“Umi. Aku ijin dan minta doanya biar lancar dan berkah,” kata Wulan, mencium kedua tangan gurunya.
“Iya, mi do’ain semoga kamu sehat-sehat di sana. Jaga diri baik-baik, Nak,” tegas Umi, raut mukanya nampak sedih.
Melihat wajah guru yang sedih, air mata Wulan mengalir berjatuhan tanpa diundang. Ia memeluk Umi erat-erat dengan tangisan penuh duka. Selama ini, Wulan memang banyak membantu kebutuhan di pesantren, bahkan beberapa kali dijodohkan dengan santri pilihan gurunya.
Namun, Wulan harus pergi karena ekonomi yang krisis. Ia adalah anak pertama dari tiga saudara, dua adiknya masih sekolah sehingga perlu biaya yang lebih. Ayah Wulan meninggal ketika dirinya mendapatkan adik pertama, sedangkan ibu semakin tua, tenaganya tak kuat lagi untuk bekerja.

Sekarang, Wulan bekerja di salah satu yayasan untuk mengajar anak-anak tingkat SD dan SMP. Ia mengajar Baca Tulis Qur’an (BTQ) dan Bahasa Arab. Selama bekerja, Wulan sangat disenangi orang tua murid. Sosoknya yang sederhana, anggun, lembut, dan murah senyum membuat siapa saja yang melihatnya merasa damai dan tentram.
Ujian mulai datang ketika Fahri—teman kerja, sering melirik dan memandang Wulan. Hal itu Wulan sadari setelah melihat kamera yayasan, tiba-tiba banyak sekali foto dirinya.
“Kamera ini biasa dipake Fahri,” kata Wulan dalam hati.
Wulan ingin bertanya langsung ke Fahri, namun hatinya mengajak untuk diam dan berdamai. Beberapa hari setelah kejadian itu, Fahri tak muncul lagi di tempat kerja.
“Ibu, mau tanya. Mas Fahri kemana, ya? Kok udah lama ga liat.”
“Mas Fahri di rumah sakit Wulan. Ia dirawat karena kankernya sudah stadium akhir,” ujar Ibu kepala yayasan.



