“Ndak apa dek, ini buat kebaikan keluarga kita nanti. Anggap saja lagi ibadah, biar dapet pahala karena bantu orang tua.”
Bapak selalu menenangkanku dengan kalimat tersebut berulang kali setiap kali aku mulai membaringkan tubuhku di samping rangkaian kayu yang kami buat setiap hari. Katanya, ini untuk persembahan, bentuk rasa syukur untuk acara di pekan depan nanti. Aku tidak punya waktu banyak untuk bercerita. Ku ambil kembali cutter disebelahku, memotong bilahan bambu sesuai yang Bapak minta. Berat hati bagiku untuk melakukannya, tapi takut Bapak akan marah jika aku diam saja. Bapak memang seperti itu, selalu serius untuk segalanya. Yah, walaupun Bapak ketika marah masih kuanggap lebih baik dibandingkan Ibu. Oh, Oh, Celaka. Ibu datang. Panjang umur kata orang-orang.
Aku tau bahaya akan datang. Ibu datang dengan penuh gejolak amarah! Pintu ia banting, kerut di dahi membuat bola matanya bisa melompat keluar lalu kupotong tanpa sengaja, langkah cepat dan kerasnya kurasa dapat membelah lautan. Ia bergegas menghampiri Bapak. Bapak yang awalnya sedang duduk memotong bambu, seketika berdiri. Bapak dan Ibu sudah saling berhadapan sekarang… Aku berpikir sejenak, kurasa Bapak akan lebih dahulu berbicara!
“Bapak!”
Ah, aku kecewa. Tidak sesuai harapan.
“I-Iya Ibu ada apa?” Bapak hanya mampu bertanya sambil terbata-bata.
“Tak usah kau pura-pura pikun, umurmu belum jauh seberapa dibanding pak RT! Ah sudahlah, kemana perginya uang belanja untuk minggu ini?” Ibu kesal melihat Bapak yang memasang muka tak bersalah.
“Kupakai, untuk buat Panjang Mulud, Ibu!”
“Astaga! Sudah Ibu bilang berapa kali, Pak? Tidak usah memaksa. Kita tidak punya cukup uang untuk buat panjang. Biarlah orang lain saja. Kau lebih baik ajak anakmu itu berkebun, supaya bisa makan malam ini.”
Bapak dan Ibu berdebat. Malam tak lagi dingin seperti sebelumnya, tapi keributan dan suara berisik semakin terdengar dikepala. Rasanya seperti ingin berteriak kencang dan meminta mereka untuk diam. Alih-alih berteriak, kamu memilih untuk mencoba memahami sedikit perdebatan mereka.

“Diam kau anak kecil, kembali ke kamar! Tak usah ikut campur dengan urusan orangtua!”
Ibu memarahimu karena terlihat ingin ikut campur. Kamu akhirnya menurutinya dan menebak-nebak apa yang sedang terjadi. Ibu cukup bodoh, pikirmu. Menyuruh aku pergi bukan berarti aku tidak bisa mendengar perdebatan yang ada di ruang tengah. Hanya berbatas bambu saja sudah berharap seperti ada peredam suara.
“Sudahlah, Bu! Sudah berapa kali Bapak bilang? Ini demi kebaikan kita satu keluarga nantinya!”
“Persetan dengan kebaikan, ini acara agama. Kau harusnya tidak menggantungkan keyakinan seperti itu.”
“Ibu, lihat pak Jamal. Tahun lalu panjang muludnya paling bagus, paling mantep kata warga sini.”
“Lalu apa? Kau mau seperti dia, Pak?” Tanya Ibu dengan sinisnya.
“Tentu saja. Ibu, orang-orang desa ramai buat itu Panjang Mulud. Katanya, yang paling gede, yang paling cakep, yang paling gagah, yang paling banyak isinya, dia bakal jadi wong sugih setahun. Dari maulid nabi sekarang, sampe nanti tahun depan.” Jelas Bapak dengan percaya dirinya.
Ibu kehabisan kata-kata mendengar jawaban Bapak. Ibu berusaha menjelaskan dengan kesabarannya persis ketika dahulu aku belajar makan. Hahaha, apa Bapak seperti anak bayi ya? Dari hasil pengamatanku, sepertinya pekerjaanku tiga hari kemarin adalah membuat panjang mulud untuk acara Maulid Nabi nanti yang nantinya akan dibawa berkeliling desa sambil mengucapkan salawat kepada Nabi. Akan tetapi, Bapak memiliki keyakinan yang berbeda dengan Ibu. Ntah dia sudah terpengaruh warga atau benar adanya. Kata Bapak, ada sebuah keyakinan, keluarga yang membuat panjang mulud terbaik, akan mendapatkan rezeki yang melimpah. Tapi Ibu tidak setuju, bagi ibu itu adalah hal yang salah. Karena sebelumnya tidak ada anggapan seperti itu. Ini hanyalah acara agama biasa, seharusnya tidak ada keyakinan keyakinan menyimpang. Apalagi sampai memaksakan. Duh, rasanya aku ingin ikut marah kepada Bapak. Aku harus berpuasa sampai acara berlangsung karena uang makan habis dipakai Bapak. Aahh, kesal sekali. Ibu, aku mau menangis.
Eh.
Kupikir perdebatan mereka sudah selesai, tapi suasana malam semakin sunyi dan senyap, bahkan cukup menyeramkan. Aku bisa merasakan perasaan aneh yang mengganjal hati, seperti ada yang mengintip. Dengan sekejap, bagian puncak dari panjang mulud yang kami buat patah dan terjatuh. Bapak dan Ibu hanya mampu menatap satu sama lain.
“Tuhkan, Bu, liat tuh. Ini ada yang iri ama kita.”
“Gak usah asal ngomong kamu.”
“Iya, pasti ada yang iri. Orang-orang desa tau bahwa panjang muludku sudah setengah jadi dan tingginya hampir melebihi tinggi pohon pisang di sebelah rumah.”
“Jangan banyak omong, Pak. Sudahlah, tidur saja. Sudah malam.”
Mimpi burukku tetap berlanjut. Aku masih harus ikut mebilah bambu meski tanganku sudah berdarah beberapa kali. Aku masih harus menyium bau lem basah yang merekatkan bambu. Aku masih harus bersabar akan hilangnya waktu bermainku. Keadaan yang sama kerap terjadi. Ntah bagian atas yang patah, makanan yang hilang seperempat, bagian penyangga yang tiba-tiba bengkok. Aku takut ada yang berniat jahat. Tapi Bapak selalu meyakinkanku bahwa tidak ada yang terjadi dan semua baik-baik saja.
Sampai akhirnya, hari maulid tiba. Bapak membawa panjangnya dengan bangga, meski dibantu Ibu yang kesulitan ke teras masjid. Busungan dadanya mampu menjadi tameng apabila
aku menembaknya dengan pistol air. Warga telah ramai berkumpul. Benar, benar, benar! Persis apa kata Bapak, panjang mulud milikmu tampak paling gagah dan terbaik. Sesaat setelah pembacaan doa, tibalah waktu untuk membawa panjang mulud berkeliling desa.
Aneh, aneh, aneh.
Langit tiba-tiba mendung, angin kencang berembus membuat kami sulit berdiri. Hujan lebat tiba-tiba turun membuat kuyup. Semua warga bergegas menyelamatkan diri, berlindung di dalam masjid dan berdoa kepada-Nya. Kecuali Bapak dan Pak Jamal yang tampak berusaha menyelamatkan panjang, keributan kecil terjadi diantara mereka. Pak Jamal tampak tersenyum puas. Tak ku sangka, itu menjadi kali terakhir aku melihat Bapak.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


