Eksistensi Bukit Kapur Arosbaya dan Keunikan Pahatannya

Bukit Kapur yang Sudah Dipahat_ Annisa Fatkhiyah Sukarno

Oleh: Annisa F

Tidak hanya kulinernya yang lezat, destinasi wisata alam di Kota Bangkalan Madura juga tidak kalah menawan. Membuat saya antusias untuk cepat memutuskan akhir pekan kali ini, berkunjung ke Bukit Kapur Arosbaya bersama beberapa teman. 

Bukit ini dikenal dengan keindahan bentuknya yang unik seperti tangga-tangga yang menjulang, dan warna coklat kemerahan yang menyatu dengan alam sekitar. Menariknya, bentuk uniknya ini berasal dari pahatan manusia selama bertahun-tahun yang didiamkan perlahan. 

Lambat laun berubah warna coklat kehitaman, hingga lumutan. Memang, tempat ini sudah sejak lama dijadikan area pertambangan batu kapur yang hingga sekarang masih beroperasi. Selain sebagai area pertambangan batu kapur, eksistensinya kini juga menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Bangkalan yang sayang untuk dilewatkan. 

Perjalanan Menuju Bukit Kapur Arosbaya

Dari arah Surabaya, kami menggunakan kendaraan pribadi langsung melintasi jembatan Suramadu. Sebab transportasi umum untuk menuju ke bukit ini terbilang susah karena akses yang terbatas. 

Para Pengunjung yang Mulai Berdatangan_ Annisa Fatkhiyah Sukarno
Para Pengunjung yang Mulai Berdatangan/Annisa Fatkhiyah Sukarno

Kami mengikuti jalur utama untuk menuju Kota Bangkalan, lalu ke Bukit Kapur Arosbaya. Melewati kawasan Aer Mata, yaitu tempat pemakaman keluarga raja-raja Bangkalan dan beberapa tokoh penting lainnya. Tempat ini juga ramai dikunjungi oleh para wisatawan luar kota untuk berziarah bersama rombongan. 

Sepanjang perjalanan, kami hanya mengandalkan Google Maps. Untungnya, kami tidak tersesat, sesekali kami melihat papan penunjuk jalan untuk memastikan jalurnya benar. Kurang lebih sekitar 1,5 jam lamanya, kami tiba di bukit Arosbaya yang terletak di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. 

Masih satu Kecamatan dengan area pemakaman Raja. Para peziarah biasanya akan mengunjungi bukit ini setelah ke makam para Raja karena memang lokasinya masih berdekatan. Bukit Arosbaya bisa menjadi alternatif objek wisata menarik untuk dikunjungi saat berada di kota ini. 

Cukup membayar Rp5.000 untuk tiket masuk wisata per orang, lalu membayar parkir Rp10.000 kami bisa berkeliling sepuasnya. Hampir dua jam kami menjelajahi dari ujung ke ujung hingga melihat para pekerja yang tengah sibuk merapikan batu bata kapur menggunakan alat manual seperti pisau. 

Untungnya ada warung yang sudah buka, kami pun mampir sejenak untuk minum kopi dulu sembari bercerita ngalor-ngidul dengan ibu-ibu penjual yang ternyata rumahnya tidak jauh dari sini.  Kami datang memang terlalu pagi, makanya masih sepi sekali belum ada pengunjung lain selain kami.

Warung di Bukit Arosbaya_ Annisa Fatkhiyah Sukarno
Warung di Bukit Arosbaya/Annisa Fatkhiyah Sukarno

“Harusnya jangan terlalu pagi, masih sepi, datang sekitar pukul 11.00 WIB paling pas, mbak” ucap Ibu penjual dengan meyakinkan. 

“Sebab cahaya akan masuk di sela-sela bukit, kalau ingin foto-foto jadi tampak lebih bagus” tambahnya sembari menunjukkan satu jempol pada kami.

Bukit Arosbaya dan Daya Tariknya

Rupanya, potensi wisata alam yang memanfaatkan lokasi pertambangan batu kapur di Bangkalan ini menjadi daya tarik tersendiri untuk ditelusuri. Keberadaannya tidak hanya sebagai lokasi pertambangan batu kapur semata, tapi juga sebagai objek wisata yang memang masih nampak sederhana. Namun, justeru di sini letak keunikannya. 

Saat berjalan perlahan menyusuri tempat ini, sejujurnya kami tidak berekspektasi apa-apa. Hanya ingin melihat lebih dekat saja. Kami tidak hanya menyaksikan bukit kapur dengan pahatannya yang unik di segala sisi seperti tangga-tangga acak dengan warna yang berbeda-beda tiap bukitnya. Ada yang berwarna kemerahan, dan coklat kehitaman. 

Kolam Ikan di Area Bukit Arosbaya_ Annisa Fatkhiyah Sukarno
Kolam Ikan di Area Bukit Arosbaya/Annisa Fatkhiyah Sukarno

Menurut penjaga wisata, bukit ini sering digunakan untuk mengabadikan momen Prewedding. Jika pengunjung ingin melakukan sesi ini, diharapkan izin terlebih dahulu pada petugas yang sedang berjaga. Sebab ada retribusi yang berbeda dari pengunjung lainnya. 

Bukit ini seolah menjadi saksi masyarakat setempat, bahwa keindahan alam yang tercipta dari proses alam dan tangan manusia, bisa menjadi sebuah anugerah dan memiliki makna yang kuat bagi warganya. 

Selain digunakan sebagai material bangunan juga sebagai batu nisan, atau penanda makam yang banyak dipasang di makam-makam umum hingga makam raja di daerah sini. Hal ini sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang telah tiada dengan ukiran ornamen khas Madura. 

Batu kapur Arosbaya kini telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya lokal masyarakat setempat. Bahkan kami bisa melihat secara langsung di seberang pintu masuk area bukit, ada makam keluarga yang menggunakan batu kapur sebagai penandanya.  

Menjadi Lokasi Pertambangan Batu Kapur hingga Kini

Jika dilihat sekilas, mungkin orang akan mengira bahwa pahatan yang ada di bukit ini ada secara alami. Nyatanya, pahatan yang dibentuk ternyata dikerjakan secara manual oleh tangan manusia yang semakin lama, semakin menyatu dengan pemandangan sekitar. 

Sebelum dibuka untuk wisata, dulunya area ini digunakan sebagai lokasi pertambangan batu kapur. Para pekerjanya sendiri sebagian wanita dan kebanyakan laki-laki yang tinggal di area tak jauh dari bukit, untuk bisa mencukupi berbagai kebutuhan hidup keluarganya.

“Biasanya saya dibayar Rp1.000 untuk satu batu kapurnya. Itu sudah termasuk menata dengan rapi ditumpuk-tumpuk. Kadang bisa dapat uang Rp60.000 sampai Rp100.000 tergantung dari pesanan” ungkap salah satu seorang Ibu pada kami yang tengah merampungkan garapannya.

Menuju Area Belakang Bukit_ Annisa Fatkhiyah Sukarno
Menuju Area Belakang Bukit/Annisa Fatkhiyah Sukarno

Kegiatan pertambangan di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan ini memanfaatkan bahan mineral berbasis batu gamping. Dibuat dengan cara batu kapur dipahat, lalu dicetak kotak sesuai dengan ukuran. 

Batu kapur tersebut digunakan sebagai bahan dasar membuat bata kapur untuk berbagai kebutuhan konstruksi bangunan, seperti membuat pondasi rumah hingga gedung, dan bangunan lainnya yang membutuhkan pondasi. 

Para pekerjanya juga tidak memanfaatkan alat canggih atau alat berat yang bisa membantu efisiensi dalam bekerja. Mereka lebih memilih alat tradisional saja seperti pisau, dan linggis dodos. Namun, justru inilah menghasilkan bentuk unik yang berbeda-beda di setiap bukit kapur yang ada di sini. 

Para Pekerja yang Tengah Menambang Batuan Kapur_ Annisa Fatkhiyah Sukarno
Para Pekerja yang Tengah Menambang Batuan Kapur/Annisa Fatkhiyah Sukarno

Seiring berjalannya waktu, pahatan-pahatannya pun menciptakan pola alami artistik yang membuat Bukit Arosbaya terlihat seperti karya seni. Tak heran jika pola yang terbentuk dari pahatan tangan manusia ini bisa menjadi daya tarik tersendiri, yang terlihat natural menyatu dengan alam. 

Terlebih dengan semburat warna coklat kemerahan, membuat rona batu kapur menjadi lebih menarik. Hal ini karena adanya kandungan mineral besi yang ada di dalam batu kapur, menghasilkan warna kemerahan atau kecoklatan pada dinding-dinding bukit kapur.

Berkunjung ke tempat ini membuat kami tidak hanya menyaksikan perbukitan kapur yang kokoh menjulang. Kami juga melihat lebih dekat ada simbol kuat antara manusia, dan alam. Banyaknya pahatan yang terlihat di bukit ini dibuat oleh tangan-tangan perkasa dari pekerjanya yang menaruh banyak harapan hidupnya. Untuk terus berjuang menghidupi diri sendiri, dan keluarganya.

Batu Kapur yang Sudah Dicetak dan Ditata_ Annisa Fatkhiyah Sukarno
Batu Kapur yang Sudah Dicetak dan Ditata/Annisa Fatkhiyah Sukarno

Sayangnya, tempat ini kurang begitu terawat. Terutama bagian kolam ikan yang berada di area depan dipenuhi air hijau lumut. Padahal, masih ada ikan-ikannya walaupun tidak banyak jumlahnya. Mungkin karena ini lokasi tambang batu kapur sehingga para pegiat wisata belum terlalu mengurusnya secara maksimal, hal ini cukup disayangkan. 

Semoga eksistensi Bukit Arosbaya bisa terjaga dengan baik sebagai lokasi pertambangan batu kapur. Tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan agar tetap berkelanjutan. 

Tentang Penulis: Annisa F, seorang Content Writer yang menyukai lagu-lagu John Mayer.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling di luar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==