya cepat pulang dan istirahat.”

Tapi begitu Bang Dodom yang mencoba, api langsung menyala-nyala dengan mudah. Kami semua terheran-heran, seolah-olah Bang Dodom adalah seorang pengendali api.

Tak hanya sekadar mendengarkan, aku pun diberi ruang dan kesempatan untuk mengisi salah satu agenda acara tersebut.

Rasanya mirip seperti dulu, saat di pondok: penuh dengan orang-orang random, tetapi tetap menyenangkan.

Yang menarik adalah, dalam setiap kenangan yang diceritakan oleh mereka yang merindukannya, selalu muncul hal-hal baik tentang Ka Salam—tentang kebaikan dan dedikasinya.

Saat melihat lihat kembali album di fb, ternyata Salam adalah relawan Rumah Dunia yang fotonya paling banyak di jepretan saya. Ya Robb, duka ini rasanya begitu dalam. Duka kehilangan seorang guru, seorang teman yang hangat.

Kakang tidak pernah tahu akhir dari perjuangan kita di tempat ini. Tapi ketahuilah, di tempat ini kita pernah menangis bersama, bergandengan tangan bersama dan doa bersama. Kakang bangga dengan istrimu, yang sangat tabah dan kuat mengurusmu tanpa pulang sekalipun dari tempat ini.

Aku belajar untuk lebih fleksibel menghadapi situasi yang tak terduga dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.