“Itu foto pas pertandingan salah satu turnamen Fal. Gue masih SMP saat itu,” jelas Dika memberitahu tanpa aku tanya.

Aku jadi penasaran bagaimana perjalanan Dika Firdan menjadi atlet badminton yang berprestasi dan banyak menjuarai ajang perlombaan badminton. Guruku di Rumah Dunia – Gol A Gong – juga pernah jadi juara badminton penyandang cacat se-Asia Pasific tahun 1985-89.

“Dika, gimana ceritanya bisa jadi atlet badminton?” tanyaku sambil melihat medali yang menggantung.

“Mamah gue yang pertama kali ngenalin badminton ketika kelas 2 SD. Saat itu, setiap pulang sekolah gue sering main keluar rumah gak jelas sampe sore. Dari situ mamah gue nanya ke temannya yang anaknya latihan badminton.Mamah mau gue main badminton juga. Itu tanpa gue tau, mungkin supaya mainnya jadi produktif,” jelas Dika mengenang masa kecilnya.

“Pertama kali ke GOR badminton juga gak dikasih tau, mamah gue bilangnya mau beli hotwheels (mainan mobil- Red). Eh, malah diajak ke GOR badminton di Alun-alun Kota Serang. Dari situ lah gue dikenalin orahraga bulu tangkis,” tambahnya.
Awalnya Dika mengaku biasa saja melihat orang bermain badminton, tidak ada yang terlihat spesial di matanya. Namun, tanpa sepengetahuannya, mamahnya mendaftarkan Dika ke Kurniawan Badminton Club (KBC).

Dua hari setelahnya, Dika diajak ke GOR badminton lagi oleh mamahnya. Awalnya menolak, tapi pada akhirnya Dika mau juga karena ada temannya. Dika dikenalkan oleh Kurniawan—peltih KBC dan dilatih pertama kali oleh Abu Hanifah.


