Dari Teh, Artie Bercerita Tentang Politisasi Bisnis Sampai Titik Nol Manusia

Politisasi Bisnis di Balik Tanaman Teh

Pada bab pertama novela ini, Artie membuka cerita dengan gemparnya kematian juragan perkebunan teh yang dermawan, Juragan Samhadi. Melalui karakter yang dilekatkan oleh Artie pada Samhadi inilah, napas politik mulai terhirup pembaca.

Gemar membagikan sembako di saat-saat tertentu bagi para buruh perkebunannya, tetapi tidak kunjung menaikkan upah bagi buruh-buruhnya membuat saya mungkin juga pembaca mempertimbangkan satu hal seperti, Setiap hal baik ada maksud tertentu di tangan penguasa?

Politisasi dalam dunia bisnis mungkin pilihan kata yang pas untuk saya katakan. Persaingan bisnis dalam dunia teh di novela ini bisa dibilang sinema kecil bagi orang-orang yang hidup jauh dari perkebunan teh.

Teh memiliki cara pendistribusian khusus agar tak kalah dari persaingan dagang, dan mengurus Teh tak bisa disamakan dengan mengurus sawah atau ladang jagung. Di sini, Artie mematahkan pemikiranmu tentang siapa yang piawai memainkan permainan politiknya ia akan menang. Tidak. Lewat tokoh Burnomo stigma itu patah. 

Artie berikan pembanding kelicikan keluarga Juragan Samhadi sebagai keluarga pertama dengan hadirnya tokoh Burnomo sebagai keluarga ketiga (ini anggapan saya saja karena bagi saya ia muncul sebagai pembuka kedok Juragan Samhadi). Burnomo seorang ahli teh yang menjalankan bisnis dengan kecerdasan dan keilmuannya pada dunia teh.

Burnomo dalam novel itu digambarkan sebagai seorang pebisnis yang tak pernah bersaing kotor, tidak menerabas jalan pintas, tetapi sukses bertahan pada persaingan bisnis yang seperti kita tahu jika berkaca dari Samhadi, selalu ada unsur politik di dalamnya. 

Selain bercerita perihal politisasi bisnis, rupanya Artie juga mengajak pembaca untuk masuk ke dalam sisi kemanusiaan yang terabaikan. Arti bercerita bagaimana manusia bisa unggul pada sesuatu sekaligus bisa berada di titik nol dalam hidupnya. Jika kau jelajahi jalan cerita novela ini, kau akan semakin yakin bahwa setiap orang akan menemukan titik nol dalam hidupnya. Tak peduli melarat ataupun kaya raya. 

Titik Nol Antara Dua Keluarga

Kalau mengingat akan tokoh ini, saya teringat betapa kemiskinan sudah tak lagi mengejutkan bila adanya menjadi sebab manusia berada di titik terendahnya. Titik nol. Itulah yang dirasakan Raslan, yang saya anggap sebagai keluarga kedua dalam novela ini. Kehidupan Raslan sebagai buruh Juragan Samhadi yang tidak sejahtera lama-lama membawanya menuju titik nol itu.

Hidup di titik nol membuat diri Raslan menjadi manusia yang sangat jahat baginya sendiri. Padahal, kejahatan berupa kebohongan yang ia lakukan semata untuk niat baik kepada Sri istrinya dan Ida, putri sulungnya. Sangat jauh berbeda dari keluarga ketiga. Burnomo, yang kebohongannya hingga berbuntut kematian Nora, istrinya dan Redit anak semata wayangnya. 

Titik terendah manusia selalu menimbulkan penyesalan. Akan tetapi, Artie juga mengingatkan akan keadilan: dunia siang dan malam. Setelah berada di titik rendah mereka, budi yang lebih baik didapatkan Burnomo usai kematian Nora dan Redit. Begitu pula watak jujur Raslan yang kembali setelah melawan ketakutannya mengakui kebohongan yang sungguh ia lakukan dengan sangat terpaksa itu.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi orang-orang yang memiliki minat di dunia bisnis, mahasiswa, masyarakat biasa dan tentunya pencinta teh. Lewat buku ini pula saya tahu cara menikmati teh yang berbeda dan budaya minum teh ala manca negara.

Kekurangan dari buku ini nyaris tak tampak sama sekali karena kelebihan-kelebihan yang menutupinya. Bagi saya, hanya alur yang apabila buku ini baru dibaca sekali, kau akan sedikit merasa melompat. Selain itu, adanya sub-bab bagi saya pun tak penting-penting sangat. 

Identitas Buku

Judul: Risalah Teh dan Tiga Keluarga

Penulis: Artie Ahmad

Penerbit: Falcon Publishing

Tahun terbit: Juni 2024

Tentang Penulis: Solu Erika Herwanda Mahasiswi yang lahir dan tinggal di Madiun, di Ponorogo kuliah saja. Menulis cerpen yang bisa dibaca di Lensasastra.id, Matamata.co, Cerpen_Sastra, Ngewiyak.com dan menulis resensi yang bisa dibaca di Radar Lawu.

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang satu minggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku,  penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==