Fiksi Mini: Wisuda Karya Shinta Harini

Beberapa saat berlalu, namun Raka masih terpana. Ia tak mampu menahan diri untuk tidak mendongak, mengagumi langit-langit Auditorium yang menjulang tinggi, dengan lampu hias raksasa yang tergantung tepat di tengah-tengahnya. Tatapannya berhenti cukup lama di sana, sebelum akhirnya berpindah ke deretan wisudawan dan wisudawati yang duduk di seberang para undangan—kebanyakan adalah orang tua: ayah dan ibu mereka.

Gilang adalah salah satu dari para wisudawan itu. Perasaan bangga membuncah di dada Raka, hingga tiba-tiba pandangannya kabur oleh air mata. Ayah dan ibu mereka memang tak akan pernah bisa menghadiri wisuda anak bungsu mereka, namun Raka telah berjanji bahwa ia akan datang demi adik semata wayangnya itu.

Seorang anak laki-laki berdiri di tengah panggung. Raka mengerutkan kening. Bukankah sekarang saatnya ijazah diserahkan kepada para wisudawan? Sedang apa anak itu di sana?

Suasana menjadi hening ketika denting piano mulai terdengar. Ah, pikir Raka. Rupanya anak itu akan bernyanyi. Bolehlah, asal jangan lama-lama. Hanya ada satu alasan Raka berada di tempat ini: menyaksikan adiknya, yang mengenakan toga, menerima ijazah tanda kelulusan dari fakultas hukum di salah satu universitas terbaik negeri ini.

Dari kejauhan, Raka melihat anak laki-laki itu menarik napas panjang dan mulai bernyanyi. Raka sama sekali tidak menyangka kejernihan suara yang terdengar—bagai milik para malaikat dari surga.

Pandangan Raka berubah kosong. Pikirannya melayang ke kenangan tentang ayah dan ibunya, yang tak akan pernah bisa ia gapai lagi, namun tak akan pernah terhapus dari sanubarinya. Perlahan, Raka menyeka air matanya.

Gilang Pranadipta.”

Raka menegakkan duduknya saat adiknya dipanggil naik ke panggung. Rektor universitas menyerahkan ijazah kepada Gilang, memindahkan rumbai di topi wisudanya ke kiri, dan menjabat tangannya. Gilang tersenyum ketika berbalik menghadap para hadirin. Ingin rasanya Raka melompat dari kursi, tapi tentu saja itu tak mungkin. Ia hanya bisa tersenyum, menyengir selebar-lebarnya hingga rasanya wajahnya hampir terbelah dua. Ia sangat gembira ketika Gilang berhasil menemukannya di tengah kerumunan. Gilang nampak bersinar dengan senyum bahagia, sebelum semua itu sirna—berganti dengan kerutan di dahinya.

Hati Raka terasa hancur. “Gilang?” gumamnya, nyaris tak terdengar.

Andai saja Raka tahu alasan mengapa Gilang tampak bingung sejenak. Ayah dan Ibu mereka tampak duduk di kedua sisi Raka saat Gilang melempar pandangan ke arah kakaknya itu.

oOo

TENTANG PENULIS: Saya adalah seorang guru bahasa Inggris yang bersemangat dalam menginspirasi siswa untuk mencintai bahasa dan sastra. Di luar kelas, saya menikmati menulis cerita dan mengeksplorasi
imajinasi saya. Kucing adalah teman setia saya, dan saya sangat menyukai kehadiran mereka.
Inspirasi untuk pertama kali menulis secara serius datang dari karakter Frodo dalam serial Lord
of the Rings, yang menunjukkan keberanian dan ketabahan dalam menghadapi tantangan. Saya
berharap dapat terus mengembangkan keterampilan menulis saya dan berbagi cerita yang
inspiratif dengan orang lain.

FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==