Cerpen Sabtu: Seruni dan Anak Sawo

   “Bulik tidak mencobanya?” tanya seorang anak sambil sibuk mengupas buah sawo dengan sebilah pisau kecil. Anak-anak itu sedang lewat tadi dan Seruni memanggilnya.

   Seruni menggeleng. “Bulik tidak boleh makan yang manis-manis. Punya keturunan diabetes,” lanjutnya, lengkap dengan alibi yang dirasanya cukup masuk akal.

   “Kenapa pula tidak ditebaskan seperti kedondong Paklik Minto?” tanya anak yang lain.

   Seruni kembali menggeleng. Kali ini ia tidak menyertakan penjelasan apa pun. Lagi pula ia memang tidak mungkin akan bilang pada siapa pun mengenai alasan di balik kedua pantangannya: makan dan menjual. Tidak akan pernah.

   Dada Seruni tiba-tiba terasa sakit, serasa ditusuki ribuan jarum. Ada sesuatu yang begitu ia sesali. Tapi roda waktu berputar pada ruas jalan tunggal di mana tidak menyediakan pilihan berupa balik dan cabang. Nyatanya apa yang terjadi pada belasan tahun lalu, hanya serupa orang yang sudah mati. Waktu hanya mampu mengubur jasadnya. Sementara hantunya bergentayangan sampai sekarang. Pernah Seruni tiba-tiba mendengar tangis bayi di malam hari. Tapi tidak ada siapa-siapa di sampingnya.

   Lalu pada pagi harinya, Seruni berlari ke arah belakang rumah. Ia peluk batang tubuh pohon sawo itu sambil berurai air mata. Seruni mengajaknya bicara sambil memeriksa pentil-pentil buah  dari kemungkinan serangan ulat atau serangga. Menceritakan berbagai persoalan pelik dunia sebagai pembunuh rasa sepinya, pun tentang hubungan ia dengan suaminya.

   “Kau hanya kehilangan aku empat hari dari seminggu. Selebihnya tidak ada,” kata suami Seruni, yang ditirukan Seruni di depan lipatan kulit pohon. Beberapa lama kemudian Seruni beku. Tubuhnya mengarca bagai baru saja kena mantra.

   Seruni dan suaminya sangat jarang bertengkar karena pada dasarnya mereka memang punya hubungan yang hambar dan tak banyak saling bicara. Ketika di rumah, lelaki itu sering menghabiskan waktu dengan ponselnya. Terkadang wajahnya mengeras. Terkadang datar, sedatar layar ponselnya. Tapi tiba-tiba sesungging senyumnya muncul begitu ponsel membunyikan nada dering yang kencang. Panggilan  ia terima setelah lebih dulu menghindari Seruni yang kebetulan berada di dekatnya.

   “Sayang, apakah kau merindukan Ibu?” tanya Seruni pada helai-helai daun sawo, setelah ia memilih berlalu ke halaman belakang.

   “Seharusnya kau menghuni rumah sakit jiwa sana!” teriak suami Seruni tiba-tiba. Sepertinya ia sudah selesai dengan panggilan teleponnya, memandang muak Seruni dari tengah pintu dapur. Lalu membanting daun pintu. Tapi bunyi gubrak itu segera berlalu. Digantikan deru mesin motor yang berangsur menjauh.

   Seruni tidak memasukkan perkara daun pintu itu ke dalam kelompok pertengkaran. Karena mereka memang tidak saling berbalas kata. Saling menyerapahi. Layaknya Soimah dengan Panca  yang disaksikan Seruni kala ke warung kemarin. Seruni memilih diam, membiarkan biji-biji kata tetap berada di bilik hati yang tandus. Melisankannya berarti memberi pilihan pada benih kata untuk tumbuh dan berkecambah menjadi dahan-dahan persoalan baru.

   Pada pokok pohon sawo itulah Seruni baru berani mengadu. Layaknya di depannya adalah makhluk manusia dengan jari-jari tangan, sepasang kaki, juga kepala dengan piranti telinga yang bisa mendengar keluhan Seruni.

   “Perempuan itu katanya telah isi delapan minggu. Karena itulah, maka ia terpaksa menikahinya. Entahlah, Nak. Aku ragu pada bagian ‘terpaksa’ yang dikatakannya.”

   Lalu pohon sawo menggugurkan helai-helai daunnya. Menghikmati kesedihan Seruni. Reranting yang terbelah ke arah-arah terserah bagai tangan dengan jari-jemarinya yang terulur demi memberi Seruni pelukan menentramkan. Layaknya tunas kepada induk semang.

   Sejatinya Seruni sendiri sudah terbiasa dengan kepergian dan kehilangan. Kepergian ayah ibu yang dijemput usia senja. Juga kepergian seseorang dengan meninggalkan luka paling dalam.  Entah di mana seseorang itu sekarang. Di pelukan seorang wanita dengan beberapa buah hati yang lucu-lucu. Atau masih saja berganti dari pelukan wanita yang satu kepada wanita yang lain. Ketika itu Seruni masih berwujud seorang gadis timur yang lugu.

   “Segera setelah pulang dari rantau, akan kutemui orang tuamu,“ kata seseorang tersebut waktu itu. Tapi sampai hitungan bulan lewat kepada tahun, ia tak kunjung datang. Pun meski sebagai selentingan kabar. Kota besar telah menelannya bulat-bulat.

   Dan sekarang, kepergian suaminya bagai penggenapan jatah duka yang harus Seruni tanggung selama rentang kehidupan. Meskipun hanya empat hari dalam seminggu, Seruni bahkan merasa bagai kehilangan lelaki itu sepenuhnya. Terlebih dengan sesuatu yang madunya siapkan dalam beberapa bulan ke depan. Sesuatu yang Seruni tunggu-tunggu juga, tapi tak kunjung mendatanginya.

   “Meski kau belum bisa memberikan keturunan, tidak lantas suamimu begitu saja kawin lagi, Run. Kau berhak menolak. Jangan diam saja. Mas Panca yang kecanduan minum-minum saja, aku mencak-mencak. Apalagi ini masalah perempuan. Masalah rasa,” geram Soimah yang ketika itu dibawakannya seplastik buah sawo tua, sembari berbelanja.

   Mulut perempuan bertahi lalat di jidat itu tak henti ngedumel seiring dengan tangannya yang cekatan merobek koran. Mewadahi cabe keriting, tomat sayur, juga biji-biji ketumbar. Tapi tidak kemiri. Yang kemarin dibeli Seruni masih sisa sebiji.

   Seruni tidak menyahut, hanya tersenyum getir. Seperti biasa, ia hanya diam saja. Sejujurnya ia memang ingin marah. Ingin mengumpat suaminya dan bahkan pernah berniat menikamnya dengan sebuah belati.

   Seruni telah mengabdikan seluruh hidup hanya untuk suaminya. Sungguh tidak adil apabila sesuatu yang dibaktikan seluruh menerima timbal balik yang hanya separuh. Separuh waktu. Separuh hati. Seruni benci sekali dengan kenyataan harus berbagi.

   Tetapi, sebuah bayang kenangan berkelebat di kepalanya. Meminta Seruni tetap bungkam. Sejatinya sikap diamlah yang telah menyelamatkannya. Karenanya, beberapa kepahitan tetap rapat tersembunyi dalam ruang ingatan serba gelap.

***  

   “Kau tidak usah sedih, Nduk. Kelak kau akan bertemu lelaki baik dan bisa punya anak lagi,” kata Mbah Tum. Seruni masih meringis kesakitan. Ibunya membantunya dengan mengelus-elus bagian perutnya.

   Ayah Seruni menerima gumpalan berwarna merah dari tangan Mbah Tum. Lantas membungkusnya dengan kain kafan. Bergegas ke belakang rumah, meski hari begitu gulita. Terdengar denting cangkul beradu keras dengan tanah liat. Pagi harinya, lelaki paruh baya itu pergi ke pasar. Pulangnya membawa bibit pohon sawo. Lalu turut menanamnya di atas tanah yang digalinya semalam. (*)

REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==