Ya, di desa Bantala terdapat sebuah sekolah penggerak yang aktif dan produktif memberikan ruang-ruang belajar sesuai tuntutan zaman dan juga tetap menjaga nilai-nilai tradisi yang ada pada desa tersebut.

Sekolah tersebut adalah SMPK St Isodorus Bantala. Saat ini menjadi salah satu sekolah terbaik di Flores Timur dengan nilai indeks literasi yang baik. Sekolah yang bukan berada di tengah kota namun lewat giat dan geliat yang mampu menginspirasi banyak sekolah yang merindukan perubahan dan beradaptasi pada Kurikulum Merdeka Belajar.

Keinginan kuat untuk datang mengujungi Sekolah ini adalah karena Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) . Kita tahu program ini dirancang Kemendikbudristek sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk mendorong tercapainya Profil Pelajar Pancasila. Adapun program ini diterapkan dengan menggunakan paradigma baru, yakni melalui pembelajaran berbasis projek.

Projek P5 mereka luar biasa, yakni pelestarian tenun ikat pada peserta didik dengan pendekatan belajar yang menyeluruh lewat target 20 hari pengerjaan projek yang disusun serius melalui tahapan-tahapan yang konkret dan terarah.

Sebagai tamu yang datang berkunjung menyaksikan langsung proyek P5 ini, saya diajak untuk berkenalan bagaimana mereka berproses lewat penjelasan guru pembimbing mereka, yaitu Maria Nini Sogen dari mulai pengenalan tentang tenun ikat, tahap prawawancara, kemudian turun wawancara, lalu mempresentasikan kembali hasil temuan di lapangan berlanjut pada proses penenunan.

Saya datang pada hari ke 18 yang mana pada hari itu sebagian besar hasil tenun dari 27 peserta didik dengan 20 peserta didik telah mampu menenun dan hasil dari tenunan mereka hampir jadi. Hari ke 18 adalah hari terakhir pengerjaan dan akan dipresentasi kembali oleh peserta didik yang terlibat sebagai bukti hasil dari P5 Mereka.

Pada kesempatan tersebut, Frans Berek sebagai Kepala Sekolah SMPK St Isodorus Bantala menyampaikan, “Projek P5 ini bukan sekadar soal apa yang mereka bisa hasilkan, namun ada yang lebih penting dari proses ini. Tentunya menjaga warisan budaya dan tradisi yang ada pada Desa Bantala, yakni nilai-nilai yang tumbuh pada peserta didik yaitu karakter disiplin, sabar, kerjasama dan gotong royong.”

Ya, nilai-nilai ini sesungguhnya yang sedang tumbuh di sekolah ini dan sedang mekar-mekarnya. Hal baik ini perlu dijaga oleh seluruh masyarakat di lingkungan sekolah, baik itu kepala sekolah, guru, tenaga pendidik bahkan masyarakat sekitar sekolah.

Oleh karena itu pula projek ini turut melibatkan secara aktif dengan menghadirkan tiga nara sumber dari dua Desa bertetangga, yakni Desa Bantala dan Lamatou sebagai mentor ahli dari pembelajaran bermakna tenun ikat.



