Acara yang dihadiri oleh perwakilan komunitas yang ada di Flores Timur itu berjalan santai dan terbuka. Silvester Petara Hurit memantik diskusi dengan menyarankan agar perwakilan komunitas yang hadir untuk lebih berani dalam mengungkapkan keinginan atau mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap belum berpihak kepada para pegiat kreatif yang tergabung dalam berbagai komunitas.
“Kehidupan kota bisa dilihat maju atau tidaknya karena aktif atau tidaknya orang kreatif bergiat meramaikan kota,” kata Silvester.

Pandangan kritis juga disampaikan oleh Magdalena Eda Tukan dari Simpasio Institute yang mengkritisi keterlibatan pemerintah yang minim dalam beberapa acara kebudayaan yang diinisiasi oleh komunitas.
“Pertemuan seperti ini penting untuk memecah sekat antara komunitas dan pemerintah untuk menemukan jalan terbaik untuk kebaikan bersama menghidupkan ruang publik di Flores Timur,” ujar Magdelena.

Sedangkan Berto Tukan selaku perwakilan Kemendikbudristek RI mengungkapkan proyek perluasan ruang publik ini belum ada model yang pakem dari pemerintah. Menurutnya, pemerintah lebih para fasilitator dan menerima ide dan gagasan dari hasil FGD bersama komunitas.

Selain itu Thomas Kristian dari Kemendikbudristek juga menyampaikan bahwa Flores Timur menjadi salah satu pilot proyek untuk program Perluasan Ruang Publik ini bersama 5 daerah lain di Indonesia.
Acara yang dibuka dengan makan bersama di pinggir pantai diakhiri dengan foto bersama . Mulai sekitar jam 13.00 WITA berakhir sampai sekitar 16.30 WITA saat senja berangsur-angsur tenggelam di sisi Barat.



