“Iya nih, Neng. Coba kalau ada Pak Karyo pasti makin seru nih.” Iya, seandainya saja bapaknya masih ada. Pasti sekarang sedang tertawa bersama sembari membantu menghias jolen bersama bapak-bapak ini. “Hush, maaf ya neng Kinan. Pak Waluyo ini mulutnya memang gak bisa dijaga.” Kinanti tersenyum simpul, ia pamit kepada bapak-bapak disana untuk segera pulang ke rumah.
Sinarnya yang dulu menyala terang kini redup tertelan gelapnya malam gulita. Rumah bercat putih itu terdengar ramai dengan suara tawa dari dalam sana. Tangannya terkepal dan perlahan naik, sebelum seseorang membuka pintu itu dari dalam.
Anak kecil dengan baju rumahannya tampak tersenyum saat melihat Kinanti berdiri menjulang di depan pintu. “Ibu, teh Kinan pulang!” Teriaknya sembari berlari kembali memasuki rumah. Sang ibu beserta suami dan anak sambungnya berlari tergesa menghampiri Kinanti yang dengan tidak sopannya melenggang masuk ke dalam kamar.
“Ya Allah Kinan, ibu rindu. 9 tahun kamu pergi tanpa memberi kabar sedikitpun sama ibu.” Air mata sang ibu merembes keluar yang membuat pandangan mata Kinan ikut mengabur.
“Bu maaf Kinan lelah, ingin istirahat. Tolong jangan diganggu,” ujarnya yang kini memasuki kamar setelah meninggalkan sang ibu yang menangis di pelukan suaminya.
Ya, suaminya. Bukan bapak kandung Kinanti, melainkan suami dari hasil pernikahan keduanya. Ini yang masih tidak bisa Kinan terima. Sang ibu menikah kembali tepat setelah satu bulan bapaknya pergi ke pangkuan ilahi.

Tadi setelah membersihkan tubuh dan bergantian pakaian, Kinanti terkurung dalam mimpinya yang damai. Tak terasa bedug Zuhur mulai menggema. Ia buka jendela kamarnya agar sinar matahari dapat masuk. Dapat Kinanti lihat, warga desa yang berjalan arak-arakan sembari membawa jolen yang telah mereka hias tadi pagi. Ia pun tersenyum tanpa terasa kenangan bersama bapak dulu mulai menghinggapi kepalanya.
“Nak, makan dulu yuk.” Ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Kinanti. Tanpa berbasa-basi Kinan menuju ruang keluarga yang sudah terhidang berbagai makanan khas bulan Maulud.
Dulu, waktu bapak masih ada. Ia, ibu dan bapak tampak bahagia menyambut bulan mulud. Malam hari Kinan memasang lampu-lampu hias di rumahnya bersama bapak. Dan esok paginya, ia membantu ibu membuat makanan untuk dibagikan ke saudara. Tapi sekarang, tawa itu sirna berganti dengan tawa lain.
“Teh Kinan ayo sini makan.” Anak kecil itu dan ayahnya, tak seharusnya Kinanti membenci mereka. Ia hanya masih tak bisa menerima keadaan bahwa sang ibu sudah bahagia dengan keluarga barunya.
Suasana makan siang kali ini begitu hangat dengan suara ocehan khas anak kecil dan sahutan kedua orang tuanya. Tapi berbeda dengan Kinanti, ia sama sekali tak gembira dengan suasana ini. Mungkin ibunya juga menyadari raut tidak sukanya.
“Mau tambah, Teh?” Kinan menarik piringnya menjauhi sendokan sang ibu. Melihatnya ibunya hanya tersenyum miris.
“Teh, bapak mau ngomong boleh?” Kinanti menatap lelaki paruh baya yang duduk di sebelah ibunya dengan pandangan memicing. “Maaf sampai kapanpun, Kinan gak pernah anggap suami ibu sebagai bapak Kinan.”
Kinanti tau ia sudah keterlaluan, ia tak punya sopan santun dengan orang yang lebih tua. Terlihat dari raut wajah sang ibu yang menelan kekecewaan atas sikap Kinanti pada suaminya.
“Teteh tau kalau teteh sudah sangat keterlaluan?” Kinanti menahan air matanya. Gengsinya sudah tersenggol. “Teteh tau kalau–“
“Iya Kinan tau bu! Kinan pergi jauh dan lama tanpa pernah kabari ibu! Kinan pulang tanpa memberitahu! Kinan cuekin kalian! Kinan tau Kinan jahat!” Air mata yang tadi ditahannya kini mulai merembes keluar. “Kinan tau Kinan jahat, tapi gimana kalian? Belum ada satu bulan kepergian bapak, tapi ibu sudah menikah dengan suami ibu. Apa ibu gak jahat?”
“Kinan, saya ingin minta maaf.” Baik ibu maupun Kinan, menatap lelaki paruh baya itu dengan mata berlinang air. “Saya tidak tahu perasaan kamu seperti itu. Bapakmu minta tolong saya untuk menjaga kamu dan ibumu. Melihat kalian hancur ditinggal Karyo, saya merasa sangat bersalah.”
“Lalu, jalan keluarnya hanya pernikahan begitu?”
“Kamu sama kerasnya seperti bapakmu. Begitupun keputusan bapakmu kala ia menyuruh saya menikahi ibumu.” Napasnya memburu, rumah penuh kehangatan itu kini sangat panas oleh emosi tiap orang di dalamnya. “Kinan, saya mohon maafkan ibumu. Ia sudah tersiksa ditinggal oleh suaminya lalu kamu juga meninggalkannya.”
“Kinan butuh waktu, besok Kinan kembali ke Jakarta. Tolong jangan ganggu Kinan. Kinan akan kembali setelah hati Kinan sembuh dan sepenuhnya menerima keadaan ini.”
Lelaki paruh baya itu tersenyum, “ya kembalilah dan pulang setelah hatimu benar-benar sembuh. Saya akan menunggu kamu pulang dan memanggil saya dengan sebutan bapak.”

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


