Di zaman di mana jari-jari bisa menciptakan peluang, mereka yang masih berat kaki dan tangan hanya akan jadi penonton kehidupan—dan itu pun kalau sinyalnya kuat.
Sarapan Kata 112: Berat Kaki Berat Tangan

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Di zaman di mana jari-jari bisa menciptakan peluang, mereka yang masih berat kaki dan tangan hanya akan jadi penonton kehidupan—dan itu pun kalau sinyalnya kuat.

Dalam dunia peribahasa, “seperti gajah masuk kampung” bukan hanya sekadar ungkapan. Ia adalah gambaran getir tentang ketimpangan. Gajah adalah simbol kekuasaan—besar, kuat, tak mudah dihentikan. Ketika ia masuk kampung, bukan hanya tanah yang berguncang, tapi kehidupan warga yang tergilas perlahan-lahan.

Peribahasa ini secara halus mengingatkan kita untuk tidak terjebak pada penilaian lahiriah. Wajah yang tidak menarik bukanlah cerminan dari hati dan pikiran seseorang. Bahkan, bisa jadi seseorang yang secara fisik biasa saja atau kurang menarik justru memiliki kepribadian yang halus, tutur kata yang indah, dan budi pekerti yang luhur.

Banyak orang berlomba-lomba memamerkan gaya hidup mewah di media sosial, meskipun kenyataannya pas-pasan atau bahkan berhutang. Mereka tampil dengan pakaian bermerek, nongkrong di kafe mahal, liburan ke luar negeri, padahal semuanya bisa jadi hasil cicilan atau pinjaman.

Peribahasa “Duduk berkurung siang malam” memang menggambarkan kasih sayang yang begitu erat dan tak terpisahkan, biasanya antara dua orang yang sangat dekat—bisa pasangan, sahabat karib, atau keluarga yang sangat saling mencintai.

Peribahasa “Kunyah dulu baru ditelan” memang mengandung makna bahwa sebelum melakukan sesuatu, sebaiknya dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang terlebih dahulu. Sama seperti kita harus mengunyah makanan sebelum menelannya agar mudah dicerna, begitu juga dalam hidup—kita harus memikirkan dampak dan risiko sebelum bertindak.

Biasanya, ini bisa disebabkan oleh kelelahan, sakit, atau kurang tidur. Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan ini bisa digunakan untuk menggambarkan orang yang terlihat tidak segar atau kehilangan energinya. Kamu sering melihat seseorang yang seperti ini, atau mungkin pernah mengalaminya sendiri?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui situasi seperti ini—baik di dunia nyata maupun di media sosial. Banyak yang mengadu buku lidah tanpa mendengarkan sudut pandang lain, membuat perdebatan hanya menjadi ajang unjuk diri, bukan pertukaran pemikiran yang sehat.

Peribahasa ini berasal dari pengamatan terhadap ruas dan buku pada batang tanaman, seperti bambu atau tebu. Ruas dan buku adalah bagian yang menyatu dengan pas, melambangkan keserasian atau kecocokan antara dua hal.

Dalam konteks kehidupan, peribahasa ini bisa diartikan bahwa suatu masalah atau kesulitan yang muncul di awal (hulu) dapat berdampak besar bagi banyak orang di kemudian hari. Ini juga bisa menggambarkan sebuah situasi yang tampaknya kecil atau sepele, tetapi memiliki dampak yang luas dan menyusahkan.

Peribahasa “Diberi sehasta, minta sedepa” menggambarkan sifat tamak atau tidak pernah puas. Maknanya adalah seseorang yang sudah diberi sedikit, tetapi terus meminta lebih banyak lagi tanpa rasa cukup atau bersyukur.

Betul! Peribahasa “Dunia tidak seluas daun kelor” mengandung pesan bahwa dunia ini luas, dan masih banyak kesempatan lain jika kita menghadapi kegagalan atau kesulitan. Ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah, tetap berpikir positif, dan mencari peluang baru.

Benar! Peribahasa “Lagi lauk lagi nasi” menggambarkan bahwa semakin kaya atau berkecukupan seseorang, semakin banyak orang yang mendekat untuk berteman atau mencari keuntungan darinya.

Benar! “Bergantung di akar lapuk” adalah peribahasa yang menggambarkan seseorang yang mencari perlindungan atau bergantung kepada orang yang tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk menolongnya.

Benar! “Lapuk oleh kain sehelai” menggambarkan kesetiaan seseorang terhadap pasangannya, seperti kain yang setia menemani hingga usang, tanpa berpindah ke lain hati. Peribahasa ini mengajarkan nilai komitmen, ketulusan, dan kebersamaan hingga akhir hayat.

Biasanya, peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bersikap manis di depan tetapi berkhianat di belakang, atau seseorang yang pura-pura baik tetapi sebenarnya memiliki niat buruk.

Di zaman sekarang, banyak orang yang “hidup di dua muara” dengan bekerja sebagai karyawan tetapi juga menjalankan bisnis online, menjadi freelancer, atau berinvestasi.