Oleh: Justicia
Green Day, band punk rock asal Amerika, tampil perdana di Coachella 2025 sambil menyuarakan dukungan untuk Palestina secara lantang dan berani.
Coachella 2025, yang diadakan pada bulan April tanggal 11–13 dan 18–20, menjadi debut pertama Green Day. Mereka membuka panggung dengan membawakan lagu hits paling populer mereka, “American Idiot”.
Lirik Lagu yang Diubah Billie Joe
Di tengah lagu, Billie Joe Armstrong mengubah lirik “I’m not a part of a redneck agenda” menjadi “I’m not part of a MAGA agenda”, sebagai bentuk kritik terhadap Presiden Amerika saat ini, Donald Trump, dengan slogannya “Make America Great Again” yang dianggap mengesampingkan isu-isu sosial dan hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Namun, yang paling menarik terjadi saat mereka menyanyikan lagu “Jesus of Suburbia” dan mengganti lirik aslinya “Running away from pain when you’ve been victimized” menjadi “Running away from pain like the kids from Palestine”. Perubahan lirik ini langsung disambut meriah oleh para penonton.
Aksi tersebut menjadi bentuk vokal dukungan terhadap Palestina. Ini bukan kali pertama Green Day atau Billie menyuarakan dukungannya. Dalam lagu “Peacemaker”, mereka juga menyebut Gaza dalam liriknya.
Pergantian lirik “Jesus of Suburbia” ini sebelumnya juga terjadi di konser When We Were Young Festival di Las Vegas tahun 2023, di mana lirik “We are the kids of war and peace, From Anaheim to the Middle East” diubah menjadi “We are the kids of war and peace, From Vegas to Palestine”.

Green Day dan Dukungan Terhadap Palestina Lewat Musik
Setahun kemudian, saat konser di Mexico, Corona Capital 2024, mereka kembali mengubahnya menjadi “We are the kids of war and peace, From Palestine in the Middle East”. Meski terlihat sepele, penyebutan “Palestina” yang sering tergantikan oleh istilah seperti Gaza, Hamas, atau Israel, kini disebutkan secara spesifik oleh Green Day. Ini bisa memengaruhi pemahaman publik tentang Palestina, serta memberikan kesadaran terhadap isu yang sedang terjadi.
Sebelum Coachella bulan April ini, saat konser di Malaysia, mereka juga menerima bendera Palestina dari penonton, mengenakannya di punggung sambil bernyanyi, dan mengubah beberapa lirik menjadi berkaitan dengan Gaza.
Pada 2024, dalam sebuah wawancara dengan 102.1 The Edge mengenai opini dan media sosial, Billie menyatakan bahwa ia tidak ingin membuat unggahan terkait isu tersebut di media sosial karena takut dimanfaatkan sebagai propaganda. Meski begitu, Green Day tetap termasuk salah satu band yang vokal dalam menyuarakan isu-isu politik, baik di Amerika maupun di dunia, melalui musik dan penampilan mereka.
“American Idiot”, salah satu hits mendunia mereka, adalah bentuk protes terhadap pemerintahan George W. Bush yang memulai perang dengan Timur Tengah. Lagu “Wake Me Up When September Ends” juga menyentuh peristiwa 9/11 di Amerika.
Semoga Green Day tetap menjadi band rock yang otentik dan kritis, sebagaimana mestinya—menggunakan media dan platform besar mereka untuk menyuarakan dukungan dan menyebarkan kesadaran terhadap berbagai isu melalui musik dan penampilan.



