Akan tetapi Nuri berada di perantauan, jauh dari keluarga dan sanak saudara. Saat ini hanya satu orang terdekatnya di kota, yaitu pacarnya.

Mungkin dilatarbelakangi oleh alasan tersebut, Nuri tidak pernah berstatus single. Habis putus dari si A, dia cepat-cepat menerima cinta si B. Belum lama putus dari B, dia gegas menjalin hubungan dengan C. Begitu seterusnya dan seterusnya. Nuri memang tipe orang yang tidak betah dalam kesendirian.

Sayangnya pacar-pacar Nuri sebelumnya tidak pernah ada yang memahami keinginannya perihal bakso tersebut. Untungnya pacar terbaru Nuri, pacar yang ke dua puluh satu, sangat jauh berbeda.

Ya jelas saja. Riko sejatinya adalah sahabat karib yang akhirnya berhasil menyandang status sebagai kekasihnya Nuri. Meski baru pacaran selama seminggu, Riko tahu betul apa yang diingini pujaan hatinya itu.

Maka petang hari itu ketika Nuri terlihat sedang suntuk gara-gara habis dimarahi atasan, Riko langsung membelokkan sepeda motornya ke sebuah warung bakso.

Wajah Nuri yang semula berselimut mendung, langsung berubah cerah.

“Warung bakso baru ya?” tanya Nuri sambil menggandeng tangan Riko.

Sambil mengangguk, Riko menjawab. “Iya. Baru buka tiga hari ini.”

“Oh … pantas saja…,” gumam Nuri. Lalu Nuri bertanya lagi. “Kamu tahu dari mana soal warung bakso ini?”

“Biasa … dari sosmed.”

“Apa kamu sudah pernah mencobanya?”

Sambil menggeleng, Riko menjawab. “Belum. Aku ingin mencobanya bersamamu.”

Mendengar gombalan semacam itu, tak urung kedua pipi Nuri bersemu merah. Namun wajah merah malu-malu itu berganti merah marah sesaat setelah mereka sampai di muka warung bakso.

Alih-alih segera masuk, Nuri justru bersikap frontal. Dia menarik lengan Riko dengan kasar. Memaksanya kembali ke parkiran.

“Ada apa?” Riko kebingungan.

“Kamu tadi tidak baca?”

“Baca apa?”

“Plang nama warung baksonya! Jelas-jelas di sana tadi tertulis Warung Bakso B2.”

Sekonyong-konyong Nuri terluka. Dia telah dilukai oleh ekpektasinya kepada Riko, juga ekpektasinya kepada warung bakso baru itu.

“Maaf aku lupa menjelaskan soal….”

Nuri memotong, “Bisa-bisanya masalah halal haram tidak kau utamakan!”

“Tenang … tenang dulu. B2 itu bukan babi!”

“Lha terus?” kejar Nuri, masih kesal.

“B2 itu maksudnya banyak dan berkah,” jelas Riko sambil tersenyum kecut.

Nuri melongo. Dia benar-benar kehabisan kata-kata. Akahkah dia akan kembali ke Warung Bakso B2 meski sudah kadung menanggung malu? (*)

Tentang Penulis: Endang S. Sulistiya, menetap di Boyolali. Alumnus FISIP UNS. Tergabung dalam Grup DSI (Diskusi Sahabat Inspirasi). Menulis cerpen bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Cerpennya telah banyak dimuat berbagai media.

FIKSI MINI hadir dua mingguan mulai Mei 2024. Terbit hari Kamis. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat  menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==