Curhat tentang Makhluk Sosial

Bayangkan semut atau serangga lainnya. Mereka hidup dalam koloni dengan harmoni yang luar biasa. Setiap individu dalam koloni memiliki peran yang jelas dan mereka bekerja sama tanpa pamrih demi kebaikan bersama. Semut-semut itu membangun sarang, mencari makanan, melindungi koloni dari ancaman – semuanya dilakukan dengan kebersamaan yang tak tergoyahkan.

Sedangkan kita, manusia, memang dikenal sebagai makhluk sosial, tapi ada sisi lain dari kita yang seringkali lebih dominan – sisi egois dan tidak peduli dengan orang lain. Di satu sisi, kita bisa berbicara tentang pentingnya kerja sama dan kepedulian, tetapi di sisi lain, banyak dari kita yang lebih mementingkan diri sendiri.

Lihatlah sekelilingmu, betapa banyak orang yang berlomba-lomba meraih kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan orang lain. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, tak jarang kita lebih memilih berpaling, dengan berbagai alasan yang kita anggap masuk akal. Kita sering merasa tersentuh oleh penderitaan orang lain, tapi hanya sebatas perasaan tanpa tindakan nyata.

Aku sering bertanya-tanya, kenapa manusia bisa begitu? Mungkin karena kita punya kesadaran dan pemikiran yang lebih kompleks, yang membuat kita bisa memikirkan diri sendiri lebih dari yang lain. Berbeda dengan semut yang seakan-akan lahir dengan insting untuk selalu mengutamakan koloni di atas segalanya.

Kadang, aku iri pada serangga-serangga itu. Mereka hidup dalam kesederhanaan namun penuh dengan solidaritas yang tulus. Mereka tak perlu bertanya apa itu makhluk sosial, karena mereka sudah menjalankannya tanpa berpikir dua kali. Sedangkan kita, manusia, harus berusaha keras mengingatkan diri kita sendiri tentang pentingnya peduli dan bekerja sama, dan seringkali, kita masih gagal melakukannya.

Jadi, ketika ditanya apakah manusia benar-benar makhluk sosial, jawabanku tetap sama: kita memiliki potensi untuk itu, tapi kita juga memiliki sisi gelap yang sering menghalangi kita menjadi makhluk sosial yang sejati. Kita masih punya banyak pelajaran yang harus dipelajari dari semut dan serangga tentang arti sesungguhnya dari kebersamaan dan kepedulian.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==