Oleh: Gina Nurasyah-Relawati Rumah Dunia
Di penghujung tahun ini, kuhabiskan waktu di Rumah Dunia dengan menjadi panitia acara Detik Akhir Detik Awal 2025. Tahun ini agak berbeda dari sebelumnya, Rumah Dunia sedang berduka atas wafatnya Bang Abdul Salam, presiden Rumah Dunia. Namun, acara tetap berjalan, diiringi dengan mengenang sosok beliau.
Pengalaman yang paling berkesan bagiku adalah ketika aku bisa menginap di kamar para relawan bersama panitia lainnya.

Kebersamaan menginap di Rumah Dunia membuatku merasa déjà vu—seolah terlempar kembali ke beberapa tahun lalu, saat aku masih menjadi santri di pondok. Karena hanya tersedia dua kamar saja, relawan dan panitia laki-laki tidur di Auditorium Rumah Dunia, sementara panitia perempuan tidur di kamar dan perpustakaan.
Aku dan lima temanku yang lain—yang merupakan panitia dari penghujung kelas menulis angkatan 40—berbagi satu kamar. Sementara itu, para relawan tetap Rumah Dunia tidur di perpustakaan.

Di kamar kami, terdapat dua kasur lipat yang disatukan. Tadinya, kami sepakat untuk tidur berjajar rapi. Namun, salah satu temanku yang lebih dulu terlelap malah tidur dengan posisi yang tidak sesuai kesepakatan. Akibatnya, kami semua akhirnya tidur tidak beraturan. Padahal, dia sendiri yang mengusulkan aturan posisi tidur! Entahlah, aku juga tidak paham.
Tak hanya itu, salah satu temanku memilih tidur di lantai. Katanya, dia akan terjaga semalaman karena acara selesai sangat larut. Tapi ternyata, dia malah tidur lebih cepat dari yang lain. Ah, orang-orang ini memang aneh. Rasanya mirip seperti dulu, saat di pondok: penuh dengan orang-orang random, tetapi tetap menyenangkan.
Yang membuatku merasa déjà vu lagi adalah serangan makhluk kecil bernama nyamuk. Mereka seolah menjadi “kenangan lama” yang hadir kembali—mengingatkanku pada suasana pondok dulu.
Meski begitu, acara Detik Akhir Detik Awal ini tetap menjadi kegiatan positif untuk menutup tahun. Semoga ke depannya acara ini semakin baik, penuh makna, dan memberikan lebih banyak kenangan indah.



