Oleh: Zaeni Boli
Sejak tahun 2018, Flores Timur telah dinobatkan sebagai Kabupaten Literasi. Namun, hal tersebut tidak sejalan dengan indeks literasi yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional. Berdasarkan data dalam aplikasi SIM Perpusnas, Flores Timur masih berada dalam kategori merah dalam indeks literasi.
Dalam rentang lima tahun terakhir, semangat literasi sebenarnya telah tumbuh. Sayangnya, perkembangan tersebut belum sepenuhnya terdata atau terdokumentasi dengan baik. Masih banyak inisiatif positif yang belum tercatat secara resmi.
Upaya untuk meningkatkan kualitas dan indeks literasi sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah pusat, misalnya, menghadirkan Pojok Baca Digital di Pelabuhan Larantuka. Selain itu, baru-baru ini, Flores Timur juga telah memiliki Perpustakaan Daerah yang baru. Bahkan, program 1.000 buku bacaan untuk perpustakaan dan taman baca di tahun 2024 telah diterima oleh para pengelola taman baca dan perpustakaan di Flores Timur.
Upaya-upaya tersebut masih perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya dari penggiat literasi atau pemerintah daerah, tetapi juga dari masyarakat umum agar indeks literasi Flores Timur dapat meningkat. Salah satu langkah sederhana yang diharapkan adalah semakin banyaknya masyarakat yang datang ke perpustakaan atau taman baca dan melakukan aktivitas literasi dengan cara mereka masing-masing. Selain itu, penting untuk tetap bersinergi, berjejaring, serta aktif mendokumentasikan dan memasukkan data literasi ke dalam SIM Perpusnas.
Terakhir, pemerintah daerah perlu mendorong masyarakat Flores Timur untuk memanfaatkan Perpustakaan Daerah yang telah dibangun dengan dana yang tidak sedikit. Forum TBM Flores Timur telah menunjukkan contoh nyata dengan rutin menggelar kegiatan di Perpustakaan Daerah, meskipun perpustakaan tersebut belum sepenuhnya dibuka untuk umum.




